Oleh: Juariah Anzib,S.Ag

Penulis Buku Menapaki Jejak Rasulullah Dan Sahabat


Beragam kebencian dan kedengkian dihadapi  Rasulullah saw ketika  mendakwahkan Islam. Namun, beliau terima dengan kesabaran dan ketabahan. Dendam kaum musyrik Quraisy kian hari kian bertambah ganas. Pembaikotan dan pelanggaran perjanjian sering dilakukan mereka. 

Demikian diantara sikap  yang dilakukan seorang tokoh Yahudi bernama Ka'ab bin Al-Asyraf. Dalam bukunya Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri menyebutkan, lelaki musyrik ini berasal dari kabilah Thai' Bani Nabhan. Di balik kesyirikannya, penyair hebat ini suka berbuat baik kepada orang-orang Arab sebagai kedok kejahilannya. 

Ketika mendengarkan  kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar yang menewaskan  beberapa pemuka Quraisy, Ka'ab mencari cara untuk balas dendam kepada Rasulullah saw. Kebenciannya bukan hanya terhadap baginda Nabi, tetapi semua kaum muslim menjadi imbasnya. 

Manusia rendah ini sering mengolok-olok Rasulullah di setiap kesempatan. Dia menyanjung-nyanjung kaum Quraisy sebagai kaum yang hebat. Ka'ab selalu menyebut-nyebut kematian kaumnya sebagai korban perang Badar yang dimasukkan ke sumur Badar. Ia merasa harga diri dan kaumnya terinjak-injak. Lalu, mengajak kaumnya membunuh Rasulullah saw. 

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakhfuri mengisahkan, si pendendam ini pandai berakting. Ia sering melantunkan syair-syairnya sambil menangis untuk mengundang perhatian kaumnya. Ia ingin membangkitkan kembali harga diri dengan membakar kedengkian terhadap Rasulullah saw. Mengajak kaumnya menyerang kaum muslimin demi membalas kekalahan di perang Badar. 

Menanggapi hal tersebut tentu akan membahayakan kaum muslimin. Untuk itu,  Rasulullah saw mengajukan usulan kepada para sahabat, siapa yang berani menghadapi Ka'ab?  Karena, dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Ada beberapa  sahabat yang menyanggupi tugas tersebut. Mereka adalah Muhammad bin Muslamah, Ubbad bin Bisyr, Abu Na'ilah, Al-Harits bin Aus dan Abu Abbas bin Jabr. Tim pemberani ini dipimpin oleh  Muhammad bin Maslamah. 

Adapun skenario pembunuhan telah disusun oleh Muhammad bin Maslamah. Ia menyusun strategi dengan berpura-pura berpihak kepada Ka'ab dan kaumnya. Ia menjebak Ka'ab dengan berkata, "Sesungguhnya Muhammad telah meminta sedekah kepada kami, namun dia juga telah banyak menolong kami." Kata-kata tersebut seolah-olah tidak suka kepada Rasulullah saw, sehingga Ka'ab menjawab, "Kalian pasti merasa bosan menghadapinya."

Muhammad bin Maslamah berkata, "Sesungguhnya kami telah mengikutinya dan kami tidak akan meninggalkannya sebelum tahu kemana dia akan membawa urusannya." Untuk itu, berikan kami pinjaman beberapa gantang. Ka'ab berkata, “Boleh, berikan aku jaminannya.” Muhammad bin Maslamah bertanya, "Jaminan apa yang kamu inginkan?" Ia menjawab, "Wanita-wanita kalian." Atau "anak-anak kalian."  Muhammad Al-Muslamah berkata, "Bagaimana mungkin?"

Lalu, diantara mereka ada yang bertanya, untuk pinjaman beberapa gantang memang harus ada jaminan? "Bagimana kalau jaminannya senjata kami?" Ka'ab menyetujuinya. Tak lama setelah itu, Abu Na'ilah melakukan hal yang sama. Sambil bersyair ia berkata, "Celaka wahai Abu Abul Asyraf. Aku datang untuk suatu keperluan dan meminta agar dirahasiakan." Ka'ab menjawab, "Akan kutepati." "Kedatangan Muhammad membawa bencana bagi kami, karena bangsa Arab menyerang kami hingga keluarga kami terlantar, semua susah." Aku bersama beberapa yang lain sependapat denganmu. Mereka juga akan menemuimu. Begitulah kata Abu Na'ilah. 

Waktu yang direncanakan pun tiba. Dalam bukunya, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakhfuri menyebutkan, di malam yang terang bulan,14 Rabiul Awal tahun ketiga Hijriah kaum muslim beraksi. Rombongan berkumpul dan diantarkan Rasulullah saw sampai ke Baqi' Al-Gharqad. Rasulullah saw bersabda, "Pergilah atas nama Allah. Ya Allah, tolonglah mereka." Demikian doa Rasulullah saw. 

Rombongan berhenti di dekat tempat tinggal Ka'ab. Dengan setengah berbisik, Abu Na'ilah memanggil Ka'ab agar keluar. Mendengar bisikan menyayat tersebut, istri Ka'ab berfirasat seakan suara panggilan tersebut seperti meneteskan darah. Namun Ka'ab berkata kepada istrinya, mereka saudaraku Muhammad bin Marsalah dan saudara susuanku Abu Na'ilah. Lalu, ia keluar dengan penampilan rapi dan harum baunya. 

Mangsa akan segera tertangkap, Abu Na'ilah berkata, jika dia tiba, aku akan memeluk dan mencium kepalanya. Maka kalian langsung menikam dari belakang dan memenggalnya. Aksi pun dijalankan sesuai skenario. Ketika Ka'ab keluar, mereka pun ngobrol dengan akrab, hingga dia tidak curiga. Dengan rayuan lembut, Abu Na'ilah mengajaknya ke celah bukit,  Ka'ab pun masuk perangkap. Ia terpedaya dengan kata-kata manis Abu Na'ilah yang memujinya sambil berkata, "Aku belum pernah marasakan harumnya rambutmu. Kalau boleh aku ingin mencium aroma rambutmu. Ka'ab menjawab,  "Boleh." Kemudian Abu Na'ilah memeluk dan mencium rambut Ka'ab sampai tiga kali, untuk memberi waktu  kepada yang lain agar segera bergerak. Ia juga berkesempatan menyusupkan tangannya ke rambut Ka'ab. Abu Na'ilah memberi isyarat sambil berteriak keras, "Diamlah engkau wahai musuh Allah." 

Ka'b terkejut dalam posisi tidak dapat bergerak karena rambutnya dijambak kuat. Sedang para rekan yang sudah menanti tiba-tiba bergerak ke tubuh ka'b sambil menghujamkan  tombak, namun tak ada yang mengenainya. Secepat kilat Abu Na'ilah memungut belati dan menancapkan ke punggung Ka'b hingga tembus ke bawah. Ka'b berteriak dengan suara yang sangat keras dan setelah itu ia tewas. Teriakannya membuat orang sekitar berdatangan dengan membawa pelita. 

Ka'ab berhasil dibunuh dan kaum muslim kembali ke Madinah dengan membawa kepala Ka'ab. Setiba di Baqi' mereka bertakbir hingga terdengar oleh Rasulullah saw. Beliau keluar dan bersabda, "Wajah-wajah beruntung." Mereka menyerahkan penggalan kepala Ka'ab kepada Rasulullah saw. 

Mengetahui pimpinannya terbunuh, kaum kafir Quraisy tidak bisa berkutik dan mereka ketakutan. Peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa Rasulullah saw tegas dalam membasmi kejahatan yang membahayakan dan meresahkan kaum muslimin. Orang-orang Quraisy diam dan berkeinginan memenuhi isi perjanjian yang telah dilanggar selama ini. Kematian Ka'ab telah meringankan beban kaum muslim yang menyusahkan mereka selama ini. 

Begitulah ketegasan Rasulullah saw terhadap orang-orang yang mengusik ketenangan kaumnya, yang mengganggu ibadah dan dakwah beliau dalam mensyiarkan agama suci.

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top