Oleh Hamdani Mulya


lamurionline.com -- Perjalanan panjang yang hampir memakan waktu 7 jam dari Geudong, Kabupaten Aceh Utara menuju Kota Banda Aceh seakan tidak membuat tubuh saya lelah. Perjalanan saya bersama isteri dan anak-anak yang hampir seharian itu begitu asyik. Sekitar jam 09.00 WIB pagi hari saya berangkat dari Geudong dan tiba di Pango, Kecamatan Ule Kareng, Banda Aceh menjelang magrib. Banyak mobil melaju beriringan di jalan Medan-Banda Aceh. Saya harus mengemudi sendiri dengan sangat hati hati.

Menjelang magrib hari itu, Senin 20 Maret 2023 saya tiba di Banda Aceh melewati jembatan layang Pango. Jembatan itu mirip seperti jalan tol, terlihat indah dan rapi tertata dengan bunga-bunga di pinggir jalan.

Setelah mencari-cari alamat akhirnya kami pun bertemu dengan rumah saudara di Pango, lalu kami menginap di rumah itu selama 2 malam.

Alamat menuju rumah itu persis di lorong samping Potret Galeri, di situlah alamat redaksi sebuah majalah yang sering memuat karya-karya yang saya tulis. Potret Galeri dipimpin oleh Bapak Tabrani Yunis seorang pensiunan guru, jurnalis, pengusaha barang-barang kerajinan tangan, dan seorang relawan kemanusiaan.

Sekretariat redaksi Potret Galeri rupanya juga merupakan sebuah toko besar yang menyediakan berbagai barang antik dan klasik. Di toko ini mengoleksi berbagai cenderamata dan sauvenir tradisional khas Aceh dan barang antik yang terbuat dari rotan yang dikirim dari Jawa. Jika kita masuk ke dalam toko, kita dapat melihat topi, pot bunga, alat-alat rumah tangga, aksesoris ruang tamu, dan benda karya seni ukir lainnya.

Setelah saya bertemu sejenak menjelang magrib itu, kami menentukan jadwal bahwa nanti malam kami akan duduk silaturrahmi.

Saat yang saya tunggu pun tiba. Malam itu remang-remang lampu kota gemilang Kota Banda Aceh menemani malam saya bersama pak Tabrani. Kami bercerita tentang awal pertemanan kami melalui media sosial. Yang pada akhirnya tulisan-tulisan yang saya kirim kepada Pak Tabrani secara daring beliau muat di majalah Potret online. Sehingga pertemanan kami pun semakin akrab.

Perteman kami melalui media online yang sudah berlangsung beberapa tahun, akhirnya berlangsung baik dan kami dapat bertemu empat mata malam itu.

Pak Tabrani berbagi pengalamannya saat menjadi guru, relawan berbagi sepeda untuk anak yang kurang mampu, bahkan beliau membagi cerita tentang karier kepenulisannya menjadi penulis opini pendidikan di harian Serambi Indonesia. Pengalaman berharga itu semoga menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih maju dalam mengarungi kehidupan.

Tak terasa malam pun semakin larut, namun hiruk-pikuk kota besar belum pun surut. Saya dan anak-anak kembali ke rumah saudara untuk menginap.

Lawatan saya hari itu ke Banda Aceh sebenarnya untuk mengantar isteri saya untuk suatu keperluan yang penting di ibukota provinsi Aceh itu.

Namun moment itu juga saya gunakan untuk bertemu silaturrahmi dengan teman- teman penulis buku dan teman-teman alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Syiah Kuala. Bahkan saya juga sempat berkunjung ke Perpustakaan Aceh dan diberikan 10 eks buku berjudul Pengantin Tsunami oleh pihak perpustakaan. Buku yang saya tulis tersebut diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2022.

Banda Aceh sudah banyak kemajuan. Sangat berbeda dengan masa tsunami dulu. Hampir 19 tahun masa rekonstruksi pasca tsunami, Aceh kembali bangkit. Setelah dihentak gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Kini Banda Aceh kembali gemilang, sudah banyak bangunan dan jalan baru. Itu semua berkat usaha pemerintah diiringi doa rakyat. Namun kita jangan pernah melupakan bencana dunia itu. Sebagai pelajaran bagi manusia dalam mengarungi kehidupan ini.

Saya juga sempat bertemu dengan penulis Herman RN membicarakan buku yang saya tulis. Agar Pak Herman membantu menyunting sebuah buku yang sedang saya rampungkan. Pertemuan singkat itu berlangsung di kantor Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, USK.

Saya juga sempat bertukar cenderamata buku dengan cerpenis Farizal Sikumbang di sebuah warung di sudut kota Banda Aceh.

Setelah silaturrahmi dengan berbagai kalangan. Kami pun bertolak pulang ke Geudong, Aceh Utara. Pengalaman pertama menjalani hari "mak meugang" dalam perjalanan. Keesokan harinya kami menjalankan ibadah puasa.

Demikianlah catatan singkat ini. Semoga bermanfaat. "Menulis adalah mengukir sejarah dalam kenangan wajah zaman."

Ditulis menjelang berbuka puasa di Aceh Utara, 27 Maret 2023 M/ 5 Ramadhan 1444 H

Hamdani Mulya adalah penulis buku Pengantin Tsunami (2022), pegiat literasi, dan guru SMAN 1 Lhokseumawe.

SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top