Oleh: Hj. Supiati, S. Ag. M. Sos
Sekretaris PD IPARI Kota Banda Aceh
Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabda ini bukan hanya petunjuk spiritual, tetapi juga panduan sosial. Hati adalah pusat kehidupan manusia. Dari hati lahir keputusan, dari hati lahir tindakan, dan dari hati pula lahir peradaban. Bila hati rusak, tidak hanya individu yang terganggu, tapi seluruh tatanan masyarakat ikut berantakan.
Namun, kenyataan hari ini membuat kita bertanya: apakah hati-hati kita masih terjaga? Konflik yang terjadi di depan Gedung DPR/MPR Jakarta pada Senin (25/8) adalah gambaran nyata. Suara rakyat yang seharusnya lahir dari aspirasi, justru berubah menjadi amarah. Batu beterbangan, pelajar ikut terseret, dan teriakan kebencian menggema di jalanan. Apa yang sebenarnya sakit—apakah hanya keadaan sosial, atau justru hati manusia yang tidak lagi terkendali
Hati yang Lalai, Akar dari Kekacauan
Kerusuhan tidak lahir dari ruang kosong. Ia muncul dari hati yang lalai. Ketika hati dipenuhi keserakahan, kebencian, dan dendam, maka akal sehat ikut tertutup. Rakyat yang mestinya memperjuangkan hak dengan cara bijak, terjebak dalam pola marah yang destruktif. Pemimpin yang semestinya mengayomi justru menetapkan kebijakan yang menambah luka.
Keduanya—baik rakyat maupun pemimpin—pada akhirnya sama-sama korban dari hati yang tidak dijaga. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa hati adalah pusat kendali. Bila ia kotor, maka tindakan manusia akan kotor. Bila ia bersih, maka lahirlah perilaku yang menyejukkan. Sayangnya, banyak hati hari ini yang disibukkan oleh kepentingan sesaat, sehingga lupa pada kemaslahatan bersama.
Nurani yang Terluka, Kebijakan Tanpa Empati
Kemarahan rakyat tidak lahir tiba-tiba. Ia adalah hasil dari akumulasi kekecewaan. Saat rakyat berjuang memenuhi kebutuhan pokok, muncul kabar tunjangan pejabat dinaikkan hingga ratusan juta rupiah. Saat masyarakat resah dengan biaya pendidikan dan kesehatan, justru muncul anggaran yang tidak menyentuh kebutuhan mendasar.
Apakah kebijakan seperti ini lahir dari hati yang jernih? Ataukah dari hati yang sudah tertutup oleh kepentingan? Hati pemimpin yang sejati adalah hati yang mendengar, bukan sekadar menghitung. Jika hati pemimpin dipenuhi empati, ia tidak akan berani membuat keputusan yang melukai nurani rakyat.
Kebijakan yang lahir tanpa hati, ibarat pisau tajam tanpa sarung: melukai siapa saja yang disentuhnya. Dan luka itu bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kepercayaan. Sekali hati rakyat terluka, maka butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.
Menjaga Hati di Tengah Badai
Menjaga hati bukan berarti menutup mata dari realitas sosial. Justru hati yang terjaga adalah fondasi agar kita bisa menghadapi badai dengan tenang. Rakyat bisa menyampaikan aspirasi dengan santun, pemimpin bisa mengambil keputusan dengan bijak.
Caranya? Dengan kembali kepada sumber kekuatan rohani. Dzikir menenangkan amarah, doa melembutkan jiwa, tilawah Al-Qur’an menyucikan pikiran, dan majelis ilmu menghidupkan kembali nurani. Inilah benteng yang menjaga hati agar tidak larut dalam kekeruhan zaman.
Dalam masyarakat modern, banyak orang mengira solusi hanya ada pada sistem, undang-undang, atau teknologi. Padahal, jika hati manusia tetap kotor, maka sistem secanggih apa pun akan dirusak dari dalam. Sebaliknya, bila hati bersih, maka dalam keterbatasan sekalipun, masyarakat bisa tetap adil dan damai.
Hati Adalah Cermin Kehidupan
Hati adalah cermin dari kehidupan kita. Bila hati bersih, lahirlah masyarakat yang tenteram, pemimpin yang adil, dan ukhuwah umat yang kuat. Namun bila hati keruh, rusaklah relasi sosial, hilanglah kepercayaan, dan runtuhlah sendi-sendi persaudaraan.
Momentum Maulid Nabi Muhammad ﷺ, momentum kajian, atau peristiwa-peristiwa sosial yang kita alami seharusnya menjadi pengingat bersama: menjaga hati adalah tugas kolektif.
• Bagi rakyat: sampaikan aspirasi dengan hati yang lapang, tanpa kekerasan, karena kekerasan hanya melahirkan luka baru.
• Bagi pemimpin: dengarkan dengan hati yang jernih, jauh dari tamak dan kesombongan, karena amanah bukan sekadar jabatan, tetapi titipan dari Allah.
Meraih ridha Allah bukanlah perjalanan instan. Ia butuh mujahadah, latihan, dan kebersamaan. Namun, yakinlah: hati yang terjaga adalah kunci hidup bermakna di dunia, dan kebahagiaan abadi di akhirat.
🌿 Maka jagalah hati. Karena dari hati, lahirlah wajah kehidupan kita—baik sebagai rakyat, maupun pemimpin.

0 facebook:
Post a Comment