LAMURIONLINE.COM | BIREUEN
— Hari kedua pelaksanaan Manasik Haji Terintegrasi Tingkat Kabupaten dan Kecamatan Tahun 1447 H/2026 M berlangsung khidmat di Masjid Agung Sulthan Jeumpa, Minggu (8/2/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Bireuen ini fokus membedah realita kehidupan jamaah saat berada di Tanah Suci.

​Pada sesi pertama, pemateri Drs. H. Mukhlis memaparkan fase layanan dan ibadah jamaah di Mekkah pra-Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).

Ia menekankan bahwa kesiapan mental dan sikap dalam menghadapi dinamika di lapangan sama pentingnya dengan kesiapan fisik.

​Dalam pemaparannya, H. Mukhlis mengulas berbagai tantangan yang sering muncul, seperti jamaah tersesat, kondisi kesehatan yang menurun sebelum puncak haji, hingga keterbatasan waktu ibadah. Ia menegaskan bahwa Islam telah memberikan solusi melalui koridor fiqh.

​"Seluruh persoalan tersebut sudah ada solusi fiqhnya, termasuk penerapan rukhsah (keringanan) bagi jamaah yang memiliki uzur (halangan). Jadi, jamaah tidak perlu cemas berlebihan," jelasnya.



Selain aspek ibadah, H. Mukhlis juga mengingatkan pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari di pemondokan. Hal sederhana seperti penggunaan pendingin ruangan (AC) sering kali menjadi pemicu selisih paham.

​“Ada yang tidak tahan dingin karena kesehatan, ada yang sangat butuh AC. Di sinilah ego harus ditekan. Musyawarah dan saling memahami adalah bagian dari nilai ibadah haji yang harus dilatih sejak sekarang,” pesannya.

​Sementara itu, pada sesi kedua, jamaah menerima materi mengenai “Layanan dan Ibadah Selama di Mina” yang disampaikan oleh Tgk. H. Munajar. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kedisiplinan dan kepatuhan terhadap instruksi petugas.

​“Kami meminta seluruh jamaah haji Bireuen untuk patuh pada instruksi ketua regu maupun ketua rombongan. Ketertiban adalah kunci agar rangkaian ibadah di Mina dapat berjalan lancar dan aman,” ujar Tgk. H. Munajar.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top