Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Dunia kerja dan pendidikan modern sering kali diwarnai oleh kompetisi yang ketat, beban tugas yang menumpuk, dan ekspektasi tinggi yang berujung pada kelelahan mental atau burnout. Di tengah hiruk-pikuk pencapaian lahiriah tersebut, Ramadhan datang membawa jeda yang sangat dibutuhkan. Ibadah puasa bukan hanya soal menahan lapar, melainkan sebuah latihan untuk mengendalikan gejolak emosi dan menjaga ketenangan jiwa (thuma’ninah).Landasan utama dari kesehatan mental dalam Islam adalah kedekatan hamba dengan Penciptanya. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram." Ayat ini memberikan kunci bahwa solusi dari kecemasan dan stres bukanlah dengan jalan melupakannya, melainkan kembalinya jiwa kepada zikir dan refleksi.
Secara psikologis, puasa melatih kemampuan regulasi diri. Ketika seseorang mampu menahan diri dari kebutuhan dasar seperti makan dan minum demi ketaatan, ia sedang memperkuat otot kendali atas dorongan (impulse) emosionalnya. Penelitian modern juga menunjukkan bahwa puasa dan meditasi dalam ibadah, seperti salat Tarawih dan i’tikaf, dapat menurunkan kadar hormon stres dan meningkatkan fokus kognitif. Bagi seorang pelajar atau pendidik, ketenangan jiwa adalah syarat mutlak agar proses transfer ilmu dapat berjalan dengan efektif.
Rasulullah SAW bersabda, "Puasa itu adalah perisai. Maka janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berbuat jahil..." (HR. Bukhari). Kata "perisai" di sini memiliki makna luas, termasuk menjadi pelindung bagi kesehatan mental kita dari gangguan emosi negatif seperti amarah, rasa iri terhadap pencapaian orang lain, atau keputusasaan dalam belajar. Dengan menjaga lisan dan hati, kita menciptakan lingkungan belajar yang bersih dan positif.
Kesehatan mental dalam pendidikan juga berkaitan dengan konsep tawakkal. Setelah manusia berusaha maksimal, ia diajarkan untuk menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Sikap ini menghindarkan kita dari rasa depresi saat menghadapi kegagalan dan mencegah kesombongan saat meraih keberhasilan. Ramadhan melatih kita untuk ridha dengan ketentuan waktu dan ketetapan-Nya.
Mari kita manfaatkan Ramadhan 2026 ini sebagai momentum untuk melakukan detoksifikasi mental atau membersihkan diri dari toksin (racun) yang dapat membahayakan tubuh. Kurangi kebisingan informasi yang tidak perlu, perbanyak sujud yang panjang, dan jadikan Al-Qur'an sebagai teman dalam kesunyian. Dengan jiwa yang tenang, akal akan lebih jernih dalam menyerap ilmu dan lebih memahami hiruk-pikuk kehidupan, sehingga setiap tantangan akan terasa lebih ringan untuk dilalui.
Pendidikan yang sukses tidak hanya melahirkan otak yang cerdas, tetapi juga jiwa yang sehat dan stabil. Sebab, ilmu pengetahuan adalah cahaya, dan cahaya hanya akan bersinar terang di dalam hati yang jernih dan damai. Ingatlah sebuah hadits Rasulullah SAW: "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kaya jiwa" (HR. Bukhari dan Muslim).

0 facebook:
Post a Comment