Oleh: Supiati, S. Ag., M. Sos
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang istimewa. Waktu terasa lebih syahdu, doa lebih khusyuk, dan meja makan lebih semarak. Keluarga berkumpul saat berbuka, hidangan tersaji dengan penuh cinta, dan suasana religius menyelimuti ruang-ruang rumah. Namun di balik keberkahan itu, ada satu fenomena yang patut direnungkan secara jujur dan ilmiah: peningkatan sampah makanan selama bulan puasa.Secara ekologis, sisa makanan yang terbuang bukan persoalan sepele. Limbah organik yang menumpuk di tempat pembuangan akhir mengalami pembusukan tanpa oksigen (proses anaerob). Dari proses inilah dihasilkan gas metana (CH₄), salah satu gas rumah kaca yang memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam periode tertentu. Peningkatan emisi metana berkontribusi terhadap pemanasan global, perubahan iklim, serta meningkatnya intensitas bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem.
Dengan kata lain, sepiring nasi yang terbuang membawa dampak lebih luas daripada yang kita bayangkan. Ia mengandung jejak air yang digunakan untuk menanam padi, energi untuk memasak, pupuk, distribusi, serta tenaga manusia. Ketika makanan itu berakhir di tempat sampah, yang terbuang bukan hanya materi—melainkan juga amanah.
Dalam bahasa yang lembut namun tegas: mubazir bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan bentuk ketidakadilan terhadap bumi.
Larangan Berlebih-lebihan: Pesan Langit tentang Keseimbangan
Al-Qur’an mengingatkan dengan sangat jelas:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang adab makan, melainkan tentang prinsip keseimbangan hidup. Berlebih-lebihan membuka pintu pemborosan, dan pemborosan melahirkan kerusakan. Dalam ayat lain ditegaskan:
“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27)
Bahasanya tajam, karena pesan yang disampaikan sangat serius. Mubazir bukan hanya persoalan ekonomi rumah tangga, tetapi persoalan moral dan spiritual.
Ramadhan hadir sebagai madrasah pengendalian diri. Jika pada siang hari kita mampu menahan lapar dan dahaga karena Allah, mengapa pada malam hari kita justru gagal menahan dorongan konsumsi?
Hablum Minallah dan Hablum Minannas: Kesalehan yang Menyeluruh
Puasa memperkuat hablum minallah—hubungan vertikal dengan Allah. Ia melatih keikhlasan, kesabaran, dan kesadaran batin. Namun kesalehan tidak berhenti pada sajadah. Ia harus menjelma menjadi hablum minannas—hubungan sosial yang penuh empati dan tanggung jawab.
Dalam konteks kekinian, hubungan sosial juga mencakup tanggung jawab ekologis. Menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kehidupan bersama. Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30)—penjaga amanah, bukan perusak keseimbangan.
Maka, memilah sampah, mengurangi pemborosan, dan mengelola sisa makanan bukan sekadar tindakan teknis, melainkan wujud nyata dari kesadaran kekhalifahan.
Gas Metana dan Tanggung Jawab Keluarga
Sebagian besar sampah rumah tangga adalah limbah organik. Jika tidak dipilah, limbah ini akan menghasilkan metana dalam jumlah signifikan. Namun jika dipisahkan sejak dari rumah, sisa makanan dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan kembali.
Langkah sederhana yang bisa dilakukan keluarga:
• Mengambil makanan secukupnya saat berbuka
• Menyimpan sisa layak konsumsi untuk sahur
• Mengolah atau memanfaatkan kembali bahan makanan
• Memilah sampah organik dan anorganik
Perubahan besar selalu berawal dari kesadaran kecil yang konsisten.
Sedekah: Mengubah Potensi Sampah Menjadi Pahala
Ramadhan adalah bulan sedekah. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim).
Memberikan makanan sebelum ia menjadi sampah adalah sedekah yang menyelamatkan dua hal sekaligus: manusia dan lingkungan. Dalam hadis disebutkan:
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturahmi…”
(HR. Tirmidzi)
Memberi makan adalah amalan yang sangat dianjurkan. Maka sebelum makanan itu berubah menjadi limbah dan menghasilkan metana, alangkah lebih mulia jika ia berubah menjadi pahala.
Di sinilah keindahan Islam tampak nyata: etika lingkungan bertemu dengan ibadah sosial. Sedekah menekan pemborosan. Pemborosan berkurang, emisi metana pun menurun. Kebaikan spiritual beririsan dengan manfaat ekologis.
Menahan Hawa Nafsu: Akar dari Semua Perubahan
Inti puasa adalah mengekang hawa nafsu (tazkiyatun nafs). Nafsu modern sering berwujud konsumsi tak terkendali—membeli lebih dari yang dibutuhkan, memasak lebih dari yang sanggup dihabiskan.
Ketika seseorang mampu berkata, “Cukup,” ia sedang mempraktikkan kedewasaan spiritual. Dan kecukupan adalah fondasi keberlanjutan.
Ramadhan melatih kita merasakan lapar agar tumbuh empati kepada sesama. Namun empati itu semestinya meluas kepada bumi yang menanggung akibat gaya hidup berlebihan.
Ibadah yang Berdampak bagi Semesta
Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah undangan untuk menata ulang cara kita hidup—menguatkan hablum minallah, memperluas hablum minannas, dan meneguhkan amanah sebagai khalifah di bumi.
Menahan lapar adalah ibadah. Menahan diri dari berlebihan adalah kedewasaan. Mengubah potensi sampah menjadi sedekah adalah kemuliaan. Dan menjaga bumi dari kerusakan—adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Semoga Ramadhan kali ini bukan hanya membuat hati kita lebih bersih, tetapi juga membuat jejak kita di bumi ini lebih ringan dan penuh makna.
.jpg)
0 facebook:
Post a Comment