LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR - Umat Islam telah melalui bulan Rajab sebagai bulan pembersihan diri dan bulan Sya’ban sebagai momentum penyucian hati. Harapan dan doa berikutnya, semoga Allah Swt mengizinkan setiap hamba-Nya menyambut dan memasuki bulan suci Ramadhan dengan penuh kesiapan iman dan takwa.
Guru Dayah Babul Maghfirah Cotkeueung Aceh Besar, Tgk Suriadi, S.Pd.I, MA menyampaikan hal itu dalam Tarhib Ramadhan di Masjid Jamik Baitul Jannah Kemukiman Tungkop Darussalam, Aceh Besar, Minggu Subuh, (15/2/2026).
Ia menguraikan, Ramadhan merupakan bulan istimewa yang sarat dengan limpahan pahala. Dalam bulan ini, Allah Swt melipatgandakan setiap amal kebaikan. Ibadah sunnah dinilai seperti ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib dilipatgandakan hingga 70 kali lipat. “Ramadhan juga dikenal sebagai bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari api neraka,” ujarnya.
Secara historis, kewajiban puasa Ramadhan ditetapkan pada tahun kedua Hijriyah, ketika Rasulullah saw telah berada di Madinah. Perintah tersebut termaktub dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan bahwa puasa diwajibkan atas orang-orang yang beriman agar mereka bertakwa.
“Puasa Ramadhan diwajibkan kepada setiap Muslim yang beriman dan memenuhi syarat. Penentuan awal Ramadhan dilakukan dengan melihat hilal (rukyatul hilal). Jika bulan tidak terlihat, maka sebagaimana tuntunan Nabi Muhammad saw, umat Islam diperintahkan menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari,” ungkapnya.
Tgk Suriadi menjelaskan, selain menahan diri dari makan dan minum, Ramadhan juga merupakan momentum menghidupkan malam-malam dengan ibadah. Umat Islam dianjurkan minimal menghadiri shalat Isya dan Subuh berjamaah. Lebih utama lagi jika malam-malam tersebut diisi dengan berbagai ibadah sunnah seperti qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, zikir, dan doa.
Dalam meraih ridha Allah Swt, umat Islam perlus terus mendekatkan diri kepada majelis-majelis ilmu dan memperbanyak kepedulian kepada fakir miskin. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan solidaritas sosial dan penguatan empati.
Keteladanan sahabat Nabi, seperti Abu Dzar Al-Ghifari, menjadi inspirasi dalam mempersiapkan bekal menuju akhirat. “Di antara pesan hikmahnya dengan membiasakan bangun malam, menjaga lisan dengan berkata baik atau diam, membagi harta untuk kepentingan dunia dan akhirat, serta memperbanyak puasa dan amal kebajikan,” tambahnya.
Pada akhirnya, kata Tgk Suriadi, tugas setiap hamba adalah berusaha dengan sungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal saleh. Adapun hasil dan penilaian sepenuhnya menjadi wewenang Allah Swt.
“Ramadhan kesempatan emas mempersiapkan diri menuju kehidupan akhirat. Jangan sampai seseorang lalai hingga menjadi gelandangan di akhirat karena kurangnya bekal amal selama di dunia,” pungkas Penyuluh Agama Islam KUA Kutabaro ini. (Saifuddin A. Rasyid/Sayed M. Husen)

0 facebook:
Post a Comment