Firman Allah Swt:

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.”

وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

 “Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS Azzimar: 54-55)

Manusia kerap terjebak dalam rutinitas duniawi yang melalaikan. Kesibukan, ambisi, dan berbagai godaan kehidupan sering kali membuat hati menjadi keras dan jauh dari petunjuk Ilahi. 

Dalam konteks ini, firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 54–55 menjadi peringatan yang sangat mendalam: "Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya."

Ayat ini merupakan seruan yang tegas dan mendesak. Allah mengingatkan, kesempatan kembali kepada-Nya tidak selalu terbuka selamanya. Ada batas waktu yang sering kali tidak disadari oleh manusia. Azab atau ketetapan Allah bisa datang secara tiba-tiba, tanpa tanda-tanda yang dapat diprediksi.

Frasa “ittabi’u ahsana ma unzila ilaikum” (ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu) menunjukkan Al-Qur’an bukan hanya dibaca, tetapi diikuti dengan penuh kesungguhan. “Sebaik-baik” di sini mengisyaratkan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat pilihan-pilihan dalam segala aspek kehidupan: akidah, ibadah, akhlak, hingga muamalah.

Namun realitasnya, banyak di antara kita yang menjadikan Al-Qur’an sekadar simbol atau bacaan ritual, bukan sebagai pedoman hidup. Padahal ayat ini menegaskan urgensi untuk segera kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas kehidupan sebelum datang penyesalan.

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya agar segera kembali kepada-Nya dengan taubat. Ia menekankan bahwa mengikuti Al-Qur’an berarti melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. 

Ibnu Katsir juga mengingatkan, azab bisa datang secara tiba-tiba, baik di dunia maupun di akhirat, sehingga tidak ada alasan untuk menunda taubat.

Beliau menulis, ayat ini bentuk kasih sayang Allah, karena memberikan peringatan sebelum hukuman benar-benar datang. Ini menunjukkan pintu rahmat masih terbuka, tetapi tidak selamanya.

Sementara itu, Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an melihat ayat ini sebagai panggilan untuk membangun kesadaran spiritual. Ia menyoroti kata “tiba-tiba” sebagai gambaran kehidupan manusia sangat rapuh dan tidak pasti.

Menurut Sayyid Qutb, ayat di atas menggugah jiwa agar tidak terlena oleh dunia. Manusia harus selalu berada dalam kondisi siap, dengan hati yang hidup dan terhubung dengan wahyu. Mengikuti Al-Qur’an berarti menjadikannya sebagai sumber nilai dan arah hidup, bukan sekadar bacaan yang dilupakan setelah selesai dibaca.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menekannkan pada aspek psikologis manusia yang sering menunda-nunda kebaikan. Ia menggambarkan bahwa penyesalan selalu datang di akhir, ketika kesempatan sudah tertutup.

Hamka menjelaskan, ayat di atas mengandung peringatan keras agar manusia tidak menunggu hingga datangnya musibah atau kematian baru tersadar. Karena pada saat itu, segala penyesalan tidak lagi berguna. Oleh karena itu, mengikuti Al-Qur’an harus dimulai sekarang, saat kesempatan masih ada.

Tantangan mengikuti Al-Qur’an sekarang ini justru semakin besar. Arus informasi yang deras, gaya hidup materialistik, dan relativisme nilai sering kali menjauhkan manusia dari kebenaran hakiki. Banyak orang merasa cukup dengan logika dan pengalaman, tanpa merujuk kepada wahyu.

Padahal, ayat di atas mengingatkan bahwa satu-satunya jalan keselamatan dengan cara mengikuti petunjuk Allah secara utuh. Tidak selektif, tidak setengah-setengah. Karena kebenaran tidak bisa ditawar-tawar.

Jadi ayat di atas merupakan panggilan darurat bagi setiap manusia. Alllah Swt mengingatkan waktu terus berjalan dan tidak ada yang tahu kapan batasnya akan tiba. Maka tidak ada alasan menunda kembali kepada Al-Qur’an.

Sudah saatnya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan hanya simbol identitas. Membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya dalam setiap aspek kehidupan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketika azab atau ketetapan Allah datang secara tiba-tiba, tidak ada lagi kesempatan kedua. Yang tersisa hanyalah penyesalan. (Sayed M. Husen/berbagai sumber)

SHARE :

0 facebook:

 
Top