Oleh: Supiati, S.Ag., M. Sos

Sekretaris PD IPARI Kota Banda Aceh

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dengan orang lain. Sejak masa remaja hingga dewasa, seseorang mulai membangun relasi pertemanan, hubungan emosional, hingga hubungan yang mengarah pada pernikahan. Pada fase ini, keinginan untuk dicintai, dipahami, dan diterima menjadi bagian alami dari perkembangan manusia.

Perkembangan teknologi dan media sosial semakin memperluas ruang interaksi. Kedekatan dapat terjalin dengan cepat tanpa dibatasi jarak dan waktu. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Tidak semua hubungan yang menghadirkan rasa nyaman juga menghadirkan rasa aman.

Sering kali seseorang baru menyadari dirinya berada dalam hubungan yang tidak sehat setelah mengalami tekanan emosional, manipulasi, atau bahkan kekerasan. Yang lebih menyakitkan, luka tersebut justru dapat datang dari orang yang selama ini dipercaya.

Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya diajarkan bagaimana membangun hubungan, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk mengenali batas yang sehat dalam relasi.

Belakangan ini masyarakat kembali dikejutkan oleh berbagai kasus kekerasan yang melibatkan orang-orang terdekat. Salah satu kasus yang ramai diperbincangkan publik adalah kasus yang melibatkan Yuvita Tri Rezeki, yang menimbulkan keprihatinan sekaligus pertanyaan besar di tengah masyarakat. Kasus-kasus seperti ini menghadirkan kenyataan yang cukup menggugah: tidak sedikit tindakan yang merugikan justru dilakukan oleh orang yang sebelumnya memiliki kedekatan dengan korban.

Kondisi tersebut sering memunculkan pertanyaan seperti: "Mengapa korban begitu percaya?" atau "Mengapa tidak menyadari sejak awal?"

Namun pertanyaan semacam ini perlu ditempatkan secara hati-hati agar tidak berubah menjadi bentuk menyalahkan korban. Tanggung jawab tindakan kekerasan tetap berada pada pelaku. Hal yang lebih penting untuk dipahami adalah bagaimana seseorang dapat secara perlahan masuk ke dalam hubungan yang tidak sehat tanpa menyadarinya.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi psikologis dan literasi keagamaan bagi generasi muda. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua bentuk perhatian merupakan tanda kasih sayang yang sehat. Ada kalanya perhatian berubah menjadi penguasaan, dan kasih sayang berubah menjadi kontrol yang berlebihan.

Dalam psikologi hubungan dikenal istilah coercive control atau kontrol berlebihan dalam hubungan. Coercive control merupakan pola perilaku yang bertujuan mengendalikan kehidupan orang lain melalui manipulasi emosional, pembatasan kebebasan, ancaman, pengawasan berlebihan, atau menciptakan rasa takut.

Berbeda dengan kekerasan fisik yang terlihat secara langsung, coercive control sering muncul secara perlahan dan tersamar dalam bentuk yang tampak romantis.

Misalnya:

"Aku melarangmu pergi karena aku sayang."

"Aku hanya ingin tahu kamu sedang dengan siapa."

"Aku cemburu karena takut kehilangan."

Pada tahap awal, perilaku seperti ini mungkin dianggap bentuk perhatian. Namun ketika berkembang menjadi pengawasan berlebihan, pembatasan hubungan dengan teman dan keluarga, pemeriksaan media sosial, atau menimbulkan rasa takut, maka hubungan tersebut mulai kehilangan keseimbangannya.

Psikologi modern menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk dicintai dan diterima. Individu yang mengalami kesepian, kurang mendapatkan perhatian, atau memiliki kebutuhan emosional yang tinggi dapat menjadi lebih rentan membangun ketergantungan emosional.

Ketika ketergantungan mulai terbentuk, seseorang sering mengalami kesulitan menilai hubungan secara objektif. Tanda-tanda yang seharusnya menjadi peringatan mulai dianggap sesuatu yang normal.

Cemburu dianggap bukti cinta.

Larangan dianggap bentuk perhatian.

Kemarahan dianggap rasa takut kehilangan.

Padahal hubungan yang sehat seharusnya menghadirkan rasa aman, bukan rasa takut.

Menariknya, psikologi modern memiliki titik temu dengan ajaran agama. Dalam Islam terdapat konsep saddu dzari'ah, yaitu menutup jalan yang dapat membawa manusia pada kemudaratan. Konsep ini tidak hanya berbicara tentang larangan, tetapi juga pencegahan terhadap kemungkinan munculnya dampak buruk.

Karena itu Islam mengajarkan pentingnya menjaga adab pergaulan, menghindari khalwat, serta melibatkan keluarga dan lingkungan yang baik dalam proses membangun hubungan.

Jika dilihat dari sudut pandang psikologi, aturan tersebut memiliki makna perlindungan yang mendalam. Batas yang sehat membantu manusia agar tidak sepenuhnya mengambil keputusan berdasarkan dorongan emosional sesaat.

Pesan serupa juga ditemukan dalam agama lain. Dalam tradisi Kristen, hubungan dibangun atas kasih yang memuliakan sesama, bukan menguasai. Dalam tradisi Hindu dan Buddha, pengendalian diri dan kebijaksanaan dipandang penting agar hubungan tidak berubah menjadi keterikatan yang merusak.

Perbedaan bentuk ajaran tersebut pada dasarnya membawa pesan yang hampir sama: cinta membutuhkan kebijaksanaan.

Mencegah munculnya korban baru tidak cukup dilakukan setelah terjadi peristiwa yang menyakitkan. Pencegahan perlu dimulai melalui pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, serta penyuluhan kepada generasi muda.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Meningkatkan literasi tentang hubungan sehat sejak usia remaja.

2. Mengajarkan bahwa rasa sayang bukan berarti menguasai kehidupan orang lain.

3. Mendorong komunikasi terbuka antara anak, orang tua, guru, dan lingkungan.

4. Menguatkan pendidikan agama sebagai benteng moral dan pengendalian diri.

5. Mengajarkan generasi muda mengenali tanda bahaya hubungan yang tidak sehat, seperti pembatasan berlebihan, manipulasi emosional, ancaman, dan isolasi dari lingkungan sosial.

Pada akhirnya, manusia memang membutuhkan cinta dan perhatian. Namun manusia juga membutuhkan batas yang sehat. Psikologi dan agama tampaknya bertemu pada satu titik yang sama: cinta yang sehat bukanlah cinta yang menguasai, melainkan cinta yang menjaga dan memuliakan.

Mungkin sudah saatnya generasi muda tidak hanya diajarkan bagaimana menemukan seseorang yang mencintainya, tetapi juga diajarkan bagaimana mengenali seseorang yang menghormati, menjaga, dan memuliakan dirinya.*

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top