Oleh: Syahrati, S. HI., M. Si.
Penyuluh Agama Islam Bireuen
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi dambaan tertinggi bagi setiap Muslim di seluruh penjuru dunia. Menunaikan panggilan Allah SWT ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik biasa, melainkan sebuah rihlah spiritual yang menguras air mata, tenaga, harta, hingga kesabaran. Selama berminggu-minggu, para jamaah menanggalkan segala atribut duniawi mereka di hadapan Ka'bah, berwukuf di Arafah, dan melantunkan talbiyah dengan penuh ketundukan.Ketika seluruh rangkaian manasik haji telah usai, tibalah momen yang paling dinantikan oleh keluarga dan kerabat di tanah air, yaitu menyambut kepulangan para tamu Allah (dhuyufurrahman). Kepulangan jamaah haji selalu membawa rona kebahagiaan dan haru yang membuncah bagi siapa saja yang ditinggalkan.
Dalam tradisi Islam, momen kembalinya seseorang dari Tanah Suci bukan sekadar urusan seremonial atau ajang melepas rindu semata. Lebih dari itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk menyambut mereka dengan adab yang baik, rasa syukur yang mendalam, serta untaian doa yang penuh keberkahan.
Menyambut kepulangan jamaah haji dengan doa bukan sekadar tradisi tanpa dasar, melainkan memiliki tuntunan yang jelas dari para ulama terdahulu. Imam An-Nawawi dalam kitab monumental beliau, Al-Idhah fi Manasikil Hajj, menjelaskan secara rinci bahwa orang yang menyambut jamaah haji sangat dianjurkan untuk menjabat tangan mereka (khusus sesama jenis, yakni laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan) dan mengucapkan doa khusus.
Adapun lafal doa yang dianjurkan oleh Imam An-Nawawi adalah:
قَبِلَ اللهُ حَجَّكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ
Artinya: "Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti seluruh pengeluaranmu."
Jika kita telaah lebih mendalam, doa singkat ini sesungguhnya memiliki kandungan makna yang sangat luas dan mencakup tiga dimensi penting dalam kehidupan seorang Muslim setelah beribadah. Pertama, sebuah permohonan yang paling esensial, yaitu agar seluruh lelah, tangis, tawaf, sai, dan wukuf yang telah dilaksanakan diterima oleh Allah SWT sebagai haji yang mabrur. Sebab, tiada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.
Kedua, memohon ampunan atas segala dosa yang telah lalu dengan harapan jamaah haji tersebut kembali dalam keadaan suci, sebagaimana janji Rasulullah SAW bahwa orang yang hajinya mabrur akan kembali seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya.
Ketiga, sebuah doa yang sangat realistis dan penuh empati, yaitu memohon agar Allah SWT mengganti setiap harta dan pengorbanan materi yang telah dikeluarkan selama perjalanan. Allah Maha Kaya, dan Dia berjanji akan mengganti nafkah yang dikeluarkan di jalan-Nya dengan keberkahan yang berlipat ganda.
Doa yang dikutip oleh Imam An-Nawawi tersebut bersumber dari riwayat shahih melalui sahabat Ibnu Umar RA. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa ada seorang pemuda yang datang menemui Rasulullah SAW untuk berpamitan sebelum berangkat menunaikan ibadah haji. Mendengar niat mulia tersebut, Rasulullah SAW lantas mendoakan sang pemuda agar Allah membekalinya dengan ketakwaan, mengarahkan kepada kebaikan, dan mencukupkan segala kegelisahannya. Waktu pun berlalu, dan pemuda tersebut berhasil menyelesaikan ibadah hajinya dengan selamat.
Ketika ia kembali ke Madinah, Rasulullah SAW menyambutnya dengan hangat dan mendoakannya dengan kalimat yang sama seperti yang diajarkan Imam An-Nawawi di atas, yaitu memohon agar Allah menerima hajinya, mengampuni dosanya, dan mengganti seluruh pengeluaran yang telah berlalu.
Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa perhatian Rasulullah SAW begitu besar terhadap umatnya yang beribadah, baik saat mereka hendak pergi maupun ketika mereka telah kembali ke tanah air.
Selain mendoakan jamaah yang baru pulang, kita yang menyambutnya pun sebenarnya berkesempatan besar untuk mendulang berkah dan ampunan dari Allah SWT. Hal ini dikarenakan orang yang baru saja kembali dari Baitullah memiliki kedudukan yang mulia, dan doa-doa mereka diijabah oleh Allah SWT. Ada doa lain yang juga sangat dianjurkan untuk dibaca sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dosa jamaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jamaah haji ini."
Hadis ini menjadi penegas betapa besarnya kemuliaan seorang jamaah haji, di mana keberkahan spiritual yang mereka bawa dari Tanah Suci tidak hanya berdampak pada diri mereka sendiri, tetapi juga meluber kepada keluarga, sahabat, tetangga, dan siapa saja yang menyambut mereka dengan tulus lalu meminta didoakan sebelum mereka masuk ke dalam rumah.
*Adab Menyambut dan Menghidupkan Keberkahan
Agar momen penyambutan ini bernilai pahala dan tetap menjaga kenyamanan jamaah haji yang pasti merasa lelah setelah perjalanan jauh, ada beberapa adab praktis bernuansa naratif yang bisa kita maknai bersama. Kita dianjurkan menyambut mereka dengan penuh kegembiraan, menunjukkan wajah yang ceria, senyuman hangat, dan rasa syukur atas keselamatan mereka.
Prosesi jabat tangan dan pelukan hangat persaudaraan menjadi sarana penyambung silaturahmi secara fisik sembari lisan kita melafalkan doa-doa sunnah yang telah diajarkan Rasulullah. Setelah itu, sebelum mereka kembali disibukkan dengan urusan domestik atau kepuasan duniawi, mintalah dengan sopan agar mereka bersedia memohonkan ampunan untuk kita di hadapan Allah SWT.
Namun, di samping semangat berburu berkah, kita juga harus bijaksana untuk memberikan waktu istirahat yang cukup bagi mereka, mengingat perjalanan udara dan darat yang panjang pasti sangat menguras fisik dan stamina.
Menyambut kepulangan jamaah haji dengan adab dan doa yang mulia pada akhirnya adalah cerminan dari indahnya ukhuwah Islamiyah. Ketika ada keluarga, sahabat, atau tetangga kita yang kembali dari Tanah Suci, marilah kita hidupkan sunnah yang indah ini secara tulus. Kita sambut mereka dengan penuh sukacita, mengucapkan selamat, serta memanjatkan doa-doa terbaik tanpa mengesampingkan kenyamanan fisik mereka yang baru pulang.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah para jamaah haji, menjadikan mereka haji yang mabrur dan mabrurah, serta mengalirkan keberkahan, kedamaian, dan hidayah bagi keluarga serta masyarakat di sekitarnya. Dan semoga, lewat untaian doa yang kita pertukarkan, Allah SWT juga segera mengetuk hati kita dan memanggil kita semua untuk bisa menyusul jejak mereka bersujud di Baitullah. Wallahu a'lam bish-shawabi.

0 facebook:
Post a Comment