Oleh: Syahrati, M.Si.

Dosen Ekonomi Islam Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan yang paling banyak diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Program ini hadir dengan tujuan yang sangat mulia, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak, mencegah stunting, dan mempersiapkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan produktif di masa depan. Di tengah berbagai tantangan pembangunan sumber daya manusia, perhatian pemerintah terhadap pemenuhan gizi anak tentu merupakan langkah yang patut diapresiasi.

Dalam perspektif ekonomi, MBG merupakan bagian dari kebijakan fiskal, yaitu kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan penerimaan dan pengeluaran negara untuk mencapai tujuan pembangunan. Program ini termasuk kebijakan fiskal dari sisi pengeluaran negara karena dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Melalui program tersebut, pemerintah menggunakan anggaran publik untuk menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Secara teoritis, manfaat MBG tidak hanya dirasakan oleh siswa sebagai penerima makanan bergizi. Program ini juga berpotensi memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar dapat meningkatkan permintaan terhadap hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai produk lokal lainnya. Selain itu, pelaksanaan program membutuhkan tenaga kerja mulai dari proses pengadaan bahan baku, pengolahan makanan, distribusi, hingga pengawasan. Dengan demikian, MBG tidak hanya berpotensi meningkatkan kualitas gizi anak, tetapi juga membuka peluang kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat di tingkat lokal. Jika dikelola dengan baik, program ini dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus memperkuat rantai pasok pangan dalam negeri.

Namun, sebagaimana kebijakan publik lainnya, pelaksanaan MBG juga menghadirkan sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian. Di berbagai daerah mulai muncul keluhan mengenai meningkatnya harga beberapa bahan pangan yang digunakan dalam program tersebut. Tingginya permintaan dalam waktu yang bersamaan menyebabkan pasokan sejumlah komoditas menjadi terbatas sehingga harga cenderung meningkat. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah manfaat yang diterima sebagian kelompok masyarakat berpotensi menimbulkan beban tambahan bagi kelompok masyarakat lainnya?

Tantangan berikutnya berkaitan dengan efisiensi penggunaan anggaran. Di lapangan masih ditemukan makanan yang tidak habis dikonsumsi, kualitas menu yang kurang sesuai dengan selera siswa, serta makanan yang terbuang karena jumlah penerima manfaat tidak sesuai dengan tingkat kehadiran siswa di sekolah. Situasi seperti ini sering terjadi pada masa setelah ujian atau menjelang pembagian rapor ketika kehadiran siswa menurun. Jika kondisi tersebut berlangsung secara berulang, maka sebagian anggaran yang telah dikeluarkan berisiko tidak menghasilkan manfaat yang optimal.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah prioritas penggunaan anggaran negara. Dalam ilmu ekonomi dikenal konsep opportunity cost atau biaya kesempatan. Konsep ini menjelaskan bahwa setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi terhadap pilihan lainnya. Ketika pemerintah mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk satu program, maka terdapat kebutuhan lain yang mungkin harus dikurangi, ditunda, atau menunggu giliran untuk dipenuhi.

Pertanyaannya bukan apakah Program Makan Bergizi Gratis penting atau tidak penting. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana memastikan bahwa manfaat yang dihasilkan program tersebut benar-benar lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan. Pertanyaan ini menjadi penting mengingat masih banyak kebutuhan pembangunan lain yang juga membutuhkan dukungan anggaran, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, penguatan layanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga pembangunan infrastruktur dasar.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu bentuk intervensi negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Tujuan tersebut tentu patut diapresiasi, mengingat kualitas gizi memiliki hubungan erat dengan kesehatan, kemampuan belajar, dan produktivitas generasi mendatang.

Namun dalam perspektif kebijakan fiskal, setiap program yang menggunakan anggaran negara harus mampu menunjukkan manfaat yang sebanding dengan sumber daya yang dikeluarkan. Semakin besar anggaran yang dialokasikan, semakin besar pula harapan masyarakat terhadap dampak yang dihasilkan. Karena itu, efektivitas pelaksanaan, ketepatan sasaran, efisiensi penggunaan anggaran, serta kemampuan program dalam menjawab kebutuhan masyarakat menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.

Anggaran negara bukan sekadar angka dalam APBN, melainkan instrumen untuk menghadirkan kesejahteraan. Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan atau besarnya dana yang terserap, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup anak-anak Indonesia, memperkuat ekonomi masyarakat, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi pembangunan bangsa.

SHARE :

0 facebook:

 
Top