Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan
Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang berperan penting dalam mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur’an sejak usia dini. Keberadaan TPQ semakin meluas, baik di tingkat gampong, kemasjidan, hingga kecamatan, tidak hanya di Aceh tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia.Sejak berkembang pada awal 1990 TPQ di Aceh membawa perubahan signifikan melalui metode pembelajaran seperti Iqra’ yang praktis dan mudah dipahami. Metode ini terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan baca Al-Qur’an anak-anak, sekaligus memperkuat dasar-dasar keislaman.
Namun, di era globalisasi, tantangan yang dihadapi TPQ semakin kompleks. Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman, Pemred Gema Baiturrahman Juniazi Yahya menegaskan bahwa TPQ perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak. Perkembangan teknologi digital, terutama game online dan media sosial, telah menggeser minat anak-anak dari kegiatan belajar ke aktivitas hiburan yang cenderung melalaikan.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan krisis nilai moral pada generasi muda. Anak-anak menghabiskan banyak waktu dengan gawai, sehingga interaksi dengan pendidikan keagamaan semakin berkurang. Jika tidak diantisipasi, TPQ dapat kehilangan daya tariknya di mata anak-anak.
Oleh karena itu, TPQ dituntut untuk beradaptasi. Metode pembelajaran tidak boleh monoton, melainkan harus kreatif, interaktif, dan menyenangkan. Inovasi menjadi kunci agar TPQ tetap relevan, misalnya dengan memadukan pembelajaran Al-Qur’an dengan aktivitas edukatif, permainan, bahkan olahraga seperti bela diri untuk meningkatkan minat anak.
Lebih dari itu, penguatan TPQ tidak bisa dibebankan hanya kepada ustaz dan ustazah. Peran orang tua, masyarakat, dan pemerintah sangat menentukan. Pemerintah, khususnya, perlu hadir melalui kebijakan, dukungan anggaran, serta pengembangan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Fenomena lain yang patut menjadi perhatian adalah masih ditemukannya calon pemimpin yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an belum sepenuhnya menjadi prioritas dalam pembentukan karakter generasi. Padahal, membaca Al-Qur’an merupakan kewajiban dasar bagi setiap muslim, sekaligus pintu masuk untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam.
Narasumber lainnya, Sayed Muhammad Husen, menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga harus dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, TPQ perlu mengembangkan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya fokus pada bacaan, tetapi juga pada pemaknaan nilai-nilai Al-Qur’an.
Di sisi lain, kemajuan teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman semata. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Penggunaan aplikasi edukasi Al-Qur’an di gawai dapat menjadi alternatif untuk menarik minat anak, sekaligus mengurangi ketergantungan mereka pada game online.
Pengelolaan TPQ juga perlu ditingkatkan secara profesional. Setiap lembaga harus memiliki manajemen yang jelas, pembagian tugas yang terstruktur, dan dukungan sumber daya manusia yang kompeten. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
TPQ tetap memiliki peran strategis dalam membentuk generasi Qurani yang berakhlak mulia. Pendidikan Al-Qur’an bukan hanya kebutuhan spiritual, tetapi juga fondasi moral dalam menghadapi arus globalisasi yang kian deras.
Menyelamatkan generasi adalah tanggung jawab bersama. Melalui revitalisasi TPQ, kita harapkan lahir generasi qurani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam iman dan akhlak. Sebab, setiap anak adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.*

0 facebook:
Post a Comment