LAMURIONLINE.COM | BIREUEN – Peran Penyuluh Agama Islam tidak hanya sebatas menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada masyarakat. Di tengah tuntutan pengabdian yang semakin kompleks, penyuluh juga dituntut untuk terus belajar, membaca fenomena sosial-keagamaan, dan mengembangkan pengetahuan melalui kajian akademik.

Semangat tersebut tercermin dari capaian Tgk. Ishak, M.Pd., Penyuluh Agama Islam yang bertugas pada KUA Kecamatan Samalanga, Kementerian Agama Kabupaten Bireuen, yang berhasil meraih gelar doktor pada Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU).

Dalam disertasinya, Tgk. Ishak mengangkat kajian tentang strategi dayah dalam membangun budaya takzim santri. Penelitian tersebut berangkat dari realitas pendidikan dayah yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan adab dan penghormatan santri kepada guru.

Keterangan tersebut disampaikan Tgk. Ishak kepada media saat ditemui di KUA Kecamatan Samalanga, Rabu (9/9/2026).

Kajian ini berada dekat dengan konteks kehidupan keagamaan masyarakat Bireuen, khususnya Samalanga yang dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam tradisi pendidikan dayah di Aceh.

Sebagai seorang penyuluh yang sehari-hari berhadapan langsung dengan masyarakat melalui tugas di KUA Samalanga, pengalaman tersebut menjadi bagian dari ruang pengabdian sekaligus ruang belajar. Apa yang ditemui dalam kehidupan sosial-keagamaan tidak berhenti sebagai pengalaman lapangan, tetapi dapat dikembangkan menjadi gagasan dan kajian ilmiah.

Penelitian Tgk. Ishak menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan studi multisitus. Penelitian dilakukan pada dua lembaga pendidikan dayah dan menemukan bahwa budaya takzim dibangun melalui berbagai proses, antara lain keteladanan guru, pembiasaan, integrasi nilai adab dalam pembelajaran, pengawasan serta evaluasi.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan karakter tidak cukup hanya dengan menyampaikan nilai-nilai secara teoritis. Nilai tersebut perlu dihidupkan melalui keteladanan dan pembiasaan sehingga menjadi bagian dari perilaku santri.

Bagi dunia penyuluhan, capaian ini memberi pesan bahwa seorang penyuluh juga memiliki ruang yang luas untuk berkembang sebagai pembelajar dan penghasil pengetahuan. Penyuluh tidak hanya menyampaikan ilmu kepada masyarakat, tetapi juga dapat belajar dari masyarakat, membaca persoalan yang berkembang, kemudian mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermanfaat.

Capaian Tgk. Ishak juga menambah daftar penyuluh agama di Kabupaten Bireuen yang berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral. Sebelumnya, T. Faisal, yang juga berasal dari kalangan Penyuluh Agama Islam Bireuen, telah lebih dahulu meraih gelar doktor.

Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari perkembangan kapasitas sumber daya manusia penyuluh di Kabupaten Bireuen. Semakin kuat kapasitas keilmuan penyuluh, semakin besar pula peluang lahirnya pendekatan-pendekatan baru dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan agama di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar gelar akademik, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa tugas sebagai penyuluh dan aktivitas akademik dapat berjalan beriringan. Ruang penyuluhan dapat menjadi sumber inspirasi untuk penelitian, sementara hasil penelitian dapat kembali dibawa ke tengah masyarakat sebagai bagian dari penguatan pengabdian.(Syahrati)

SHARE :

0 facebook:

 
Top