Oleh: Muhibuddin Hanafiah

Dalam sebuah kunjungan survey penempatan mahasiswa KPM ke kantor Geusyiek Kopelma Darussalam (Senin, 14/09/2026), Ir Eddi sebagai Geusyiek Kopelma berbicara banyak tentang situasi terkini di “kerajaannya”. Sepanjang perbincangan kami pagi Senin itu, paling tidak ada tiga topik utama yang kami bicarakan, yaitu tentang mahasiswa, masjid kampus dan pedagang di atas trotoar jalan kampus. Sepanjang pembicaraan, saya menilai Pak Eddi memiliki wawasan yang luas terhadap situasi dan kondisi wilayah kerajaannya sehingga sangat tepat sebagai pemimpin “kerajaan” Kopelma Darussalam. Tipikal Kopelma Darussalam sebagai pusat pendidikan tinggi di Aceh, kampung para intelektual, akademisi dan masyarakat terdidik lainnya tidak mudah untuk mengurusnya. Namun Pak Ir Eddi ternyata bisa mengelolanya karena salah satu faktornya adalah bahwa ia memahami karakter masyarakat Kopelma Darusslam. 

Menurut Pak Eddi, Kopelma ini merupakan kampung yang unik. Karena di dalam kampus ada kampung dan di dalam kampung ada kampus. Bahkan di dalam satu kampung ini terdapat tiga perguruan tinggi (UIN, USK dan Dayah Manyang Tgk Chiek Pante Kulu). Oleh karena itu, sebenarnya menurutnya di kampung Kopelma ini paling tidak terdapat ”tiga kerajaan besar” yang masih aktif berkuasa (three in one), yaitu Geusiek Kopelma, rektor USK dan rektor UIN. Hal ini berarti bahwa untuk mengurus Kopelma Darussalam harus berjalan bersama, bila salah satu saja tidak sejalan maka pemerintahan Kopelma tidak berjalan efektif. Guesyik Kopelma sendiri tidak mampu menjalankan roda pemerintahan desa di Kopelma ini tanpa dukungan para rektor. Namun yang terjadi justru sebaliknya, inilah yang sering dialami oleh Pak Eddi, beliau seperti berjalan sendiri dalam memimpin warga Kopelma. Dalam beberapa kasus seperti masalah kebijakan penertiban mahasiswa, pengelolaan masjid kampus dan pedagang kaki lima, tidak jarang Pak Eddi harus berjuang sendiri. Ia menunggu dukungan dua rektor di wilayahnya akan tetapi harapan ini jarang terwujud. 

Pernah suatu ketika sekelompok mahasiswa asal Papua yang ngekos di Kopelma mengadakan upaca keagamaan di salah satu rumah kos yang mereka tempati. Dengan nyanyian disertai musik yang bervolume keras sehingga sangat mengganggu warga sekitar yang kemudian dilaporkan warga kepada Pak Eddi. Saat itu Pak Eddi merasa tidak bijak menyelesaikan perkara ini sendirian sehingga beliau melaporkan kasus ini pada salah seorang rektor. Namun bukan justru memberikan dukungan atau solusi bersama atas masalah yang dicetus oleh mahasiswanya, rektor malah buang badan dan masalah itu disarankan cukup diselesaikan oleh Pak Geusyiek sendiri saja. Kemudian demi ketentraman kehidupan warga akhirnya Pak Eddi menyelesaikan masalah mahasiswa tersebut dengan pendekatan lokal wisdom. Dengan berat hati harus ia akui bahwa sebenarnya masalah yang paling banyak menguras energinya selama menjadi kepala desa di Kopelma adalah perilaku mahasiswa yang menetap dan beraktivitas di lingkungan Kopelma Darussalam. Menurutnya yang paling banyak kasus itu adalah masalah pergaulan mahasiswa yang tidak mengindahkan norma agama, budaya Aceh dan etika sosial yang ada. 

Menyoal tentang masjid kampus, Pak Eddi bercerita bahwa beliau pernah berdialog dengan salah seorang mantan rektor UIN Ar-Raniry tentang bagaimana sebaiknya status masjid kampus itu. Mantan rektor UIN yang dimaksud Pak Eddi adalah alm Prof Warul Walidin AK, MA (Allahu yarhamhu), dimana suatu saat pernah mengutarakan pandangannya kepada Pak Eddi, menurutnya masjid kampus yang letaknya di pusat Kopelma Darussalam  sejatinya diberikan nama Masjid Kopelma Darussalam, bukan seperti nama yang dibuat oleh rektor USK sebelum periode sekarang secara sepihak, yaitu masjik jamik USK Kampus Darussalam. Menurut Prof Warul, nama masjid yang sekarang ini kurang mencerminkan kebersamaan antara USK, UIN dan kampung Kopelma. Padahal semua warga Kopelma mengetahui bahwa pembangunan masjid kampus ini adalah melibatkan civitas akademika USK dan UIN secara bersama-sama memberikan sumbangan dana bagi pembangunan masjid yang megah ini. Dosen dan karyawan sepakat untuk membantu pembangunan masjid melalui skema pemotongan gaji bulanan untuk disisihkan sehingga terbangunnya masjid yang representatif di Kopelma Darussalam. Demikian juga mahasiswa, dari UKT yang mereka bayarkan, ada bagian yang diperuntukkan untuk biaya pembangunan masjid kampus. Pak Eddi menyayangkan bahwa sampai saat ini usulan penamaan masjid kampus tersebut belum diindahkan oleh rektor USK periode sekarang. Sehingga seakan-akan masjid kampus itu hanya milik USK saja, [adahal sejatinya milik bersama. 

Terakhir masalah yang kami bicarakan adalah masalah penertiban pedagang kaki lima di sepanjang jalan Kopelma, baik di kawasan Rukoh, sekitar gedung pascasarja UIN dan Sektor Timur. Menurut Pak Eddi sudah lebih dari tiga pergantian rektor dan geusyiek Kopelma masalah penertiban ini tidak berhasil dilakukan. Seperti ada kekuatan besar yang selalu menghalangi pemerintahan Kota Banda Aceh untuk melakukan penertiban pedagang tersebut. Padahal sudah lama dirasakan kemudharatannya oleh warga pengguna jalan kampus. Namun setiap akan ditertipkan selalu saja ada pihak yang menggagalkannya. Akhirnya dalam sebuah rapat antara Walikota dengan kepala desa sekota Banda Aceh, Pak Eddi mencoba menyampaikan aspirasi warga Kopelma terhadap gangguan yang diakibatkan oleh pedagang kaki lima yang menyerobot trotoar jalan kampus untuk dijadikan lapak jualan mereka. Pak Eddi bersikeras dan mendesak pemerintahan kota untuk segera mengambil tindakan nyata. Alhamdulillah usaha menyampaikan aspirasi warga kali ini membuahkan hasil yang nyata, Satpol PP dan WH kemudian diturunkan ke lokasi dan tidak lama setelah itu kini wajah sepanjang jalan Kopelma sudah terlihat bersih dan rapi tanpa ada lagi kios atau lapak jualan pedagang kaki lima yang sangat “merusak” pemandangan dan keindahan kampus itu. Pak Eddi mengakui bahwa keberhasilan tugas yang diemban ini bukan karena ia sendiri, sebab di sana ada doa, harapan dan dukungan dari seluruh warga Kopelma.

Tanpa terasa obrolan singkat kami telah menyita waktu lebih kurang satu jam hingga kami harus melanjukan tugas masing-masing. Sebelum pamit dari ruang kerja Geusyiek Kopelma ini saya menitip pesan kepada Pak Eddi agar mahasiswa yang akan kami tempatkan nanti agar diberikan wawasan kedarussalaman terlebih dahulu agar mereka mencintai tanah leluhur, cendekia dan pejuang ilmu pengetahuan ini. Tujuannya agar mereka kenal dan kemudian tumbuh rasa sayang terhadap bumi Darussalam dan kemudian juga tumbuh kesadaran untuk merawat cita-cita mulia yang telah digores dan ditancapkan di tanah yang mulia ini. Jikapun mereka tidak mampu berkontribusi untuk kemajuan dan kemuliaan Darussalam, paling tidak mereka tidak mencemarinya dengan kepongahan mereka yang sedang mencari dan menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya. Siap, insya Allah jawab Pak Eddi mengakhiri silaturahmi singkat di pagi yang cerah itu.      

Penulis adalah Akademisi Kopelma Darussalam

SHARE :

0 facebook:

 
Top