lamurionline.com --
‎Di tengah keterbatasan fisik, Muhaikal tetap pergi ke madrasah, merakit sepeda, memelihara ayam, membantu keluarga, dan menjaga salat lima waktu. Ia tidak meminta dikasihani. Ia hanya ingin belajar dan kelak menjadi guru agama di kampungnya.

‎Sore itu, matahari mulai condong ke ufuk barat ketika kami tiba di sebuah rumah sederhana di Dusun Setia, Gampong Keude Blang, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur.

‎Di depan rumah, seorang anak laki-laki duduk dengan tenang.

‎Namanya Muhaikal. Orang-orang di kampung memanggilnya Haikal.

‎Ia menyambut kedatangan kami dengan tatapan yang bersahabat. Tidak ada raut wajah yang menunjukkan dirinya sedang menunggu belas kasihan. Ia justru terlihat seperti anak-anak seusianya yang baru saja melewati aktivitas sehari-hari.

‎Namun, ada satu hal yang membuat kisah Haikal berbeda.

‎Ia lahir tanpa tangan.

‎Keterbatasan itu tidak membuat langkahnya berhenti. Ia tetap tumbuh, belajar, bermain, beribadah, membantu keluarga, dan membangun mimpi seperti anak-anak lainnya.

‎Hari itu, tim Humas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Timur datang bersama Bunda Inklusi Kemenag Aceh Timur, Ny. Anisah Saiful Bahri. Turut mendampingi Nuraini, S.Pd.I., M.Pd., Ketua Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Aceh Timur yang juga Kepala MTsN 2 Aceh Timur.

‎Kedatangan kami bukan sekadar sebuah kunjungan.

‎Kami ingin melihat lebih dekat kehidupan seorang anak berkebutuhan khusus yang sedang menempuh pendidikan di MTsN 2 Aceh Timur.

‎Dan sore itu, Haikal mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi dalam: keterbatasan tubuh tidak selalu berarti keterbatasan untuk bermimpi.

‎---

‎Rumah Sederhana, Cerita yang Tidak Sederhana

‎Haikal lahir pada 12 Agustus 2013. Ia merupakan putra Indra Purnama dan almarhumah Nuraida, ibu kandungnya.

‎Ibunya telah meninggal dunia ketika Haikal masih duduk di kelas V sekolah dasar.

‎Sejak saat itu, kehidupan Haikal berubah. Ia kini tinggal bersama ayahnya dan ibu sambungnya di Dusun Setia, Gampong Keude Blang.

‎Sang ayah sehari-hari berjualan di sebuah warung atau kios di desa tersebut. Sementara ibu sambungnya mengurus rumah dan anak-anak.

‎Rumah mereka sederhana.

‎Tetapi dari rumah itulah Haikal tumbuh menjadi seorang anak yang menurut penuturan keluarganya tidak banyak merepotkan orang tua.

‎“Ia tidak pernah membuat kesalahan atau menyusahkan orang tua di rumah,” demikian penuturan ibu sambung Haikal ketika kami berbincang.

‎Setiap pagi, Haikal bangun sekitar pukul 06.00 WIB. Ia menjalankan salat Subuh, kemudian bersiap untuk sekolah.

‎Sekitar pukul 07.00 WIB, ia berangkat ke madrasah.

‎Ibu sambungnya mengantarkan Haikal ke sekolah sekaligus mengantar adiknya. Rutinitas itu dijalani hampir seperti rutinitas anak-anak lainnya.

‎Tidak ada keluhan panjang.

‎Tidak ada alasan untuk berhenti.

‎Bagi Haikal, sekolah adalah bagian dari kehidupannya.

‎---

‎Ketika Sepeda Menjadi Bagian dari Mimpi

‎Ada satu pemandangan yang mungkin membuat orang berhenti sejenak ketika melihatnya.

‎Haikal merakit sepeda.

‎Bagi sebagian orang, merakit sepeda mungkin pekerjaan biasa. Tetapi ketika melihat Haikal melakukannya tanpa tangan, pemandangan itu berubah menjadi cerita tentang ketekunan.

‎Ia menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk melakukan sesuatu yang ia sukai.

‎Kadang ia dibantu teman-temannya.

‎Kadang ia mengerjakannya sendiri.

‎Teman-teman sekampung menjadi bagian dari aktivitasnya. Mereka datang, bermain, membantu, dan tumbuh bersama tanpa menjadikan kondisi fisik Haikal sebagai alasan untuk menjauhinya.

‎Di rumah, Haikal juga senang memelihara ayam.

‎Sepulang sekolah, kehidupannya tidak berhenti pada buku dan pelajaran. Ada aktivitas lain yang ia lakukan untuk mengisi waktu.

‎Ia mengurus ayam-ayam yang dipeliharanya.

‎Ia merakit sepeda.

‎Ia membantu ibu sambungnya.

‎Ia menjalani hari.

‎Hal-hal kecil itu mungkin terlihat sederhana.

‎Namun bagi Haikal, justru dari hal-hal sederhana itulah rasa percaya diri tumbuh.

‎Ia tidak ingin hidup hanya dikenal karena keterbatasannya.

‎Ia ingin dikenal karena apa yang mampu dilakukannya.

‎---

‎"Saya Suka Merakit Sepeda"

‎Kami kemudian berbincang dengan Haikal di pinggir rumah, tidak jauh dari persawahan.

‎Suasananya tenang.

‎Di tempat itu, Haikal bercerita tentang aktivitasnya sepulang sekolah.

‎“Saya sangat suka merakit sepeda,” tuturnya.

‎Sesekali, katanya, ia dibantu oleh teman-temannya di kampung.

‎Jawabannya sederhana. Tidak dibuat-buat.

‎Tetapi dari jawaban itu terlihat bahwa Haikal memiliki dunia sendiri yang ia nikmati.

‎Ia tidak menjadikan keterbatasan sebagai tembok.

‎Justru ia mencari cara agar tetap bisa melakukan hal-hal yang disukainya.

‎Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada pekerjaan yang membutuhkan tangan.

‎Namun Haikal menemukan caranya sendiri.

‎Ia belajar menggunakan apa yang ia punya.

‎Ia beradaptasi.

‎Ia mencoba.

‎Dan ia tidak berhenti hanya karena sesuatu terlihat sulit.

‎---

‎Madrasah yang Membuatnya Merasa Diterima

‎Pertanyaan berikutnya menjadi lebih sensitif.

‎Kami bertanya apakah Haikal pernah dilecehkan, diejek, atau mendapat kata-kata yang menyakitkan dari teman-temannya di madrasah karena kondisi fisiknya.

‎Jawabannya justru membuat kami terdiam sejenak.

‎Tidak.

‎Haikal mengatakan teman-temannya di MTsN 2 Aceh Timur tidak pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.

‎Sebaliknya, mereka membantu.

‎Saat makan, teman-temannya membantu.

‎Ketika terjatuh, mereka membantu.

‎Bagi Haikal, madrasah bukan tempat untuk merasa berbeda.

‎Madrasah adalah tempat untuk belajar dan berteman.

‎Di sanalah ia menemukan lingkungan yang membuatnya merasa diterima.

‎Teman-temannya tidak melihat Haikal hanya dari apa yang tidak dimilikinya.

‎Mereka melihat Haikal sebagai seorang teman.

‎Itulah salah satu wajah pendidikan inklusi yang sesungguhnya.

‎Bukan sekadar menyediakan ruang belajar.

‎Tetapi menciptakan lingkungan yang membuat setiap anak merasa memiliki tempat.

‎---

‎Pukul 07.00, Haikal Sudah di Madrasah

‎Keesokan harinya, kami berkesempatan melihat langsung aktivitas Haikal di MTsN 2 Aceh Timur.

‎Pagi itu, suasana madrasah mulai dipenuhi siswa.

‎Satu per satu mereka datang.

‎Haikal juga datang.

‎Menurut Kepala MTsN 2 Aceh Timur, Nuraini, S.Pd.I., M.Pd., Haikal merupakan anak yang rajin.

‎Tepat sekitar pukul 07.00 WIB, ia sudah tiba di madrasah dan segera menuju kelas.

‎Saat ini Haikal duduk di kelas VII-3.

‎Tidak ada perlakuan berlebihan yang membuatnya merasa berbeda.

‎Ia mengikuti proses pendidikan sebagaimana siswa lainnya, tentu dengan dukungan dan penyesuaian sesuai kebutuhannya.

‎Di dalam kelas, Haikal belajar.

‎Ia membaca.

‎Ia menulis.

‎Ia berinteraksi dengan teman-temannya.

‎Salah satu hal yang sedang dipelajarinya adalah bahasa Arab.

‎Dan ada satu alasan mengapa ia begitu bersemangat belajar.

‎Ia memiliki cita-cita.

‎---

‎"Saya Ingin Menjadi Guru Agama"

‎Ketika ditanya tentang cita-citanya, Haikal tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.

‎Ia ingin menjadi guru ilmu agama.

‎Bukan di tempat yang jauh.

‎Ia ingin mengajar di desa tempat ia tinggal.

‎Cita-cita itu terdengar sederhana.

‎Namun jika kita melihat perjalanan hidupnya, keinginan tersebut menyimpan makna yang besar.

‎Seorang anak yang sejak lahir harus hidup tanpa tangan, kehilangan ibu kandung ketika masih duduk di sekolah dasar, dan tumbuh dalam keluarga sederhana, tetap menyimpan harapan untuk menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain.

‎Ia ingin menjadi guru.

‎Ia ingin mengajarkan ilmu agama.

‎Ia ingin kembali ke kampungnya dan berbagi ilmu.

‎Mungkin suatu hari nanti, anak-anak di desa itu akan duduk di hadapannya.

‎Mungkin mereka akan belajar membaca Al-Qur'an.

‎Mungkin mereka akan belajar bahasa Arab.

‎Dan mungkin Haikal akan menceritakan kepada mereka bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan.

‎Tetapi hidup selalu memberikan kesempatan untuk memilih: menyerah atau terus berusaha.

‎---

‎Salat yang Tidak Pernah Ia Tinggalkan

‎Sore itu, ketika kami tiba di rumah Haikal, waktu Asar telah masuk.

‎Kami kemudian menyaksikan sesuatu yang membuat kisah ini terasa semakin lengkap.

‎Haikal mengambil air untuk berwudu.

‎Dengan caranya sendiri, ia mempersiapkan diri untuk beribadah.

‎Tidak ada yang istimewa dari seorang muslim mengambil wudu.

‎Tetapi melihat Haikal melakukannya membuat kami memahami satu hal: keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang baginya untuk menjalankan kewajiban kepada Allah.

‎Ia kemudian menunaikan salat.

‎Lima waktu tetap menjadi bagian dari kehidupannya.

‎Bagi Haikal, ibadah bukan sesuatu yang harus ditinggalkan hanya karena dirinya memiliki keterbatasan.

‎Ia menjalankannya dengan kemampuan yang dimilikinya.

‎Di situlah kita kembali belajar.

‎Sering kali manusia terlalu cepat mengatakan “tidak bisa” sebelum mencoba.

‎Haikal justru menunjukkan sebaliknya.

‎Ia mencoba terlebih dahulu.

‎---

‎Teman yang Baik dan Humor yang Membuat Suasana Hidup

‎Di kelas, Haikal juga bukan anak yang menyendiri.

‎Ia bergaul dengan teman-temannya.

‎Salah seorang teman sekelasnya, Fajar, menggambarkan Haikal sebagai anak yang baik dan humoris.

‎Menurut Fajar, Haikal tidak pernah membuat masalah.

‎Teman-temannya juga tidak menyakitinya.

‎Mereka belajar bersama.

‎Bercanda bersama.

‎Menjalani hari sebagai siswa madrasah.

‎Pemandangan seperti ini mungkin terlihat biasa bagi orang yang melihatnya dari luar.

‎Tetapi justru di situlah nilai penting pendidikan inklusi terlihat.

‎Anak berkebutuhan khusus tidak selalu membutuhkan rasa iba.

‎Sering kali mereka membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

‎diterima.

‎Diperlakukan sebagai teman.

‎Diberikan kesempatan.

‎Dan dipercaya bahwa mereka mampu.

‎---

‎Tidak Semua Pahlawan Datang dengan Kesempurnaan

‎Kisah Haikal bukan cerita tentang seorang anak yang harus dikasihani.

‎Ini adalah cerita tentang seorang anak yang sedang berjuang menjalani hidupnya.

‎Ia bangun pagi.

‎Ia salat.

‎Ia pergi ke madrasah.

‎Ia belajar.

‎Ia bercanda bersama teman.

‎Ia pulang ke rumah.

‎Ia membantu keluarga.

‎Ia merakit sepeda.

‎Ia memelihara ayam.

‎Dan ketika hari berakhir, ia kembali menjalani hidup seperti biasa.

‎Tidak ada panggung besar.

‎Tidak ada sorotan kamera setiap hari.

‎Tidak ada tepuk tangan.

‎Tetapi justru di situlah letak kekuatan kisahnya.

‎Sebab keberanian tidak selalu terlihat seperti seseorang yang berdiri di atas panggung.

‎Kadang keberanian adalah seorang anak yang bangun pagi dan tetap berangkat sekolah meskipun hidupnya tidak sama dengan anak-anak lain.

‎Kadang keberanian adalah ketika seseorang tidak membiarkan kekurangan menentukan masa depannya.

‎Dan kadang, keberanian adalah ketika seseorang masih mampu bermimpi setelah kehilangan orang yang paling dicintainya.

‎Haikal melakukan semuanya dengan caranya sendiri.

‎---

‎Pelajaran dari Seorang Anak Bernama Haikal

‎Dari Haikal, kita belajar bahwa manusia tidak selalu membutuhkan tubuh yang sempurna untuk menjalani kehidupan dengan sempurna.

‎Kita belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

‎Kita belajar bahwa pendidikan bukan hanya tentang membaca buku, menulis, atau mendapatkan nilai.

‎Pendidikan juga tentang bagaimana seorang anak merasa diterima.

‎Bagaimana seorang teman belajar membantu tanpa merendahkan.

‎Bagaimana seorang guru memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang.

‎Dan bagaimana keluarga terus mendampingi seorang anak untuk melewati hari-harinya.

‎Haikal juga mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan seseorang tidak selalu dapat dilihat dari apa yang dimilikinya.

‎Ia mungkin tidak memiliki tangan sejak lahir.

‎Tetapi ia memiliki kemauan.

‎Ia memiliki teman.

‎Ia memiliki keluarga yang mendampingi.

‎Ia memiliki madrasah tempat belajar.

‎Ia memiliki keyakinan.

‎Dan yang paling penting, ia memiliki cita-cita.

‎Cita-cita menjadi guru agama di kampungnya.

‎Sebuah cita-cita yang kelak mungkin akan membawanya berdiri di depan anak-anak lain, mengajarkan ilmu yang hari ini sedang ia pelajari.

‎---

‎Merakit Sepeda, Merakit Masa Depan

‎Ketika kami meninggalkan rumah Haikal, bayangan anak itu masih terlintas.

‎Ia duduk di depan rumah.

‎Di sekelilingnya ada kehidupan sederhana.

‎Ada rumah.

‎Ada sawah.

‎Ada ayam yang dipeliharanya.

‎Ada sepeda yang dirakitnya.

‎Dan ada sebuah mimpi yang jauh lebih besar daripada semua itu.

‎Haikal sedang merakit sepeda.

‎Tetapi sebenarnya, ia juga sedang merakit masa depannya.

‎Satu demi satu.

‎Hari demi hari.

‎Dengan kemampuan yang ia punya.

‎Tanpa banyak mengeluh.

‎Tanpa meminta dunia mengasihaninya.

‎Ia hanya ingin diberi kesempatan untuk belajar dan menjadi dirinya sendiri.

‎Mungkin kita yang melihat kisahnya dari luar merasa bahwa Haikal adalah anak yang kuat.

‎Namun bisa jadi, bagi Haikal, ia hanya sedang menjalani hidup sebagaimana mestinya.

‎Pergi sekolah.

‎Belajar.

‎Bermain.

‎Beribadah.

‎Membantu keluarga.

‎Dan bermimpi.

‎Sederhana.

‎Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat kisahnya begitu dalam.

‎Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan tentang seberapa lengkap anggota tubuh yang kita miliki.

‎Bukan pula tentang seberapa mudah jalan yang kita lalui.

‎Melainkan tentang seberapa kuat kita melangkah dengan apa yang Allah titipkan kepada kita.

‎Haikal mungkin lahir tanpa tangan.

‎Tetapi ia tidak lahir tanpa harapan.

‎Ia tidak lahir tanpa cita-cita.

‎Dan ia tidak pernah kehilangan alasan untuk terus melangkah.

‎Di sebuah sudut kecil Aceh Timur, seorang anak bernama Muhaikal sedang mengajarkan kepada kita semua satu kalimat yang tidak pernah ia ucapkan secara langsung:

‎Jangan ukur kemampuan seseorang dari kekurangannya. Lihatlah dari keberaniannya untuk terus mencoba.

‎Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika cita-cita itu benar-benar terwujud, kita akan melihat Haikal berdiri sebagai seorang guru agama di desanya.

‎Bukan sebagai anak berkebutuhan khusus.

‎Tetapi sebagai seorang guru yang pernah mengajarkan kepada banyak orang bahwa keterbatasan bukan akhir dari sebuah perjalanan.

‎Karena Haikal tidak sedang menunggu hidup menjadi mudah.

‎Ia sedang belajar membuat hidupnya berarti.

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top