LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH -  Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Dr Safaruddin, menyampaikan tausiyah Subuh dalam agenda Safari Subuh Sabtu (S3) di Masjid Oman Al Makmur, Banda Aceh, Sabtu, 17 Oktober 2026, bertepatan dengan 6 Jumadil Awal 1448 Hijriah.

Dalam tausiyahnya, Safaruddin mengajak jamaah memahami shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi kehidupan yang membimbing perjalanan spiritual, membentuk kedisiplinan, menghadirkan ketenangan hati, serta menjadi pedoman dalam menjalani berbagai aktivitas, termasuk politik.

Safaruddin menjelaskan, pembahasan tentang shalat memiliki tempat penting dalam Alquran. Ia menyebutkan bahwa Allah SWT berulang kali menyebut shalat dalam Alquran sebagai penegasan mengenai kedudukan ibadah tersebut dalam kehidupan manusia.

“Mengapa kita diperintahkan untuk shalat? Karena ibadah merupakan tujuan Allah menciptakan manusia,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak jamaah merenungkan pertanyaan yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Jika manusia diperintahkan beribadah, kapan pula waktunya untuk bekerja, beraktivitas, dan melakukan berbagai urusan duniawi?

Menurut Safaruddin, seluruh aktivitas tersebut pada dasarnya dapat bernilai ibadah apabila dilaksanakan dengan niat yang benar dan sesuai dengan tuntunan Allah SWT.

“Lalu kalau ibadah terus, kapan kita melakukan hal-hal lain? Ya, semua yang kita lakukan itu dalam rangka ibadah,” jelasnya.

Ia menegaskan, shalat memiliki kedudukan istimewa karena merupakan perintah yang dijemput langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Mikraj. Hal ini, menurutnya, menunjukkan betapa pentingnya shalat sebagai sarana hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Ketika seseorang menegakkan shalat, seluruh urusan dunia seharusnya dapat diletakkan dalam kerangka penghambaan kepada Allah. Shalat menjadi momentum bagi manusia untuk menghadirkan diri sepenuhnya di hadapan Sang Pencipta, sekaligus menata kembali orientasi dan tujuan hidupnya.

Shalat mencegah kemungkaran

Safaruddin juga mengingatkan bahwa shalat memiliki fungsi mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, Surah Al-Ankabut ayat 45.

Namun, ia mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap kenyataan bahwa ada orang yang rajin shalat, tetapi masih melakukan perbuatan maksiat.

Menurutnya, keadaan tersebut seharusnya menjadi dorongan untuk terus memperbaiki kualitas shalat, bukan alasan untuk meninggalkan ibadah. Setiap Muslim perlu memohon agar shalat yang ditegakkannya benar-benar membimbing dirinya semakin dekat kepada Allah dan menjauhkannya dari perbuatan yang dilarang.

Karena itu, menegakkan shalat perlu disertai kesungguhan memperbaiki perilaku. Ibadah tidak berhenti ketika salam diucapkan, tetapi harus tercermin dalam sikap, keputusan, dan tindakan sehari-hari.

“Setiap diri hendaknya menegakkan shalat seraya terus berupaya meninggalkan maksiat,” pesannya.

Selain menjadi benteng moral, shalat juga menghadirkan ketenangan hati. Safaruddin mengajak jamaah menggali esensi ketenangan tersebut melalui shalat yang khusyuk, dilakukan dengan kesadaran penuh, serta dipelajari dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Baginya, kekhusyukan bukan sekadar pengalaman sesaat ketika beribadah, melainkan kualitas yang perlu terus dilatih agar seseorang mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.

Rumus sukses melalui shalat

Dalam tausiyah itu, Safaruddin turut menyampaikan rumus pembiasaan ibadah melalui shalat wajib dan shalat-shalat sunah.

Ia mengemukakan komposisi 17 rakaat shalat wajib, ditambah 12 rakaat shalat rawatib, serta 11 rakaat shalat tahajud dan witir. Menurutnya, pembiasaan tersebut dapat menjadi ikhtiar untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus membangun konsistensi dalam kehidupan.

Safaruddin mengungkapkan bahwa shalat telah membimbing perjalanan spiritual dan politiknya. Ia merasakan bahwa dengan menjadikan shalat sebagai pegangan, langkah-langkah dalam menjalani kehidupan dapat ditempuh secara lebih ringan dan terukur.

“Shalat telah membimbing perjalanan spiritual politik saya dalam langkah-langkah yang ringan dan terukur,” jelasnya.

Ia juga menyoroti dimensi kesehatan yang berkaitan dengan gerakan-gerakan dalam shalat. Selain itu, shalat dapat menjadi sarana memohon pertolongan Allah ketika menghadapi berbagai kebutuhan dan persoalan, antara lain melalui shalat hajat dan ibadah sunah lainnya.

Menurut Safaruddin, pembiasaan shalat turut melatih kedisiplinan. Keteraturan waktu, konsistensi, dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah dapat menjadi landasan untuk membangun perilaku disiplin dalam bekerja maupun menjalani kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tersebut penting karena keberhasilan tidak hanya membutuhkan kecakapan dan kemampuan teknis, tetapi juga keteguhan prinsip, pengendalian diri, serta kesanggupan menjaga komitmen.

Shalat sebagai penghubung dengan Allah

Menutup tausiyahnya, Safaruddin mengajak jamaah menjadikan shalat sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan untuk menggugurkan tanggung jawab.

Shalat, menurutnya, merupakan sarana hubungan langsung antara seorang hamba dan Allah SWT. Melalui shalat, manusia memohon pertolongan, mencari ketenangan, memperbaiki diri, serta memohon petunjuk dalam menentukan langkah-langkah kehidupan.

Ia mengajak setiap Muslim untuk terus menegakkan shalat dengan kesadaran dan kekhusyukan, sekaligus berusaha menerjemahkan nilai-nilai shalat ke dalam perilaku yang baik.

Dengan demikian, shalat tidak hanya menjadi rutinitas ibadah di masjid atau di rumah, tetapi juga menjadi kekuatan yang membentuk pribadi berakhlak, disiplin, tenang, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

“Mari kita tegakkan shalat, karena shalat adalah satu-satunya media hubungan secara langsung kita dengan Allah,” ajak Safaruddin. (Saifuddin A. Rasyid)

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top