LAMURIONLINE.COM | BANDA ACEH - Banda Aceh (Ar-Raniry) — Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar Seminar Nasional Humaniora dan Literasi Digital untuk membahas peran ilmu humaniora dalam menghadapi transformasi teknologi serta memperkuat etika, identitas budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan di era digital.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Teater Museum UIN Ar-Raniry, Rabu (28/10/2026), ini mengusung tema “Transformasi Humaniora di Era Digital: Integrasi Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Literasi Informasi dalam Peradaban Masa Depan”.
Seminar menghadirkan empat narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi informasi yang membahas berbagai tantangan dan peluang pengembangan ilmu humaniora di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dekan FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Syarifuddin MA PhD mengatakan transformasi digital telah mengubah cara masyarakat bekerja, berkomunikasi, bersosialisasi, dan mengakses informasi. Perubahan tersebut, menurutnya, perlu diimbangi dengan penguatan etika, karakter, dan kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Ia menjelaskan bahwa tantangan era digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan nilai moral dan identitas budaya.
Syarifuddin turut mengingatkan risiko dehumanisasi dan krisis identitas apabila perkembangan teknologi tidak diiringi penguatan etika. Hal tersebut menjadi perhatian penting bagi masyarakat Aceh yang memiliki tradisi dan kebudayaan yang erat dengan nilai-nilai agama.
Selain itu, ia menekankan pentingnya tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Persoalan pembalakan liar, penambangan ilegal, dan perambahan hutan, menurutnya, tidak hanya perlu dilihat dari aspek ekonomi, tetapi juga dari perspektif moral dan tanggung jawab sosial.
Karena itu, kajian sejarah, bahasa, dan sastra tetap memiliki peran strategis dalam menjaga identitas budaya, memahami perubahan masyarakat, serta memberikan landasan etik dalam menghadapi perkembangan teknologi.
Akademisi sekaligus dosen Agama dan Budaya STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Dr Muhajir Al-Fairusy SHum MA menyoroti pentingnya digitalisasi kebudayaan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan tradisi lokal.
Menurut Muhajir, perkembangan teknologi telah mengubah cara pengetahuan budaya diproduksi, didokumentasikan, dan disebarluaskan. Dokumentasi yang sebelumnya banyak mengandalkan catatan lapangan dan dokumen tertulis kini dapat dikembangkan melalui berbagai media digital, seperti video, podcast, dan peta interaktif.
“Digitalisasi kebudayaan bukan hanya menyimpan masa lalu, melainkan membuka ruang agar pengetahuan lokal terus dibaca, diuji, dan diwariskan,” ujarnya.
Ia menilai pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan lokal sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
Sementara itu, Prof Dr Nuruddin MA dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) membahas transformasi bahasa dan sastra Arab di era digital. Ia menyoroti pentingnya adaptasi bahasa dan pengembangan infrastruktur digital agar bahasa dan sastra tetap memiliki ruang dalam perkembangan teknologi.
Pemanfaatan media digital membuka peluang baru dalam pembelajaran dan publikasi karya sastra. Karya tidak lagi terbatas pada media cetak, tetapi dapat disajikan melalui perpaduan teks, audio, visual, dan animasi.
Meski demikian, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan, antara lain berkurangnya kebiasaan membaca secara mendalam, tekanan algoritma terhadap produksi karya, serta kecenderungan menjadikan sastra sebagai konten yang dikonsumsi secara cepat.
Oleh karena itu, pengembangan humaniora digital perlu tetap memperhatikan kedalaman makna, kreativitas, dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya bahasa dan sastra.
Guru Besar Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr Nurdin Laugu MA, menekankan pentingnya literasi informasi Islam dalam menghadapi melimpahnya data dan perkembangan kecerdasan buatan.
Menurutnya, masyarakat menghadapi berbagai tantangan, seperti informasi palsu, deepfake, banjir informasi atau infodemic, serta bias algoritma yang dapat memengaruhi cara seseorang memahami suatu persoalan.
Ia menjelaskan bahwa literasi informasi tidak cukup hanya mencakup kemampuan mencari dan mengakses informasi. Masyarakat juga perlu memeriksa kredibilitas sumber, menguji kebenaran isi, serta mempertimbangkan dampak sosial dan keagamaan dari informasi yang diterima maupun disebarluaskan.
Penguatan prinsip tabayyun atau pemeriksaan kebenaran informasi, yang dipadukan dengan kemampuan memahami teknologi AI, menjadi salah satu pendekatan untuk mendorong penggunaan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Dalam konteks tersebut, teknologi perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti pertimbangan moral dan tanggung jawab manusia dalam menilai kebenaran informasi.
Narasumber lainnya, Nazaruddin Musa MLIS PhD yang juga Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh, membahas fenomena digital amnesia atau kecenderungan mengandalkan perangkat digital untuk menyimpan dan mengingat informasi.
Menurut Nazaruddin, perkembangan teknologi digital dan internet tidak hanya mengubah cara manusia mencari informasi, tetapi juga memengaruhi kebiasaan mengingat dan mengelola pengetahuan.
Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia Aceh tersebut menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan kecenderungan seseorang mengandalkan perangkat digital dan mesin pencari untuk memperoleh kembali informasi. Ia juga menyoroti risiko ketergantungan terhadap teknologi, termasuk kecerdasan buatan.
Dalam pemaparannya, Nazaruddin menguraikan sejumlah dampak yang perlu menjadi perhatian, mulai dari kaburnya batas antara pengetahuan yang dikuasai secara pribadi dan informasi yang tersedia di internet (blurring of knowledge), munculnya perasaan seolah-olah memahami suatu persoalan hanya karena mudah mengakses informasinya (feeling of knowing), hingga potensi penurunan retensi memori dan risiko perilaku adiktif terhadap perangkat digital.
Menghadapi tantangan tersebut, ia menilai pustakawan perlu memperkuat perannya sebagai navigator informasi. Pustakawan tidak hanya bertugas mengelola koleksi buku, tetapi juga membantu masyarakat, khususnya generasi digital, menemukan, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara tepat.
Peran tersebut penting agar kemudahan akses informasi tetap diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, dan membangun pengetahuan secara mandiri.
Seminar Nasional Humaniora dan Literasi Digital ini diikuti sekitar 150 peserta secara luring serta peserta lainnya secara daring. Dari empat narasumber yang dihadirkan, Dr Muhajir Al-Fairusy dan Nazaruddin Musa PhD hadir langsung di lokasi, sedangkan Prof Dr Nuruddin dan Prof Dr Nurdin Laugu menyampaikan materi secara daring.*



0 facebook:
Post a Comment