Oleh: Azwir Nazar (Tgk Turki)

Ketum DPP ISKADA Aceh


Beberapa waktu lalu saya berada di Uzbekistan, negeri yang dulu kita kira bekas negara komunis. Ternyata dari sanalah cahaya Islam pernah menerangi dunia, dan dari sanalah saya pulang dengan rasa takut.

Allah berfirman: Hendaklah takut orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka generasi yang lemah, mereka khawatir terhadapnya. Maka bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.

Ayat ini turun bukan untuk pemerintah, tapi untuk kita orang tua.

Islam masuk ke Asia Tengah bukan pertama kali oleh panglima perang, tapi oleh Sahabat Nabi yang mulia.

Beliau adalah Qassam bin Abbas bin Abdul Muthalib RA. Sepupu Rasulullah SAW. Sahabat yang wajahnya paling mirip dengan Rasulullah. Rasulullah mendoakannya: Ya Allah, fakihkan dia dalam agama.

Tahun 56 Hijriah/676 Masehi, Qassam ikut pasukan Sa'ad bin Utsman bin Affan menuju Samarkand. Saat pasukan lain pulang ke Madinah, Qassam memilih tinggal. Beliau ingin mengajarkan Islam kepada orang-orang Samarkand.

Masyarakat Samarkand sangat mencintainya. Namun tahun 57 Hijriah, ketika sedang shalat, beliau diserang dan syahid. Jasadnya dimakamkan di Bukit Samarkand. Sampai hari ini makamnya ada di Kompleks Shah-i Zinda di Samarkand, artinya "Raja yang Hidup", karena masyarakat yakin beliau syahid dan hidup di sisi Allah.

Saya berziarah ke sana. Untuk sampai ke makamnya, harus naik 40 anak tangga. Orang Uzbek menyebutnya Tangga Taubat. Setiap naik satu tangga, mereka beristighfar.

Bayangkan, seorang sepupu Nabi rela mati 6000 KM dari Madinah, dikubur di negeri asing, agar Islam sampai ke kita.

30 tahun setelah Qassam syahid, datanglah panglima besar Qutaibah bin Muslim Al-Bahili tahun 705 M, menaklukkan Bukhara dan Samarkand secara sempurna.

Lalu terjadi peristiwa besar dunia: Perang Talas 751 M. Tentara Islam dari Samarkand melawan tentara Dinasti Tang Cina. Cina kalah. Dari tawanan perang Cina, umat Islam belajar rahasia membuat kertas.

Maka pabrik kertas pertama di dunia Islam didirikan di Samarkand. Karena ada kertas, ilmu menyebar cepat. 60 tahun kemudian lahirlah di negeri itu: Imam Bukhari di Bukhara, Imam Tirmidzi di Termez, dan Al-Khawarizmi Bapak Matematika.

Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara menjadi kota paling bercahaya di dunia. 3000 masjid, 45.000 kitab, jalan-jalannya terang. Saat itu Eropa masih dalam zaman kegelapan.

Inilah masa keemasan yang lahir dari darah Qassam bin Abbas.

Namun kemuliaan itu runtuh.

1220 M, Jenghis Khan menyerang, Masjid Kalon Bukhara dijadikan kandang kuda.

Puncaknya tahun 1920-1991, Uzbekistan dijajah Soviet. Inilah penjajahan paling kejam: 26.000 masjid ditutup dan dijadikan gudang, ulama dibunuh dan dibuang ke Siberia, Al-Qur'an dilarang, orang puasa dipecat dari pekerjaan.

Selama 70 tahun adzan tidak berkumandang bebas. Islam diajarkan sembunyi-sembunyi di Hujra, dayah bawah tanah, persis seperti dayah-dayah kita masa konflik dulu.

Tahun 1991 Soviet runtuh, Uzbekistan merdeka. Tapi pemerintahnya memilih menjadi negara sekuler. Masjid dikontrol ketat, jilbab dilarang di sekolah negeri.

Tapi lihat keajaiban Allah. Walaupun negaranya sekuler, rakyatnya tidak bisa dibohongi. Kota Tashkent, Bukhara, Samarkand hari ini sangat bersih, sangat aman, bahkan aman jam 2 malam seorang wanita berjalan sendiri. Mereka bangga disebut cucu Imam Bukhari dan tetangga Qassam bin Abbas. Mereka membangun Islamic Civilization Center terbesar di Asia Tengah.

Mengapa. Karena selama 70 tahun dijajah, mereka tidak pernah kehilangan satu hal: Rasa takut meninggalkan generasi lemah. Ibu-ibu tetap ajarkan Al-Fatihah di bawah tanah.

Bagaimana masa depan generasi Islam Aceh.

Jawabannya ada di depan mata kita, bukan di Tashkent, bukan di Bukhara, tapi di rumah dan masjid-masjid kita sendiri.

Kita di Aceh hari ini jangan sampai kebalikan dari Uzbekistan.

Uzbekistan sekarang Negaranya sekuler, tapi 1rakyatnya rindu Islam. Aceh: Negerinya hukum Syariat, tapi sebagian dari kita mulai rindu hidup sekuler.

Kita punya Qanun Syariat, punya Dinas Syariat, punya ribuan dayah, masjid megah dimana mana. Tapi kita mulai kehilangan rasa takut itu.

Kita tidak takut anak tidak shalat Subuh, yang penting ranking satu. Kita tidak takut anak pacaran di cafe, yang penting tidak hamil. Kita tidak takut anak kena vape etomidate dan sabu, sampai pabrik sabupun kini telah ada ditemukan di Pidie.

Padahal Allah sudah peringatkan: Walyakhsya... Hendaklah takut. 

Maka hari ini Aceh ada di persimpangan dua jalan.

Jalan pertama, menjadi Uzbekistan yang kembali bersinar. Ini terjadi jika kita kembali takut. Takut seperti ibu Imam Bukhari yang janda, miskin, buta matanya, tapi setiap malam menangis berdoa agar anaknya menjadi ulama. Takut seperti Qassam bin Abbas yang rela mati jauh agar kita mengenal Nabi.

Jika ini kita pilih, 20 tahun lagi dari Aceh akan lahir Imam Bukhari baru yang hafal hadits dan ahli IT, akan lahir Al-Khawarizmi baru penemu teknologi, akan lahir Qassam baru yang dakwah sampai Eropa. Aceh akan kembali menjadi Serambi Mekkah yang sebenarnya, bukan hanya tulisan di baliho.

Jalan kedua, menjadi Uzbekistan zaman Soviet. Hilang tanpa suara. Ini terjadi jika kita santai, bangga KTP syariat tapi keluarga sekuler. masjid kosong, cafe penuh. Masjid megah saat MTQ, kosong saat Subuh. Anak hafal lagu Blackpink, tidak hafal Al-Fatihah.

Jika ini kita pilih, 20 tahun lagi orang akan berziarah ke Aceh seperti kita berziarah ke museum Soviet: Di sini dulu pernah ada kerajaan Islam bernama Pasai. Misalnya. Semua akan tinggal kenangan bila kita tidak menyiapkan generasi muda yang kuat. 

Masa depan generasi Islam Aceh bukan di tangan presiden, bukan di tangan gubernur, bukan di “tangan” qanun.

Masa depan itu ada di tangan kita, saat kita memutuskan apakah anak kita besok shalat Subuh atau tidak.

Qassam bin Abbas sudah tunjukkan jalan: Mati jauh demi generasi. Imam Bukhari sudah tunjukkan jalan: Buta bisa menjadi bintang dunia karena doa ibu.

Tinggal kita, mau menjadi orang tua yang meninggalkan generasi lemah yang dilaknat sejarah, atau generasi kuat yang didoakan sampai penjuru dunia. 

Pilihan ada di kita.

Jangan tinggalkan generasi lemah. Lemah aqidah, lemah ibadah, lemah akhlaq, dan lemah ekonominya. Masa depan generasi Islam akan lahir dari keluarga keluarga yang takut kepada Allah. Yang bersungguh berjuang memberikan keteladanan dan mencintai ilmu pengetahuan. 

Sumber: Khutbah Jumat di Masjid Nurul Iman, Ruyung, Kecamatan Mesjid Raya, 30 Oktober 2026

SHARE :
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 facebook:

 
Top