ads1

Oleh : Amiruddin

Trend modernitas harus diakui telah berhasil menyedot remaja Aceh dalam budaya pragmatisme dan materialisme. Modern dipahami sebagai sikap yang condong kebarat-baratan, sesuatu yang salah kaprah tentunya. Dalam kondisi seperti ini, teknologi mampu membunuh saraf keimanan seorang remaja menuju jeratan negatif. Remaja Aceh hari-hari disibukkan dengan segudang aktivitas yang condong ke material yang ditandai dengan gaya hidup mewah, hura-hura, sikap tak peduli terhadap lingkungan/sosial, lupa pada nasehat orang tua bahkan kepentingan agama sering terabaikan. Ini menjadi potret buram bagi Aceh, khususnya remaja. 

Masa remaja memang identik dengan masa pubersitas, masa yang mengkhawatirkan jika tidak dipagari keimanan, tidak disuguhi pendidikan agama yang mapan dan tidak dihiasi ketaqwaan. Tentu jurang kriminalitas akan menjadi muara utama untuk mereka jelajahi lembah kemaksiatan (larangan Allah) yang menjadi musuh nyata syari’at islam. 

 Masa muda pula identik dengan masa keemasan manusia. Karena secara psikologis usia-usia muda sedang mencapai puncak potensi seperti semangat (Hamasah), kekuatan fisik (Quwwatul Jasad), cerdas akalnya (Aqlan Dzakkiyan), dan bersih hatinya (Qolban Saliman). Tapi bersamaan dengan itu, masa muda adalah masa yang penuh dengan godaan untuk memperturutkan hawa nafsu. Fase remaja akan banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwa yang tidak jarang menyebabkan hidupnya terguncang. Dalam kondisi seperti itu, peluang terjerumus ke dalam keburukan dan kesesatan yang dibisikkan setan sangatlah besar, maka sikap waspada penting ditanam oleh privasi kaula remaja, orang tua dan pemerintah dalam konteks lebih luas. 

Realita Remaja Aceh 

Tidak dipungkiri, teknologi menawarkan dua sisi bagi konsumen, yakni “negatif” atau “positif”. Masyarakat dan remaja Aceh sudah sangat mahir memahami kedua sisi tersebut. Namun sayang, sekalipun mereka tahu telah bertindak salah, tetap saja melarutkan diri dalam kesalahan yang seharusnya mesti dijauhi. Akhirnya resiko harus ditanggung akibat kecerobohan/kesalahan ketika memanfaatkan produk teknologi. 

Teknologi sukses meracuni fikaran generasi Aceh saat ini. Penyebaran handphone, iped, laptop, teknologi otomotif dan aneka produk telah mengubah karateristik, cultur/ budaya remaja ke arah kehancuran. Betapa tidak, kehadiran teknologi ini perlahan-lahan mengikis kepribadian mereka. Dunia maya yang ngetren saat ini menjadi santapan sehari-hari para remaja. Focebookan bagaikan perokok aktif, tanpa FB-an hidup mereka tidak jelas arah, status berjalan bagaikan air mengalir dan fikiranpun tidak konsen. Tanpa rasa malu terukir indah status “berpacaran” sebagai identitas akun. Parahnya dengan sikap bangga memamerkan foto vulgarnya dijejaring sosial. Tragisnya kecanduan terhadap dunia maya membuat mereka lupa perintah Allah bersifat wajib/sunnah. Mereka punya sederet waktu untuk menjelajahi internet dan fb-an ketimbang berinteraksi dan terus berkomunikasi dengan Alqur’an. 

Ketika generasi suatu bangsa jauh dari pemahaman agama, kriminalitas pun kerap bertambah. Masih segar di benak kita kasus penyerangan markas Wilayatil Hisbah/WH di Langsa oleh segerombolan remaja. Melirik gambar (di serambi indonseia) dengan gaya berpakaiannya terkesan mereka jauh dari didikan agama yang mewajibkannya menutup aurat. Ditambah dengan pergaulannya yang disinyalir mengkonsumsi minuman terlarang. Tentu akan menghantarkan mereka ke ranah pidana yang menjurus ke dunia tempat persinggahan/penjara. 

Fenomena lain kerap dilakukan remaja adalah “pacaran”. Pacaran bak budaya yang makin berdarah daging dibenak manusia (tua-muda). Pacaran dalam masyarakat seolah budaya legal yang perlu dilestarikan. Secara tidak langsung di ajang PKA bulan lalu juga memperlihatkan budaya pacaran. Sekilas terlihat memang masyarakat Aceh sangat antusias dengan Pekan Kebudayaan Aceh, seakan mereka sangat peduli dengan budaya Aceh. Namun sebaliknya, budaya Aceh yang sarat dengan nilai-nilai islam dikotori oleh mereka yang menjadikan pacaran bagian dari budaya Aceh. 

Publik tahu bagaimana sikap para geng pacaran. Setiap akhir pekannya selalu ada planning untuk berkunjung ke tempat yang disinyalir mantap untuk berkencan, aman dari gangguan dan jauh dari jangkauan WH. Sejatinya ada langkah-langkah penting dilakukan oleh orang tua dan pemerintah untuk membentengi arus westernisasi/modernisasi yang terus digempur oleh dunia barat memalui produknya yang semakin memenuhi pasar Indonesia/Aceh. 

Memperkuat Syari’at Untuk Remaja 

Membentuk watak remaja yang mapan akan tuntutan agama seharusnya sudah dimulai sejak mereka kecil. Namun masa tersebut terasa sudah kecolongan disebabkan lalainya orang tua untuk membina anak guna membentuk generasi shaleh-shalehah. Namun demikian kesempatan tersebut belum terlambat, orang tua dalam kelompok kecil atau pemerintah dalam konteks luas masih punya kesempatan merenofasi, merekontrusi dan merehabilitasi akhlak/moral generasi Aceh yang terlanjur berkiblat ke barat. Perlu sebuah terobosan atau merancang program handal yang dapat membentengi mereka dari ganasnya arus modernisasi. 

Setidaknya, ada banyak langkah yang dapat ditempuh pemerintah Aceh untuk mensyari’atkan remaja Aceh dari kegalauan dunia. Program unggulan diniyah yang dicanangkan oleh pemko Banda Aceh dan dimotori Disdikpora Pemko Banda Aceh menjadi bukti nyata komitnya pemko mengimplementasikan syari’at islam di Kuta Raja, lebih-lebih menyongsong Banda Aceh sebagai model Kota Madani. Dalam program diniyah akan terus disuntik nilai-nilai agama terhadap remaja-remaja di bangku SLTA/SLTP bahkan SD melalui mata pelajaran cabang–cabang agama Islam. Kita berharap, program ini dapat diperluas ke suluruh Aceh. Pemerintah kota/kabupaten lainnya di Aceh harus meniru langkah yang ditempuh Pemko Banda Aceh. Dengan harapan pendidikan agama yang diperoleh dibangku sekolah dan pengetahuan nonformal lainnya dapat meminimalisir remaja Aceh dari pelanggaran syari’at yang makin didengungkan di bumi Serambi Mekah. Semoga. 

Penulis adalah Pengurus Dayah Darul ‘Ulum Abu Lueng Ie – Aceh Besar.
 
SHARE :
 
Top