Melalui Milad Media LAMURI Yang Ke-10 Kami Terus Berbenah Untuk Berbagi Informasi Kepada Pembaca (15 Juli 2010 - 15 Juli 2019) Ibu, Maaf Tak Ada Bunga Untukmu Oleh : Rafrafin Khusrian - Lamuri Online
Loading...

Dalam silaturrahim beliau ke salah seorang seniornya, dengan gurau beliau berkata: Ayo, sudah cari kado belum untuk hari ibu? Di grup orang-orang baik yang ada di sosial media pun bermunculan berbagai kreasi gambar tentang kemuliaan seorang ibu yang ujungnya bertuliskan Selamat Hari Ibu. 

Beliau baru sadar kalau hari ini adalah bulan dimana hari ibu di peringati. Sejak dari awal, beliau katakan bahwa berbagai peringatan hari tersebut jelas bukan karakter agama Islam ini. Tak hanya hari ibu, juga ada hari ayah, hari tembakau, hari kanker dan entah hari-hari apa yang akan diusulkan lagi setelah hari ini. Ini hadir dari kebiasaan sebuah masyarakat yang tidak mampu memenuhi hak sesuatu yang di peringati tersebut. 

Maka untuk memberikan kepedulian dan perhatian mereka, hari itu diadakan. Silahkan cari tau sejarah hari-hari tersebut. Hari ibu ini contohnya. Hari yang mulai diramaikan di Amerika ini menjadi hari yang diperingati mengingat masyarakat Amerika adalah masyarakat tanpa ikatan kekeluargaan seperti yang kita kenal dalam sejarah Islam. 

Semakin hari semakin renggang, bahkan bisa tidak saling kenal. Kawin cerai semakin membuat rumit hubungan antara anak dan orang tuanya. Tidak ada Birrul Walidain dalam kajian etika mereka. Melihat itu semua, nurani mereka mulai terusik. Ibu yang berjasa –setidaknya-mengandung dan melahirkan, harus dihormati jasanya. Bahkan gereja tidak sanggup menyuguhkan moral itu. 

Hingga Anna Jarvis tahun 1908 untuk kali pertama membawa bunga yang dibagikan kepada para jemaat yang ada di gereja tempat dahulu ibunya beribadat. Sebelum itu semua, Julia Ward Howe sudah mengkampanyekan ibu untuk diselamatkan di Inggris. Dalam rangka menyatukan wanita untuk melawan peperangan yang sedang terjadi. Anna Jarvis memilih waktu minggu, karena ia ingin menjadi peringatan yang berkekuatan spiritual gereja. Kongres Amerika baru menyepakatinya sebagai hari resmi nasional pada tahun 1914. Tapi tahukah, kalau Anna Jarvis akhirnya menyesal? 

Hanya sembilan tahun setelah diresmikannya hari ibu, Amerika mulai berpesta setiap hari ibu tiba. Dengan dalih menghormati ibu, mereka hanya memanfaatkannya untuk bisnis dan merketing berbagai hadiah dipasar. Sakralitas gereja telah berubah menjadi sebuah ajang marketing pasar. Anna Jarvis menyesal, “Saya berharap bahwa saya tidak memulai hari ini, karena ini telah keluar dari kendalinya.” Anna mengerahkan sisa hidup dan hartanya untuk mengembalikan hari yang telah disesalinya itu. 

Dengan semua kemarahannya. Tapi tanpa hasil. Bahkan disebutkan bahwa ia ditangkap tahun 1948 gara-gara demo atas keruhnya hari ibu, dia dianggap mengganggu keselamatan. Maaf, apa istimewanya sejarah hari ibu diatas? Bermula dari pembagian bunga dan hanya berujung pada penjualan bunga. Berawal dari gereja berujung dengan penyesalan dan akhirnya penangkapan. 

Cermatilah semua peringatan yang mereka buat. Tak jauh dari suasana seperti ini. Perlahan tapi pasti, peringatan seperti ini sudah memasuki tubuh muslimin yang tak lagi mempunyai pertahanan kokoh. Termasuk di negeri ini. Kadang kita lupa kalau kita muslim. Tak memerlukan sebuah hari dimana kita menghormati dan berbakti kepada ibu kita. Maaf ibu, tak ada bunga untukmu. Tak ada kartu tak pula makanan makanan kesukaanmu hanya dihari ibu ini. Karena aku sadari sepenuhnya kaulah segalanya. 

Tempatmu hanya sederajat di bawah Allah dan RasulNya, tiga kali lipat diatas ayah kau lebih mulia ibu. Syurga ada di bawah telapak kakimu ibu. Kau pintu syurga anak-anakmu. Makhluk yang paling berhak terhadap diriku adalah dirimu. Perintah Al Quran untuk bakti hanya menyebut jasamu. 

Doa ampunan dan kasih sayang selalu dikirimkan untukmu. Setelah amal dan dalam sujud panjangku selalu ada kado doa untukmu. Bahkan, bakti kepadamu tak terhenti setelah tiadamu untuk mengantar yang terbaik hingga peristirahatan indahmu. Untuk semua janji, kewajiban dan wasiatmu. Untuk saudara dan kerabatmu. Untuk teman baikmu. Karena seluruh hidupku untukmu di setiap hela nafasku. 

Sadar, tawaf menggendongmu tak mampu membalas setetes air susumu. Dan karena bakti tak mengenal hari. Maaf ibu, tak ada bunga dariku dihari ini. 

Sumber : Ust.Budi Ashari, Lc
SHARE :
 
Top