Loading...

Lamurionline.com--Banda Aceh : Insya Allah, Senin (19/9) siang (14.30 WIB), Kloter 1 (BTJ-01) mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskanda Muda (SIM) Blang Bintang Aceh Besar.


Berikutnya ke Debarkasi Banda Aceh (BTJ) tiba Kloter 2 (Selasa, 20/9, 15.10), Kloter 3 (Rabu, 21/9, 14.30), Kloter 4 (Kamis, 22/9, 12.50), Kloter 5 (Sabtu, 24/9, 14.30), Kloter 6 (Ahad, 25/9, 12.20), Kloter 7 (Senin, 26/9, 12.30), Kloter 8 (Selasa, 27/9, 12.10), dan selang 18 hari, tibalah Kloter Gabungan/Kloter 9 (Sabtu, 15/10, 10.25 WIB).

Jika jamaah haji dan umrah asal Aceh pada 2016/1437 Hijriah ini, ditambah dengan yang sudah (lama) pulang, maka sudah adalah ratusan ribu haji dan hajjah dinanggroe ini. Belum lagi andai ditambah dengan yang ada di nusantara, dan yang sedang waiting list (dapat porsi),atau yang baru membuka rekening haji di bank-bank syari'ah itu.

Menurut perhitungan Prof Dr H Hasballah Thaib MA, ibadah haji dan umrah, masuk ritual paling banyak membutuhkan biaya. Tahun ini saja, jika jamaah haji dan umrah Aceh 2016 dihitung kasar, sekitar empat ribu orang, dan per orang mengeluarkan biaya sekitar Rp35 juta, maka yang harus dikeluarkan dari Aceh ke Arab Saudi, sebanyak Rp140 milyar. Angka itu belum lagi ditambah dengan biaya qurban, dan pembelian oleh-oleh per jamaah.

"Alangkah sayang, dana yang begitu banyak yang dikeluarkan, bila target haji mabrur tidak didapat. Umat Islam dalam melaksanakan haji masih terpacu pada simbol-simbol dan atribut yang dipakai, sebagian lupa pada hakikat ibadah yang sebenarnya," ucap Prof Dr HM Hasballah Thaib MA,Prof Dr H M Hasballah Thaib, yang juga Ketua Pembina Yayasan Misbahul Ulum Muara Satu Paloh Lhokseumawe itu.

Ajak Profesor yang juga sahabat Dr 'Aidh Al-Qarni dan Prof Dr Naguib Al-Attas itu lagi, jika jamaah terfokus dalam melempar jamarah, agar batu bisa masuk ke lobang yang disediakan, maka fokus pula melempar setan (syaithan) dalam dada ini.

"Jangan akhirnya jamaah kita pulang ke Aceh dengan menyertakan pulang bersama setan Mina," kata profesor, yang juga mengurus Fatih School di Banda Aceh.

"Di airport, setan itu keluar dan bergabung dengan setan lainnya, serta menyebar ke seluruh Aceh. Betapa sulitnya membangun Aceh jika digoda terus oleh setan yang dibawa serta jamaah dari Arab itu tiap tahun," sambung H Hasballah (Guru Besar UIN Sumut dan dosen di Medan dan kampus lainnya itu), bertamsil, di hadapan pejabat, termasuk Gubernur dan Wagub itu.

Ajaknya lagi, "Saya sering katakan pada jamaah haji yang mau berangkat supaya banyak-banyak membawa setan Aceh ke Mina, supaya dilempar oleh Tamu-tamu Allah di sana."

Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah haji tahunan ke Kota Suci Makkah. Para jamaah haji, juga dari Aceh, melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang (jumrah, jamaraat) yang berada dalam satu tempat bernama kompleks Jembatan Jumrah, di Kota Mina yang terletak dekat Makkah.


Para jamaah mengumpulkan batu-batuan tersebut dari tanah di hamparan Muzdalifah dan meleparkannya. Syiar ini, adalah kegiatan kesembilan dalam rangkaian kegiatan-kegiatan ritual yang harus dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji, dan umumnya menarik jumlah peserta yang sangat besar.

Sebagian orang beranggapan bahwa melempar jumrah sama dengan melempar setan yang sedang diikat di tugu jamrah. Saking yakinnya dengan keyakinan ini, sampai-sampai mencari batu yang besar untuk melontar jumrah. Bahkan sampai ada yang melempar dengan sendal, sepatu, botol dan yang lainnya.

Padahal, ajak Profesor Hasballah dalam khutbah Idul Adha 1437 Hijriah, di Blang Padang, tiga hari lalu itu, yang lebih penting, di samping syiar dan simbol adalah hakikat dan esensi, atau hikmahnya.
Selamat datang Tamu Allah, hujaj (haji dan hajjah), ke Aceh pada Senin (19/9) ini. Moga mabruur/mabruurahaamiin ya Allah... [Yakob/Kemenag Aceh]
SHARE :
 
Top