Loading...

Saya dan rombongan keluarga besar Tgk Sulaiman Lamkabeu, Aceh Besar, 6-8 Oktober 2016 lalu, bekerkesempatan mengunjungi Kampung Aceh di Yan, Negara Bagian Kedah, Malaysia. Dari pintu masuk ke kampung Aceh ini, kita dapat membaca papan nama yang menarik perhatian dan bertulisan agak besar: Kampung Acheh.

Masyarakat Aceh yang telah lama bermukim di Kampung Aceh itu antara lain berasal dari Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Barat dan Aceh Timur. Mereka datang ke semenanjung Malaka itu pada masa perang Aceh dengan Belanda. Berada kampung Aceh ini, terasa seperti suasana di kampung halaman sendiri.

Menurut catatan sejarah, orang Aceh mula-mula hijrah ke Yan ini terjadi dalam kurun waktu 1888 hingga 1925. Kala itu, di Aceh sedang berkecamuk perang dengan penjajah Belanda. Sejak itu komunitas masyarakat Aceh terus berkembang, sehingga terbentuk sebuah komunitas sendiri yang sekarang kita kenal sebagai Kampung Aceh.

Kami menuju kampung ini melalui jalan darat dengan mobil dari Pulau Pinang sekitar 90 kilometer.Karena perjalanan malam hari, kami tak dapat melihat alam sekitar secara terang, hanya mengadalkan informasi pemandu H Afifuddin Bin Abdullah Bayanoeddin. Dia keturunan Aceh yang berkerja pada Kementrian Perdagangan Dalam Negeri Koperasi dan Kepenggunaan, Malaysia. Kami tiba tengah malam di kampung Aceh.

Esok pagi kami merasakan nuansa lingkungan Kampung Aceh persis seperti sedang berada di pedalaman Aceh Besar. Di sekeliling kampung kelihatan banyak pohon berbuah musiman, seperti durian, manggis, langsat, rambutan dan lain-lain. Agenda utama kami pagi itu ziarah ke makam Abu Indrapuri (Tgk H Hasballah Indrapuri), Tgk Syekh Oemar,  Tgk Abdul Hamid Aneuk Batee dan lain-lain.

Menurut Tgk Abdul Rahman Yasin, orang Aceh yang ada di Kampung Aceh ini tetap mempertahankan tradisi keacehan. Tradisi itu tak hanya terlihat pada hari-hari besar Islam, tapi juga pada kenduri Maulid Rasul dan pesta perkawinan. Adat istiadatnya masih seperti yang berlaku di Aceh.

H Harun Keuchik Leumik, yang menurut Abdul Rahman setiap tahun datang ke Kampung Aceh mengatakan, semua orang Aceh yang sudah merantau ke luar dari Kampung Aceh, baik ke Pulau Pinang, ke Alor Star, Kuala Lumpur, atau bahkan ke negara-negara bagian Malaysia lainnya, mereka selalu pulang setiap hari raya ke kampung halamannya, yaitu ke Kampung Acheh untuk berlebaran dengan sanak saudaranya. Banyak di antara mereka menjadi pengusaha sukses di Malaysia.

Kami juga sempat mengunjungi Meunasah Aceh. Meunasah ini dibangun atas sumbangan Tan Sri Sanusi Juned, mantan Menteri Pertanian Malaysia juga Menteri Besar Kedah dan mantan Presiden Universiti Islam antar Bangsa Malaysia dan mantan Ketua Ikatan Masyarakat Aceh Malaysia (IMAM).

Obyek wisata sosial menarik lainnya, Kampung Atjeh Management Centre (KMKC). Ini adalah sebuah taman yang terletak di tengah-tengah Kampung Aceh di areal seluas dua hektar. Taman ini dikelola oleh IMAM.

Taman ini dapat kita gunakan bila berwisata dan bermalam di Kampung Aceh. Lokasi KMKC tempatnya sangat teduh, dikelilingi pegunungan yang indah dengan aneka pepohonan rindang dan terawat rapi. Di tengah-tengah taman terdapat sebuah anak sungai yang airnya berasal dari pegunungan yang bening dan jernih.Pepohonan yang tumbuh di taman KMKC seperti rambutan Aceh, durian, manggis, cempedak, langsat (duku), dan pohon-pohon berbuah lainnya.

Ketua IMAM, Jazni Bin Gani mengatakan, taman KMKC ini terus diperluas. Sudah dibeli tanah hingga ke seberang sungai. Demikian pula dengan fasilitasnya, rumah-rumah penginapan (homes stay) dibangun dengan indah, lengkap dengan kolam renang yang sumber airnya berasal dari pegunungan yang sejuk. Setiap home stay diberi nama dengan nama bunga yang terdapat di Aceh dalam bahasa Aceh.

Kami menghabiskan waktu dua malam di Kampung Aceh dengan kegiatan diskusi tentang Aceh di KMKC, mengunjugi wisata Titi Ayun, ziarah makam ulama Aceh, keliling kampung, shalat Jumat di masjid Yan, wisata kuliner, menghadiri kenduri warga Kampung Aceh yang baru pulang ibadah haji dan silaturrahim dengan keluarga besar Abu Indrapuri. Kami meninggalkan kampung Aceh Sabtu (8/10) menuju Jitra dan Alor Star untuk urusan pertunangan Ahmad Faizuddin, MEd, mantan Ketua Remaja Masjid Abu Indrapuri, Aceh Besar dengan gadis Kedah.

Disadur dari Sayed Muhammad Husen.com - Pembina Redaksi BULETIN LAMURI

SHARE :
 
Top