ads1

Ketua Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA mengalungkan selempang pada acara tasyakuran dan pengukuhan kepada 15 mahasiswa angkatan kedua pada semester ganjil 2017/2018 di Komplek Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar, Sabtu (22/07)
Lamurionline.com--Krueng Barona Jaya. Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh yang merupakan lembaga pendidikan binaan Dewan dakwah Aceh menggelar tasyakuran dan pengukuhan kepada 15 mahasiswa angkatan kedua pada semester ganjil 2017/2018 di Komplek Markaz Dewan Dakwah Aceh di Gampong Rumpet, Kec. Krueng Barona Jaya, Kab. Aceh Besar, Sabtu (22/07). 

Prosesi pengukuhan dilakukan oleh Direktur ADI Aceh Dr Muhammad AR M.Ed, Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh Dr Tgk Hasanuddin Yusuf Adan MCL MA dan Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan, Dakwah dan Kaderisasi Dewan Dakwah Pusat Dr Muhammad Noer MA bersama civitas akademika kampus tersebut. 

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Aceh Besar yang diwakili oleh Kabag Keistimewaan dan Kesejahteraan H Zulkarnain, SE MKes, Ketua KNPI Aceh Jamaluddin ST, Ketua IKAT Aceh M Fadhil Rahmi Lc, Perwakilan OKP dan Ormas, Muspika Kec. Krueng Barona Jaya dan orang tua wisudawan. 

Ketua Panitia yang juga Sekretaris ADI Aceh Dr Abizal Muhammad Yati Lc MA dalam laporannya mengatakan ADI Aceh sudah berjalan selama 4 tahun dan telah melahirkan alumni sebanyak 35 orang. Tahun lalu angkatan pertama berjumlah 10 orang. 

“Alhamdulillah angkatan kedua ini berjumlah 15 orang. Dan semua mareka berasal dari daerah pedalaman dan perbatasan Aceh,” kata Abizal. 

Ia merincikan ke 15 lulusan tersebut berasal dari Aceh Singkil sebanyak 1 orang, Subulussalam 8 orang, Simeulue 3 orang, Aceh Tenggara 2 orang dan Gayo Lues 1 orang. Sementara Direktur ADI Aceh Dr Muhammad AR M.Ed dalam sambutannya mengatakan lahirnya ADI Aceh dikarenakan adanya kerisauan ketika melihat kondisi ummat terutama di daerah pedalaman dan perbatasan Aceh yang sudah lalai dari kewajiban yang diperintahkan kepadanya. 

Ia mencontohkan di banyak tempat didapatinya mesjid-mesjid dan meunasah yang tidak ramai bahkan kosong saat waktu shalat tiba. Ditambah lagi dengan perilaku manusia yang sudah tidak sesuai lagi dengan anjuran dan tuntunan agama. 

“Awal mula pendirian ADI bukanlah tugas yang mudah. Banyak kendala yang dihadapi terutama dalam hal fasilitas dan finansial. Alhamdulillah berkat bantuan banyak pihak, semuanya dapat berjalan dengan baik dan lancar,” ungkap Muhammad AR. 

Selama belajar di ADI Aceh tambahnya, semua biaya pendidikan dan akomodasinya ditanggung sepenuhnya oleh Dewan Dakwah Aceh. Dari itu Ia meminta kepada pemerintah untuk membuka mata, hati dan telinganya untuk membantu dakwah. Karena dukungan dakwah dari pemerintah sangat diperlukan untuk kemaslahatan ummat. 

“Kepada para lulusan kami sangat berharap agar dapat menjadi pembela akidah serta mampu mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di tengah-tengah masyarakat,” tegas Muhamad AR. 

Muhammad AR menambahkan ke 15 lulusan ADI ini akan melanjutkan kuliah ke Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir di Jakarta. Dan semua pembiayaannya selama belajar juga di tanggung oleh Dewan Dakwah. 


Mereka akan berangkat pada 25 Agustus 2017. Tasyakuran dan pengukuhan itu juga diisi dengan orasi ilmiah oleh Dosen UIN AR Raniry Dr Rahmadon Tosari Fauzi, MEd dengan judul “Revitalisasi Konsep bil Hikmah Dalam Kerja Dakwah Modern”.(Murdani TJ)
SHARE :
 
Top