ads1


Sehubungan dengan fenomena mengecat baju dan rambut yang dilakukan oleh para siswa SMA setiap tahunnya dalam merayakan kelulusan ujian Ujian Nasional (UN) mereka, khususnya para siswa yang baru lulus ujian UN baru-baru ini. Da'i dan Ustaz Pemerhati Agama dan Sosial, Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA mengecam perilaku tersebut, sebagaimana rilis yang diterima Lamuri Online.com, Minggu (06/05)

Ia menyebutkan jumlah siswa SMA yang sangat ramai dengan konvoi sepeda motor mereka ini sangat mengganggu masyarakat sampai membuat macet jalan utama terutama pada waktu maghrib.

"Shalat maghrib dilalaikan bahkan ditinggalkan, sebahagian besar mereka bergoncengan antara laki-laki dan perempuan" ujarnya.

Ia juga menyayangkan dan mengecam perilaku buruk para siswa SMA tersebut. Sepatutnya sebagai orang yang terpelajar, para siswa tidak melakukan perilaku buruk tersebut, terlebih lagi di waktu azan maghrib mereka masih berkumpul dan berhura-hura. 

"Kewajiban shalat maghrib dilalaikan bahkan bisa jadi ditinggalkan. Ini menunjukkan mereka tidak punya akhlak dan tidak terdidik dengan baik. Inilah kondisi anak-anak kita yang sangat memprihatinka. Krisis akhlak dan pengamalan agama" ujar Yusran lagi.

Selain itu, sebutnya perilaku para siswa telah melanggar syariat Islam yang melarang menyerupai dan mengikuti orang kafir. 

"Perilaku siswa tersebut juga menujukkan kegagalan pendidikan sekolah selama ini. Sekolah dianggap gagal dalam mendidik akhlak siswa dan berperilaku islami. Persoalan ini merupakan tanggung para orang tua dan guru sekolah masing-masing. Sepatutnya mereka telah mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang mulia dan islami.

Sepatutnya para siswa menyikapi kelulusannya itu dengan bersyukur kepada Allah Swt, bukan dengan maksiat" jelas Ustad yang juga Pengurus Dewan Dakwah Aceh dan Anggota Ikatan Ulama dan Da'i Asia Tenggara ini.

Oleh karena itu, ia meminta kepada setiap orang tua siswa untuk memberikan pendidikan agama terhadap anaknya, termasuk memberi pendidikan akhlak dan pemahaman bahaya dan haramnya pergaulan bebas. Juga mengawasi pergaulan anaknya dan melarang anaknya berbuat maksiat.

Selain itu, sebut Yusran lagi, Pemerintah Aceh memberi teguran kepada sekolah-sekolah yang siswanya terlibat dalam pesta hura-hura dan maksiat ini. Selain itu, pemerintah menginstruksikan sekolah-sekolah untuk memberikan pembinaan kepada para siswanya tersebut.

Selain itu Dosen Fakutas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry ini juga meminta kepada pihak polisi dan Wilayah Hisbah (WH) untuk bertindak dengan melarang dan membubarkan kegiatan para siswa tersebut.

"Jika perlu ditangkap dan diberikan pembinaan di kantor polisi atau kantor WH. Kegiatan mereka telah mengganggu kenyamanan masyarakat dan melanggar syariat" tegasnya. (*)
SHARE :
 
Top