Loading...

Likok Pulo dan Tari Peumulia Jamee Jadi Andalan


LAMURIONLINE.COM I ACEH BESAR – Event festival seni budaya di Kabupaten Aceh Besar akan segera digelar pada 26 – 31 Oktober 2019 di Arena Jantho Sport City (JSC), Kota Jantho. Dua perlombaan menarik akan tersaji bagi masyarakat Aceh Besar terutama pencinta dan penikmat seni di Aceh Besar, Kegiatan tersebut akan memperlombakan Tari Likok Pulo yang merupakan Tari Tradisi Khas dari salah satu kecamatan di Aceh Besar, yaitu Pulo Aceh dan Tari Kreasi Baru yang akan menampilkan tari peumulia jamee.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Aceh Besar, Dra Zaimah MSi dalam rapat finalisasi di Gedung Dekranasda Aceh Besar, Gampong Gani, Ingin Jaya, Rabu (23/10) mengatakan panitia penyelenggara telah mempersiapkan segala keperluan terkait festival seni budaya ini, termasuk pentas utama, lokasi dan keamanan bagi pengunjung nantinya.

“Beberapa waktu lalu juga sudah dilakukan technical meeting dan sehari sebelumnya juga sudah digelar rapat bersama panitia bidang lomba tari kreasi dan tradisi. Insya Allah kegiatan ini siap kita laksanakan” ujar Zaimah.

Lebih lanjut Zaimah mengharapkan kepada masyarakat Aceh Besar untuk bisa meramaikan festival seni ini sebagai bentuk pelestarian seni budaya di Aceh Besar.

dok. IST
Hal senada disampaikan Sekdisbud Aceh Besar, Fata Muhammad SPdI MM, dimana ia mengajak panitia untuk menviralkan even budaya ini di media sosial agar masyarakat tahu dengan even perdana Aceh Besar dalam bidang seni tahun 2019, sekaligus ajang promosi kabupaten Aceh Besar kepada khalayak ramai.

Seluruh stakeholder, sebut Fata akan dilibatkan dalam kegiatan ini, termasuk Satpol PP, Polisi, Dishub, K3S, MKKS, Himpaudi dan IGTKI.

Selain festival seni budaya yang diselenggarakan di malam hari di Open Stage Outdoor JSC Kota Jantho, panitia juga akan menggelar lomba masak kuah beulangong pada malam penutupan yang akan diikuti oleh Kepala SD dan SMP.


Untuk diketahui, Tari Likok Pulo yang termasuk dalam tari tradisi Aceh Besar adalah sebuah tarian tradisional. "Likok" berarti gerak tari, sementara "Pulo" berarti pulau. Pulo di sini merujuk pada sebuah pulau kecil di ujung utara Pulau Sumatra yang juga disebut Pulau Breuh, atau Pulau Beras, sebagaimana tercatat dalam Wikipedia Indonesia.
Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, adalah satu-satunya tari tradisional yang berkembang di masyarakat Pulo Aceh. Untuk pertama kalinya, tarian ini lahir di desa Ule Paya sebagai hasil karya dari seorang pedagang sekaligus seorang ulama bernama Syeh Ahmad Badron, seorang ulama tua berasal dari Arab yang terdampar di Pulo Aceh saat mengarungi samudera.
Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu. 

Sementara tari peumulia jamee merupakan koreografi yang dipadukan dalam tari kreasi baru yang menonjolkan identitas masyarakat Aceh Besar yang memuliakan tamu yang datang. 

Editor: Abrar
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top