Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

Ilustrasi
Muhasabah 1 Rabiul Akhir 1441
Saudaraku, kita sering mendengar ujaran hikmah bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ujaran hikmah ini kira-kira dipahami bahwa seorang anak dekat atau mirip dengan orangtuanya. Dekat atau mirip di sini bisa bersifat fisik lahiriyahnya, tetapi juga bisa bersifat phikhis dan perilakunya. Hal ini terjadi, karena ada yang diturunkan dan ada yang harus diwariskan, meski dengan cara yang berbeda. Dengan demikian di antara yang penting disadari tentang kedirian masing-masing kita dan anak-anak kita adalah ada hal-hal yang diturunkan tetapi juga terdapat banyak hal yang mestinya diwariskan dari orangtua kepada anaknya.

Hal-hal yang diturunkan bersifat heridities.  Di antara faktor heridities yang lazim diturunkan dari orangtua kepada anak-anaknya secara genetik adalah kondisi fisik lahiriyah seperti warna kulit, paras muka, tinggi badan, hidung mancung, golongan darah, sejarah penyakit fisik dan cirikhas lahiriyah antara ayah dan ibu. Semua ini melebur dan secara heridities dapat diturunkan kepada putra putrinya secara given dan otomatis. Makanya seringkali kita dengar ungkapan bahwa anak copian dari ayahnya, atau ibunya dan seterusnya.

Adapun kecerdasan, keimanan, kekatakwaan dan kesalihan harus diwariskan oleh orangtua melalui pendidikan. Di sinilah mengapa kualitas keimanan, ragam kecerdasan, tingkat ketakwaan dan kesalihan yang dikukuhkan oleh orang tua harus terus menerus istiqamah dipertahankan dalam hidup dan kehidupan kesehariannya sembari mewariskan, mentrasfer nilai religiusitas kepada putra putrinya. Inilah bedanya antara penurunan faktor heridities dan pewarisan nilai.

Tingkat kecerdasan, keimanan, ketakwaan, kesopansantunan, kearifan, kewaraan dan ragam kualitas emosional spiritual lainnya tidaklah genetik dan tidak heridities, tetapi perlu usaha maksimal mewariskannya melalui pengasuhan, pembimbingan, pembiasaan, pembinaan dan pendidikan intensif lainnya.

Makanya seorang ayah, ibu, guru, kyai atau teungku yang memiliki kualitas keislamannya yang mumpuni harus terus istiqamah mewariskan nilai-nilai keluhurannya kepada putra putrinya melalui pendidikan. Agar anak dekat atau mirip dalam berakhlakul karimah sebagaimana yang telah dicontohkan okeh kedua orangtuanya.

Karena kualitas keislamannya tidaklah given, tidak otomatis nurun ke anak beda dengan faktor heridities sebelumnya. Inilah ayah yang teungku, ibu yang guru shalihat tidaklah kemudian tidak secara otomatis menjelma pada anak-anaknya. Dan seterusnya

Oleh karena itu ketekunan, kerajinan, kreativitas berkarya, kedermawanan, kesopansantunan, kebersahajaan, kerendahhatian, keindahan, kedamaian, kesejahteraan, keadilan, kedermawanan, kepiawaian, kebijaksanaan adalah di antara nilai adiluhung universal yang dijunjung tinggi okeh bangsa kita mestinya terus diwarisi dan diwariskan oleh antar generasi melalui pendidikan.

Ketika dapat mensyukuri karunia Allah berupa  bakat dan keadaan diri sembari mewariskan nilai-nilai yang adiluhung bangsa dan agama, maka selayaknya kita mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri dengan hati yakni meyakini sepenuh hati bahwa Allah ada banyak hal yang given yang mestinya kita mensyukuri dengan memberdayakannya sehingga menggapai kemaslahatan dunia dan akhirat.

Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya mengucapkan alhamdulillahi rabbil 'alamiin, senoga Allah mengarugrahi hidayah dan inayahNya kepada kita sehingga amanah dalam mengantarkan anak-anak kita untuk eksis di zamannya.

Ketiga, mensyukuri dengam langkah konkret, di antaranya berdoa dan berusaha mewariskan nilai-nilai keluhuran melalui pemberian pendidikan terbaik, sehingga anak-anak kita mampu menyongsong dan eksis di zamannya.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Rabbiy ya Allah ya Quddus dan seterusnya. Ya Allah, zat yang maha mendidik zat yang maha suci,  maka tunjukilah kami agar menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri karuniaMu.
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top