Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: infokomputer.GRID.ID
Muhasabah 29 Rajab 1441
Saudaraku, kebijakan yang mengikat untuk beraktivitas di rumah atau kediaman saja untuk memutus mata rantai penularan dan pandemi virus corona kini di antaranya telah menyadarkan kita betapa pentingnya memiliki rumah. Coba bayangkan? Bagi sebagian orang yang tidak punya rumah atau para tuna wisma, ke mana mereka harus pulang? Atau coba bayangkan sebagian saudara kita yang rumahnya kecil, sempit dan minimalis tetapi harus menampungi semua anggota keluarganya dengan agenda kerja nasing-masing? Makanya dalam forum muhasabah ini saya pernah memperingati diri untuk mensyukuri rumah, syukur-syukur "besar, luas, aman, heigenis, dan indah".

Betapa bersyukurnya bila telah memiliki rumah sendiri sehingga tidak harus menyewa untuk setiap bulan atau tahunnya. Apalagi rumah itu dekat dengan tempat ibadah, dekat dengan tempat dimana kita mencari nafkah, dekat dengan institusi pendidikan anak-anak, dekat dengan tempat perbelanjaan.

Tetapi kita mesti juga ingat karena pada suatu waktu Ali bin Abi Thalib merasa terheran-heran saat membesuk sahabatnya, A'la bin Ziyad al-Haritsi karena rumah kediamannya amat indah, besar nan luas, lalu Ali berkata; "Apa sejatinya yang akan anda lakukan dengan rumah seluas ini di dunia? Bukankah anda lebih memerlukannya saat di akhirat nanti? Namun, jika menginginkan juga, anda dapat meraih kebahagiaan akhirat dengannya, yakni bila di dalamnya anda menjamu dan menghormati para tamu,  berbuat baik kepada kaum kerabat (baca apalagi menjadi rumahnya anak-anak yatim), dan menampakkan kebenaran yang harus ditampakkan. Dengan begitu anda telah menjadikannya sarana baik guna mencapai kebahagiaan akhirat.

Ibrah nasihat Ali bin Abi Thalib di atas di antaranya adalah tuntunan menikmati kesenangan duniawi dengan niat dan sikap yang benar agar tetap dalam rangka meraih kesempurnaan kesenangan di akhirat kelak. Di antara kesenangan duniawi adalah memiliki rumah indah nan luas. Di sana juga terhampar halaman yang luas dengan aneka tanaman hias dan buah-buahan yang menggugah selera, di tengahnya ada kolam yang jernih airnya dan seluruh lahannya dikelilingi pagar pengaman yang kuat dan rapat. 

Rumah atau papan memang merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang di samping sandang dan pangan, sehingga kecenderungan untuk memilikinya sandang pangan papan menjadi niscaya. Bahkan dalam praktinya, rumah menjadi tempat utama dalam siklus rutinitas aktivitas setiap orang. Nah di sinilah, bisa dipahami bila keinginan membangun dan memiliki rumah sehingga dapat hidup bersama istri/suami, anak dan keluarganya tidak bisa disembunyikan. Beragam cara ditempuh sehingga idealitas memiliki rumah juga rumah tangga tercapai. 

Secara lahiriyah seperti bentuk, kondisi, kekokohan, kerapian, kebersihan keindahan harus diupayakan karena sebagiannya dapat mencerminkan gambaran tabiat penghuni dan ahli baitnya. Inilah mengapa dahulu sejak awsl mula nenek moyang manusia, sebelum diturunkan ke bumi, Adam dan Hawa disekenariokan oleh Allah singgah di surga yang penuh kenikmatan, keindahan, keasrian, kerapian, keteraturan, kebersihan, kesejahteraan dan ragam kemakmuran lainnya.

Idealitas surga seperti gambaran di atas tentu bukan hanya dunia cita-cita semata, tetapi harus menjadi keseriusan setiap diri kita untuk merealisasikannya sejak kita hidup di sini, di dunia ini dan mulai dari rumah kita. Kita selalu berdoa dan berupaya menjadikan surga di rumah kita, baik secara lahiriyah apalagi secara maknawiyah bagi seluruh ahli baitnya.

Dengan demikian, rumahku surgaku di samping bermakna tempat tetapi juga nemiliki makna yang prinsip adalah kondisi. Bila yang pertama berkonotasi fisik lahiriyah, yaitu tempat tinggal, kediaman yang harus ditata, dipelihara dan diperindah. Maka yang kedua rumahku surgaku merupakan kondisi atai keadaan yang aman damai damai sejahtera bahagia dan membahagiakan.

Bentuk  dan ukuran rumah tentulah relatif, ada yang minimalis, ada yang sedang-sedang tetapi juga banyak rumah yang besar-besar. Bentuk dan ukuran seberapapun tentu harus ditata, dijaga kebersihannya, dipelihara dan diperindah serata bersahaja, karena semua ini tentu bisa berpengaruh terhadap kepribadian ahli baitnya dan kenyamanan tinggal di dalamnya. Namun demikian tetap saja yang lebih prinsip adalah kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang yang menempatinya.

Realitas selama ini menjadi bukti bahwa ternyata banyak orang merasa damai sejahtera dan bahagia meski rumah kediamannya sederhana, sebaliknya juga ada di antara manusia yang tidak merasakannya meski tinggal di rumah gedongan yang serba wah. Jadi ukuran damai sejahtera dan bahagia bukanlah terletak pada rumah tempat tinggalnya tetapi pada kondisi dan keadaan batiniah ahli bait atau orang-orang yang menempatinya. 

Bila orang-orang yang menempati suatu rumah kondisi batiniahnya indah, maka memantul pada keindahan perilaku kesehariaannya. Di antaranya akan memperindah tampilan lahiriyah kediamannya.

Dengan demikian keindahan dan keleluasaan rumah bukan saja fisik lahiriah tetapi substantif batiniah. Makanya dalam nasihat Ali bin Abi Thalib di atas, rumah yang indah dan luas semestinya dapat dijadikan sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan di akhirat dengan memanfaatkannya untuk kepentiingan umum, seperti menghormati atau melayani tamu, memuliakan kaum kerabat dan anak yatim, dan memanfaatkannya sebagai institusi dakwah dan pendidikan sehingga dapat mewariskan nilai yang seharusnya diwariskan ke antar generasi.

Ketika memiliki rumah yang luas nan indah baik secara lahiriah maupun batiniah, apalagi dimanfaatkan untuk layanan sosial, dakwah dan pendidikan, maka sudah sepantasnya kita mensyukurinya, baik di hati, lisan maupun perbuatan konkret.

Pertama, mensyukuri dengan hati yakni meyakini bahwa rumah ibarat tubuh dan penghuni rumah adalah hati dan akal, maka rumah yang indah nan luas itu penting, apalagi rumah itu ditempati oleh ahlu bait yang bersih, suci dan cerdas. Di sinilah rumah menjadi idaman, baitiy jannatiy. Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil 'alamin, semoga keasrian dan keleluasaan rumah yang kita tempati bersinergi dengan keindahan dan keleluasaan hati seluruh ahli baitnya, sehingga bisa merasakan kebahagiaan (baca surga) sejak di dunia ini. Dan dibangunkan rumah yang indah luas dan megah di akhirat kelak. Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret yakni memperindah tampilan rumah kediaman kita seraya memperindah budi pekerti seluruh ahli baitnya, sehingga kita betah beraktivitas di dalamnya.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Razzaq ya Wahhab. Ya Allah, zat yang maha mengaruniai rezeki, tunjukilah kami agar senantiasa mensyukuri.
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top