Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: tribunjakarta.com
Muhasabah 7 Syakban 1441
Saudaraku, sebagai orang Isam, kita dituntun untuk beriman pada putusan Allah apapun atas kita. Tetapi kesempurnaan iman hanya dapat dipenuhi dengan memaksimalkan ikhtiar. Makanya sembari berikhtiar semampunya, kita dituntun berdoa dan ujungnya bertawakkal pada Allah ta'ala. Terkait dengan segala ujian covid 19 yang kini dihadapi, maka kita juga harus bertaubat, bermunajat kepada Allah agar mengampuni segala dosa kita dan melindungi kita dari mara bahaya sembari memaksimalkan ikhtiar manusiawi kita.

Dalam konteks ikhtiar, setidaknya berusaha mematuhi aturan yang diberlakukan oleh ulil amri atau pihak yang berwenang, seperti lokcdown, sosial distancing, karantina, isolasi, atau pragram uzlah atsu lainnya. Secara internal, kita juga semakin peduli terhadap pola hidup bersih, sehat dan istiqamah dalam ibadah.

Dalam konteks doa, di antara doa agar dianugrahi kebaikan baik saat hidup di dunia maupun akhirat serta dijauhkan dari siksa api neraka adalah doa sapu jagat. Sesuai namanya yang lazim diajarkan oleh para ulama, doa sapu jagat yakni permohonan kebaikan menyeluruh dan sempurna, baik  di dunia maupun di akhirat.  Doa sapu jagat ini berbunyi sebagai berikut.

 رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
"Ya Allah ya Rabb kami, anugrahi kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".

Ya, permohonan yang biasanya menjadi pamungkas dari segala doa hamba. Permohonan memperoleh kebaikan, kebahagiaan dunia dan akhirat serta terhindar dari siksa neraka juga disebut dalam Al-Qur'an Qs. Al-Baqarah 201. 

Di antara kebaikan di dunia yang mengantarkan rasa bahagia adalah dikaruniai sehat wal afiat, istri atau suami yang baik, anak-anak yang salih salihah, rezeki yang cukup, kendaraan yang memudahkan, akal pikiran jernih dan hati yang selalu berorientasi pada rida Allah seraya bersyukur.

Kebaikan di dunia yang pertama, sehat wal afiat itu merupakan kebaikan karena menjadi prasyarat utama dan pertama untuk meraih bahagia. Sehat itu bisa menunaikan tugas sebagaimana mestinya, sementara afiat itu bisa menunaikan kewajiban sesuai syariat Allah ta'ala. Bila  kesehatan fisik saja terancam seperti adanya pandemi covid 19 kali ini, maka sudah bermasalah semua.  Kita umat Islam meyakini bahwa semua ini menjadi bagian sunatullahNya yang saling terjalin berkelindan. Maka kita memohon kepada Allah agar dianugrahi kebaikan berupa kesehatan, baik fisik maupun phikhis.

Kebaikan di dunia yang kedua, suami atau istri dan anak-anak yang shalih atau shalihah. Istri atau suami sebagai pasangan hidup yang seiya sekata menciptakan keluarga sakinah mawaddah warrahmah, baitiy jannaty dan menjadikan pranata keluarga sebagai agen yang waris mewarisi dan mewariskan surga pada anak-anaknya.

Saat masih lajang kita sering mendengar petuah bahwa berumah tangga itu sebagai sarana menyempurnakan keislaman seseorang. Malah pernah mendengar hal itu dapat menyempurnakan separuh dari agama. Memang banyak sekali pengalaman yang tersedia dan perasaan yang dirasakan oleh seseorang setelah berumah tangga, tidak pada sebelumnya. Tentu tidak semua bisa diceritakan dan diungkapkan dengan kata-kata, tetapi dirasakan oleh banyak orang yang sudah berumah tangga.

Di antara kebahagiaan dalam keluarga adalah kasih sayang istri atau suami, juga keluarga besar dan kehadiran putra putri tercinta, bahkan sejak kabar tentang kehamilan, ngidam, kelahiran sampai masa-masa kanak-kanak remaja dan seterusnya. Kehadiran anak-anak kita memberikan warna warni yang indah bagi kehidupan keluarga. 

Kini saat kebijakan lokcdown, social distancing, program uzlah diberlakukan,  sekeluarga bisa beraktivitas di rumah saja. Saat usai shalat berjamaah dan berdoa, berebut untuk duluan menyalami, saat mau tidur berebut minta didampingi dibacakan cerita nabi atau lainya dan seterusnya. Makanya kita panjatkan, rabbana hablana min azwajina wa durriyatina qurrata akyunin waja'alna lilmuttaqina imama.

Kebaikan di dunia yang ketiga, rezeki yang cukup, ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah, kendaraan yang memadahi juga merupakan ragam kebaikan yang mengantarkan kebahagiaan. Di samping itu, tentu dianugrahi hati yang selalu berorientasi pada rida Allah seraya bersyukur kepadaNya.

Kelak, setelah mampu melafalkan kalimat tauhid yaitu laailaha illallah, jelang wafat, maka di antara kebaikan di akhirat adalah. Pertama, mampu menjawab pertanyaan malaikat munkar nakir. Di alam barzah, semua orang akan dimintai pertanggungjawaban atas hidupnya selama di dunia. Di antaranya akan ditanya dengan 1. Man rabbuka? Siapa Tuhanmu? 2. Ma dinuka? Apa agamamu? 3. Man nabiyyuka? Siapa Nabimu? 4. Ma kitabuka? Apa kitabmu? 5. Aina qiblatuka? Di mana kiblatmu? 6. Man ikhwanuka? Siapa saudaramu? Kesuksesan menjawab pertanyaan ini merupakan kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. 

Kebaikan di akhirat yang kedua dapat melintasi jembatan sirathal mustaqim bagai kilat. Antara alam barzah dan surga di alam akhirat membentang shirathal mustaqim jembatan panjang, di bawahnya terpapar neraka. Orang-orang yang berhasil melintasinya akan masuk surga terhindar dari neraka, maka dipandang sebagai kebaikan.

Kebaikan di akhirat yang ketiga, menerima catatan amal dengan tangan kanan, masuk surga, bertemu atau bahkan melihat Allah ta'ala.  Di samping semua itu, juga terhindar dari siksa neraka. Oleh karenanya kita senantiasa berlindung kepada Allah agar dilindungi dari siksa api neraka. 

Saudaraku, untuk menjemput karunia Allah berupa kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat dan terhindar dari siksa neraka, maka perlu memaksimalkan ikhtiar mewujudkannya. Inilah mengapa ayat lanjutan dari doa sapu jagat tersebut Allah berfirman yang artinya Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya (Qs. Al-Baqarah 202)

Ketika kita dianugrahi kebaikan di dunia dan akhirat kelak serta terhindar dari siksa neraka, maka kini selagi di dunia ini saatnya bagi kita menambahi rasa syukur ke haribaan Allah ta'ala,  baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata. Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa bahagia harus diusahakan, dimohonkan sejak sekarang kita hidup di dunia ini agar dianugrahi kesenangan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Dengan memujiNya, semoga Allah menurunkan rasa bahagia kepada kita semua baik di dunia ini maupun akhirat nanti. Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, berdoa dan mengusahakan kebaikan sejak sekarang di dunia ini agar merasakan sesempurna kebaikan di akhirat kelak.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya Razzaq ya Wahhab ya Wa'id. Ya Allah, zat yang maha mengaruniai, zat yang maha mengembalikan, tuntun kami ke jalan keridhaanMu ya Rabb. Aamiin.
SHARE :
 
Top