Loading...

Oleh Rahmanda Zidane
(Mahasiswa Unimal Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Jurusan Sosiologi)


Penyebaran pandemi corona virus (covid-19) yang semakin meluas membuat semua kegiatan masyarakat sebaiknya dikerjakan di rumah saja. Bagi mahasiswa diterapkan sistem pembelajaran daring yang membuat perkuliahan menjadi tidak teratur, sehingga banyak mahasiswa yang merasa tertekan dengan keadaan. Dengan diterapkannya kebijakan pemerintah tentang perkuliahan secara online membuat mahasiswa kesulitan  untuk mengakses sistem perkuliahan sehingga hal ini menjadi problema dalam mahasiswa. Belum lagi  terhadap tugas yang diberikan oleh dosen. Perkuliahan sistem online ini bukan menjadikan mahasiswa untuk belajar dengan baik, malah menambah masalah bagi mahasiswa. Banyak kendala yang terjadi selama proses daring ini.  Mencari bahan kuliah yang diberikan tugas untuk dipelajari tidak semudah proses pembelajaran seperti biasanya. Yang nyatanya selama kuliah online yang dimulai pada tanggal 16 Maret 2020 - 29 mei 2020 membuat mahasiswa kesulitan karena selain akses yang tidak mudah, mahasiswa pun dituntut memahami materi secara mandiri.

Bukankah mahasiswa diliburkan sementara? Menjalankan kuliah online itu bukanlah salah satu cara  memutus rantai penyebaran Covid-19, yang terjadi nyatanya mahasiswa merasakan kekecewaan dan kepanikan lebih dari bahayanya Covid-19. Mahasiswa hanya di berikan materi untuk belajar mandiri setiap pertemuan, tanpa penjelasan yang detail terhadap materi yang telah diberikan.

Kebijakan untuk kuliah daring membuat mahasiswa kewalahan mengahadapinya, banyak kekurangan dalam melakukan kuliah daring ini. yang pada nyatanya mahasiswa yang jauh dari perkotaan tidak semuanya memiliki akses internet yang cukup memadai untuk kuliah online. Bahkan selama berjalannya kuliah online ini mahasiswa di perkampungan mencari jaringan hingga menaiki pohon atau bukit yang lebih tinggi untuk mendapatkan jaringan.

Sebagai contoh seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Jurusan PGSD meninggal dunia usai terlibat kecelakaan lalu lintas saat hendak mencari lokasi jaringan internet yang baik untuk kuliah online, dan juga mahasiswa di Nagan Raya, Aceh juga mencari jaringan hingga menaiki bukit untuk mendapatkan jaringan yang bagus, termasuk juga d idaerah perdesaan lainnya yang susah akan jaringan.

Bagi civitas akademika juga ada hal yang masih menjadi pertanyaan, bagaimana pihak rektorat dalam mengedukasi tenaga pendidik dalam menjalankan perkuliahan daring. Karena ada sebahagian dosen yang belum paham betul akan bagaimana kegiatan perkuliahan daring berlangsung, mahasiswa hanya diberikan tugas untuk dikerjakan di tiap pertemuan. Kondisi seperti ini harus segera diatasi oleh pihak Rektorat, agar memberikan edukasi terkait sistem pembelajaran daring bagi para dosen melalui Dekan ditiap  fakultas.

Dan tidak hanya itu saja kendala selama belajar online atau daring, mahasiswa juga mengeluhkan masalah data atau kuota internet untuk belajar daring, tidak semua mahasiswa memiliki budget untuk membeli paket internet setiap saat, bahkan pengeluaran selama kuliah daring ini melebihi jatah uang makan selama mahasiswa merantau perminggunya. Sehingga mahasiswa yang tidak mengikuti kuliah online karena tidak memiliki kuota tidak bisa belajar dan tidak bisa ujian, bahkan jikalau jaringan tidak bagus saat belajar online mahasiswa tidak bisa memahami materi yang telah diberikan oleh Dosen.

Padahal kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga sudah mengeluarkan surat edaran dalam rangka menfasilitasi mahasiswa dalam melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh/daring. Bahwasanya bantuan sarana pembelajaran mahasiswa dan dosen sepenuhnya diserahkan kepada pimpinan Perguruan Tinggi yang dikeluarkan pada tanggal 6 April 2020 kepada 64 kampus, bahkan Aceh sendiri termasuk dalam surat edaran tersebut yaitu Universitas Malikussaleh, ISBI ACEH, dan Universitas Syiah Kuala.

Saya sebagai bagian dari mahasiswa berharap pihak rektorat dapat mempertimbangkan hal ini dan mengambil keputusan dengan cepat dan bijak agar terselenggarakannya penbelajaran jarak jauh yang efektif dan efisien bagi dosen dan juga mahasiswa khususnya. kasus covid-19 ini tersebut bisa dijadikan sebagai sebuah pembelajaran bagi kita semua untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri dengan sang pencipta. Ini bukan permasalahan sebahagian orang, tetapi ini permasalahan kita semua.

"Sebab sejatinya belajar tidak harus selalu diberikan tugas, namun dari wabah kasus Covid-19 ini kita semua bisa belajar dan mengambil hikmah dari keadaan ini. Saya pikir ini lebih dari sebuah pembelajaran". tutur Rahmanda zidane
SHARE :
 
Top