Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: dutaislam.com
Muhasabah 3 Ramadhan 1441
Saudaraku, seperti yang sudah disampaikan dalam muhasabah yang baru lalu bahwa sebagian filosofi puasa adalah menunda menikmati kesenangan (makan, minum dan bercampur dengan istri atau suami) di siang hari sampai di sore hari. Nah filosofi berikutnya adalah puasa itu ternyata melahirkan harapan, ada yang diharapnantikan, yaitu kesenangan saat berbuka di petang tiba dan saat bertemu dengan Allah di surgaNya. Dan harapan seperti ini rasanya sulit terjadi bagi yang tidak melakukan puasa. 

Mengapa berbuka puasa adalah saat juga aktivitas yang ditunggu-tunggu? Di antaranya dari segi bahasa saja, berbuka puasa dalam bahasa Arab disebut dengan ifthar seakar kata dengan fithrah dari fathara. Maka makan atau minum atau menikah yang dengan menghalalkan hubungan suami istri itu merupakan bagian dari fithrah manusia, sesuatu yang sudah melekat pada setiap manusia. Makanya berpuasa terus menerus hingga malam tanpa berbuka dengan makan minum atau sikap tabattul (berniat membujang selamanya) termasuk menyalahi fitrah manusia, dilarang Islam.

Dan secara praktis, ternyata, di dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, terdapat banyak hal yang mesti ditahan, dikendalikan, dimanage dan tidak dihabiskan saat ini demi meraih cita cinta yang mulia pada saat yang akan datang. Saat masih kecil, kita sering dibiasakan melakukan ini dan tidak mengerjakan yang lainnya supaya kelak kalau sudah besar berhasil menjadi "orang". Begitulah orangtua mendidik anak-anaknya.

Saat itu dan seperti saat bersekolah, kita terus dingatkan bahkan sesekali dipaksa oleh orangtua atau guru kita untuk rajin berdoa, mengaji, shalat, belajar, berbakti pada orangtua, menghormati guru, menyayangi teman-teman dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dan kitapun mematuhinya. Sembari dengan itu kita juga diwanti-wanti untuk sekali-kali tidak bolos, tidak merokok, tidak boros, tidak bermain melulu, tidak pacaran, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak baik lainnya. Dan kitapun mematuhinya. Untuk apa semua itu dilakukan? Untuk sebuah harapan yang digantungkan. Yakni agar menjadi orang shalih bermanfaat bagi diri, keluarga, bangsa dan agama.

Saat pandemi covid 19 akhir-akhir ini, oleh ulil amri atau para pemegang kebijakan negeri ini kita dituntut untuk lockdown, social distancing, isolasi atau karantina mandiri, program uzlah, kalau terpaksa keluar rumah harus mengenakan masker, sering cuci tangan atau berwudhuk dan tidak menganggap sepele ujian ini. 

Secara imaniyah, kita juga dituntun untuk bertobat, berdoa, berpuasa, berbagi, berdzikir ingat Allah dan menegakkan shalat bersama keluarga di kediaman masing-masing. Dan kitapun mematuhinya. Untuk apa? Karena ada harapan yang kita gantungkan pada Allah ta'ala, agar pandemi covid 19 ini segera selesai tanpa menelan korban lagi dan semua kita terbebas dari mara bahayanya.

Saat hidup di dunia ini, Islam juga menuntun kita mengerjakan yang ini (karena ada yang wajib dan yang sunnah) dan tidak melakukan yang lainnya (karena haram atau makruh) agar meraih sukses di kemudian hari (baca juga di akhirat nanti).

Begitulah kira-kira analoginya bahwa berpuasa juga menciptakan peluang untuk tumbuhnya harapan. Ketika berpuasa maka akan ada saat yang ditunggu-tunggu, ysitu kesenangan di petang hari dan saat di akhirat ketika bersua dengan Allah ta'ala.  Nah, menciptakan peluang untuk tumbuhnya harapan mestinya selalu kita lakukan. Hidup bersih agar Allah ridha sehingga menganugrahi kesehaan. Kerja dan belajar keras agar Allah mempermudah jalan menuju kesuksesan. Mengajukan proposal agar dapat proyek. Melamar pekerjaan agar dipanggil lulus. Berkarya agar dapat penghargaan
Bersyukur agar berkah. Berislam agar masuk surga dan seterusnya.

Coba bayangkan jika ragam kesempatan sebagai peluang itu tidak dilakukan bagaimana mungkin kita menggantungkan harapan. Oleh karena itu ketika dapat memanfaatkan kesempatan atau peluang untuk melakukan hal-hal yang terbaik yang dituntun oleh syariat, maka sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah, baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata. 

Pertama, bersyukur di hati dengan meyakini bahwa memanfaatkan kesempatan atau peluang yang masih dianugrahkan oleh Allah merupakan sarana bagi kita untuk melahirkan harapan merasakan kebahagiaan hidup di sini dan di akhirat nanti.

Kedua, bersyukur dengan lisan seraya melafalkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Dengan bersyukur, semoga Allah menambah dengan mengaruniakan kenikmatan-kenikmatan kepada kita. Di antaranya nikmat menunaikan ibadah Ramadhan, nikmat sehat wa afiat, terbebas dari rasa takut akan nara bahaya.

Ketiga, bersyukur dengan langkah konkret, yakni berpuasa dengan istiqamah, agar dapat terus berharap kepada Allah akan kebaikan baik di dunia dan di akhirat kelak.

Sehubungan dengan muhasabah hari ini, maka dzikir penggugah jiwa penyejuk qalbu guna menjemput hidayah Allah ta'ala agar dianugrahi hati yang besyukur adalah membasahi lisan dengan ya Allah ya Ghaniy ya Allah ya Mughniy, ya Razzaq ya Wahhab, zat yang maha kaya, maha pemberi kekayaan, maha mengaruniai rezeki, tunjuki kami ke jalan meraih ridhaMu ya Rabb. Aamiin.
SHARE :
 
Top