Loading...

Oleh Sayed Muhammad Husen
Pemimimpin Redaksi Gema Baiturrahman 


Abu Hurairah r.a berkata bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, hendaklah ia menyambung sanak keluarganya. Barangsiapa beriman kepada Allah Swt dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq Alaih) 

Ayah Muhammad Husen bin Puteh, selalu membawa kami (anak-anaknya) bertamu setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha ke rumah Adnan tahun 1970-an di Sabang. Adnan, pimpinan Usaha Pemborong Adnan tempat ayah bekerja sebagai mandor pada proyek pembangunan jalan. Kami dilayani sebagai tamu yang berlebaran seperti tamu lainnya. Yang menarik dan tak terlupakan, ketika akan pulang kami masing-masing diberikan uang logam Rp 100,00 sebagai hadiah. Bahagia sekali rasanya. Bagi kami, uang Rp 100,00 waktu itu nilainya cukup banyak.

Kami semangat datang lagi pada hari raya berikutnya.  Kami kenang Adnan pribadi yang baik dan pemurah. Kenangan itu melekat dalam ingatan kami hingga dewasa. Adnan telah tiada. Namun tetap teringat dan mendoakan Adnan husnul khatimah. Dia sahabat dan mitra bisnis yang jujur dan setia bagi Ayah. Pribadi yang melayani anak-anak sebagai tamu istimewa. Tugas kami berikutnya adalah menjaga silaturrahim dengan keluarga besar Adnan. Salah seorang anaknya, Syukri Adnan, kini pengusaha sukses di Sabang.  

Kebiasaan melayani tamu anak dengan menyediakan “amplop” ternyata dilakukan masyarakat Aceh, yang terawat hingga sekarang. Karena itu, menjelang Idul Fitri dan Idul Adha masyarakat menukarkan lembaran uang baru Rp 2.000,00, Rp 5.000,- atau nominal lainnya yang mampu mereka sedekahkan/hadiahkan. Seorang petua adat di Indapuri mengatakan, begitulah cara orang Aceh memuliakan tamu anak-anak.  Itu juga bentuk ikatan kekeluargaan antar keluarga besar atau sahabat dekat.

Dari petunjuk hadist di atas, orang-orang beriman yang telah mendapat “tempaan” dari ibadah puasa Ramadhan, haruslah memuliakan tamu dengan baik pada hari raya dan hari-hari berikutnya. Umat Islam dianjurkan melayani tamu sebaik mungkin, ramah dan berkomunisasi yang efektif, sehingga tamu merasa nyaman dan bahagia selama berada di rumah kita. Mereka mendapat kesan positif dan membawa kenangan mendalam. Sementara “amplop” bagi tamu anak (jika ada) hanya pelengkap,  atau tambahan sedekah pasca Ramadhan. 

Selain itu, orang beriman, harus pula meningkatkan ibadah sosial dengan menyambung silaturrahim dengan famili atau saudara dekat. Dalam situasi pendemi Covid-19 tentu kita bisa melakukannya dengan menggunakan berbagai fasilitas teknologi online dan media yang ada. Kita sedang  tak bebas berjumpa dan bertatap muka secara langsung. Yang penting, saudara dekat, tak merasa ditinggalkan atau dilupakan. Mereka adalah keluarga besar muslim yang dibangun berdasarkan ikatan iman (pernikahan) dan akan berkontribusi bagi pembangunan jamaah muslimin yang lebih besar. 

Rasulullah saw memiminta orang beriman yang muttaqin, berkata yang baik atau kalau tak mampu, memilih diam saja. Dengan cara ini, seorang muslim akan lebih hati-hati berkomunikasi dengan tamu dan kerabat. Memilih kata-kata yang penuh hikmah sebagai energi positif dan semangat hidup/beribadah bagi lawan bicara. Menghindari pembicaraan atau obrolan yang tidak bermanfaat, apalagi lebih banyak membahas kelemahan oran lain.  

Biasanya sulit mengontrol tema pembicaraan selama bertamu Idul Fitri. Selain saling menanyakan kabar keluarga masing-masing, memperoleh informasi siapa khatib dan tema yang dibahas dalam shalad Ied di tempat tamu. Kadang dibahas juga capaian ibadah selama puasa Ramadhan. Lalu topik obrolan biasanya melebar ke dunia bisnis dan politik. Kali ini bisa saja sampai mengkritisi pemerintah yang kurang tegas menangani Covid-19. Apabila waktu bertamu lebih 20 menit, ketika itulah diperlukan kemampuan mengendalikan diri untuk “berkata yang baik atau diam.” Tidak mudah memang mempraktikkannya. 

Sebagai tuan rumah, yang penting pada hari raya tetap bersemangat melayani tamu dengan wajah berseri-seri, menyediakan hidangan sesuai kemampuan, dan melayaninya dengan baik. Dengan itu kita akan mendapatkan berkah dan berbagai kemudahan dalam hidup ini. Allah Swt akan membalas semua kebaikan, dengan balasan yang berlipat ganda, termasuk balasan melayani tamu anak-anak dengan menyediakan hadiah atau sedekah uang tunai lembaran baru.
SHARE :
 
Top