Loading...

Oleh: Risky Almustana Imanullah

Dunia terus maju dan berkembang, arus globalisasi yang sulit dibendung mengarahkan manusia ke arah modernisasi tanpa batas dan pada akhirnya menjadi westernisasi. Memaksa manusia untuk terus menggali, dan terampil sebagai seorang cendikiawan.

Detik jarum jam yang terus berbunyi di pojok kamar sebagai penanda bahwa waktu tidak pernah berhenti. 

"Kita bukan ikan mati yang dibawa arus". Artinya kita wajib belajar, belajar dan belajar. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw yang artinya "menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang muslim, baik laki-laki ataupun perempuan". 

Disini, penulis tidak bermaksud menitikberatkan mayoritas muslim di Indonesia, tapi juga untuk seluruh seluruh masyarakat termasuk minoritas non-muslim yang hidup dalam bingkai bhinneka tunggal ika.

Pandemi Covid-19 yang kian memuncak di Indonesia menjadi alasan utama negara lain untuk menutup pintu rapat-rapat bagi warga Indonesia yang akan bepergian ke luar negeri. Yang menjadi tanda tanya bagi penulis sendiri, kenapa Indonesia tidak menutup pintu rapat-rapat saat isu mewabahnya virus corona mulai tersebar alias belum masuk ke Indonesia ? Disaat virus tersebut lolos masuk ke Indonesia ini menjadi bencana besar di tiga sektor utama yaitu, ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Penulis tidak ingin memfokuskan ke sektor perekonomian karena banyak hal yang harus di jabarkan dan banyak hutang yang kian belum mampu dilunaskan. 

Corona virus disease (Covid) 19 menjadi tantangan besar bagi generasi penerus bangsa dalam mengartikan pentingnya pendidikan. Tantangan orang tua dalam membiayai pendidikan dan tantangan bagi pemerintah dalam menjamin keberlangsungan pendidikan dan jaminan kesehatan. Seharusnya di kondisi yang seperti ini masyarakat dan pemerintah harus bersinergi dalam melangsungkan pendidikan, menjamin kesehatan, dan menjaga stabilitas perekonomian. Nyatanya, terjadi kontradiksi di kalangan masyarakat terkait kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah.

Seyogianya, pendidikan sudah menjadi tanggung jawab pribadi insan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang bertanggung jawab atas kebodohan yang kita miliki kecuali diri kita sendiri, sebagaimana di kutip dari perkataan imam Syafi'i "jika kamu tidak tahan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan dengan perihnya kebodohan".

Miris, melihat generasi yang hari ini terlena dengan hidangan paket spesial dalam gadget. Tidak hanya kaum muda, bahkan anak-anak terkancah dalam dunia maya semenjak ditetapkannya belajar via daring. Penulis tidak bermaksud menyalahkan, tetapi sejauh mana pengawasan orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget yang berlebihan oleh anak? Mulai dari tiktok yang di anggap dapat merusak mental kaum muda, bahkan sekarang game domino yang populer di kalangan masyarakat karena dianggap dapat memberikan keuntungan bagi mereka yang beruntung. Ketika mereka disibukkan dengan hal seperti itu, kapan nutrisi otak mereka diisi?

Sekilas kita tahu, belajar via daring merupakan sebuah inovatif di Indonesia semenjak mewabahnya virus Corona. Tetapi, yang harus kita lihat seberapa siap masyarakat dalam menempuh pendidikan via daring? Mulai dari daerah pelosok yang keterbatasan jaringan, kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gadget yang memadai. Bagaimana rincian anggaran dana Covid-19 yang sudah dianggarkan? mulai dari nasional, provinsi, kabupaten, hingga dana desa. Berapa persen yang difokuskan untuk pendidikan? cukupkah dengan hanya membiayai kuota internet? bagaimana dengan yang tidak mempunyai gadget atau yang bermasalah dengan jaringan?

Sisi negatif lain yang penulis temukan, banyaknya anak-anak yang mengeluh dan sulit untuk memahami pelajaran yang diberikan oleh guru melalui telpon seluler seperti grup WhatsApp. Pada akhirnya menjadi beban orang tua (ibu) dalam mengerjakan tugas pelajaran tersebut. “akhe but, tanyoe yang jak sikula teuma (akhir cerita, kita yang sekolah kembali)” ucap salah seorang ibu yang sempat penulis dengar. Nasib baik bagi orang tua yang berpendidikan, bagaimana dengan anak yang orang tuanya hanya tamatan Sekolah Dasar (SD)? bagaimana jika orang tuanya gaptek? apakah si anak harus berhenti sekolah untuk sementara waktu sampai pandemi ini berlalu? Seharusnya ini menjadi kewajiban Menteri Pendidikan, Dinas Pendidikan dalam mencarikan solusi yang eksak dan akurat. 

Di akhir tulisan, penulis ingin mengajak kepada siapa saja yang membaca tulisan ini untuk sama-sama mengambil peran dalam mengsosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Tidak hanya di sekolah, masyarakat jangan terpaku dengan pendidikan formal. Masih banyak diluar sana pendidikan yang menjamin nutrisi untuk menjaga kesehatan akal dalam berfikir jernih untuk menjadi lebih progresif dan visioner, seperti pondok-pondok pesantren, kyai-kyai kampung dan sukarelawan lainnya. Jangan sekali-kali menganggap selembar kertas ijazah adalah jaminan untuk masa depan yang cerah untuk anak kita. Hari ini perusahaan-perusahaan besar tidak melihat kertas apa yang kita punya, tapi skil individual apa yang kita punya. Toh, banyak di luar sana yang jual ijazah.

Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintah UIN AR-RANIRY
SHARE :
 
Top