Oleh: Abu Lampanah


Diskusi Serambi Masjid kali ini tidak berlangsung di masjid, sebab Abu Sulaiman kurang sehat. Karena usianya yang mulai uzur, tidak bisa lagi selalu shalat lima waktu berjamaah di masjid. Tidak dapat mengenderai sepeda motor sendiri. Namun pikirannya masih bening dan  bersih. Tetap mengikuti perkembangan politik dan dakwah Islamiah. Kami selalu “berdiskusi”, walaupun harus di rumah atau melalui telepon. 

“Saya sangat risau, banyak masyarakat belum melaksanakan shalat lima waktu,” katanya, di ujung telepon. 

Walaupun Abu Sulaiman sangat peduli terhadap shalat dan shalat berjamaah, namun tetap merespon berbagai isu yang saya tawarkan sebagai topik diskusi. Sikap responsif Abu Sulaiman didukung latar belakang dia sebagai mantan aktivis, wartawan dan politisi. Usia tua dan keterlibatan dalam gerakan sufi, tak membuat dia meninggalkan hal-hal yang sifatnya duniawi, sebab dalam pandangannya Islam tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat.

Dia mengakui, sebagian teman-temannya yang terlibat total dalam dunia sufi, tak mau lagi mendengar musik, menonton televisi dan tidak membaca koran. 

“Mereka hanya menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran,” kata Abu Sulaiman. Pilihan sikap dan cara pandang seseorang tentang ibadah, menurut dia, sangat dipengaruhi oleh bacaan (referensi) dan wawawan Islam yang dimiliki. 

“Islam itu luas, universal, ajarannya mencakup aqidah, bisa sufi dan bisa juga soal negara,” katanya.

Apakah ketika seorang muslim menjadi sufi akan semakin dermawan? Saya mulai “menggiring” Abu Sulaiman berbicara topik yang saya harapkan. 

“Tidak semuanya. Sangat tergantung pengetahuan, bacaan dan pengajian-pengajian yang dia ikuti yang membahas tema harta dan penghasilan,” tambah dia. 

Menurutnya, kedermawanan seseorang dipengaruhi oleh kualitas iman, sehingga dia menyadari bahwa harta yang dia cari bersumber dari pemilik harta, Allah SWT. Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi Rezeki. 

Dari pengalaman selama ini, apabila Jamaah Tabligh dianggap sebagai gerakan sufi, dia mengakui adanya keterkaitan antara iman, kesufian dan harta. Dia menyaksikan ibadah mereka yang baik, membiayai sendiri aktivitas dakwah dan senantiasa mempelajari pentingnya jihad harta. Pada umumnya aktivis Jamaah Tabligh, katanya, dengan harta dan penghasilan yang terbatas, tetap menyisihkan sebagian penghasilan untuk berdakwah menurut kemampuan masing-masing. 

“Berdakwah dengan biaya sendiri,” kata Abu Sulaiman. 

“Mereka suka memberi dan bersedekah,” tambah Abu Sulaiman, yang mengaku pernah menggunakan penghasilan dari fee iklan media tempat dia bekerja, untuk biaya dakwah bersama Jamaah Tabligh selama 40 hari di luar negeri.  Dia menunjukkan fakta ketika awal-awal Tsunami Aceh (2004), Jamaah Tabligh sedunia menggalang bantuan untuk Aceh, termasuk membangun rumah korban stunami di Sibreh, Indrapuri dan tempat lain. Mereka juga membangun pesantren dan panti asuhan yatim. 

Menurut Abu Sulaiman, spirit kedermawanan ini mestinya dikelola secara profesional, tanpa harus menunggu bencana datang lagi. Potensinya cukup besar, sebab seluruh ummat Islam menyadari kewajiban menunaikan zakat, peduli sesama, dan pahala yang berlipat ganda dari menunaikan infak dan sedekah. Bahkan Allah SWT memberi pahala  abadi terhadap muslim yang berwakaf dan berjihad (berbuat baik di jalan Alllah) dengan hartanya.  

“Jadi saya sependapat kedermawanan dikelola dengan baik, amanah  dan profesional, seperti yang dilakukan oleh banyak lembaga filantropi Islam sekarang ini,” kata dia. Ternyata Abu Sulaiman mengikuti perkembangan dan kemajuan yang dicapai berbagai lembaga filantropi yang mengelola zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF) seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, DT Peduli, ACT, Baitul Maal Hidayatullah  dan lain-lain. 

“Yang saya ingatkan, pengelolaannya harus transparan,” pesan Abu Sulaiman di akhir diskusi kami.

Sumber: Gema Baiturrahman, 19 Maret 2021

SHARE :
 
Top