Oleh Juariah Anzib S. Ag

Dalam bacaan yang bersumber dari buletin dakwah Kaffah, yang berjudul Idul Fitri Taat Ilahi Sepenuh Hati. Dari tulisan tersebut kita dapat mengambil pembelajaran yang bermakna. Idul Fitri memiliki makna tersirat yang harus kita sikapi dengan baik. Agar tidak sia-sia dalam memahami idul Fitri yang sebenarnya. Alangkah ruginya bagi orang-orang yang tidak sempat menyentuh dan membaca huruf Al-Qur'an walau hanya sedikit. Tidak sempat menunaikan ibadah shalat tarawih dan witir meski hanya satu malam. Bersedekah walupun hanya secuil, dan juga amalan-amalan yang lain. Ia disibukkan dengan urusan duniawi yang tak pernah kunjung selesai.

Alhamdulillah, meskipun masih dalam kondisi pandemi, kita masih bisa melewati sampai penghujung Ramadhan. Tinggal beberapa hari lagi Ramadhan akan segera berlalu. Idul Fitri akan segera datang. Walaupun masih ada saudara-saudara kita yang merayakan idul Fitri tanpa didampingi keluarga dan kerabatnya. Kondisi yang masih belum stabil, membuat mereka harus bersabar untuk tidak mudik. Melapangkan dada dengan berdoa dan sekedar berkomunikasi lewat hand fhoeen saja. Mungkin itulah yang terbaik untuk saat ini.

Sebentar lagi hari kemenangan akan datang. Kemenangan karena telah mampu  mengalahkan hawa nafsu. Menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas. Tidak berani berbuka sebelum tiba saatnya. Karena merasa diawasi oleh zat yang Maha Mengawasi.

Hakikat Idul Fitri menurut  Imam Ali Radhiallahu 'anhu. Idul Fitri bukanlah orang memakai baju baru, sepatu baru, mobil baru. Tetapi Idul Fitri diperuntukkan bagi orang-orang yang aman dari ancaman api neraka. Idul Fitri bagi orang-orang yang ketaatannya bertambah, dan bagi orang-orang yang diampuni dosa-dosanya yang tergolong orang  bertaqwa. Firman Allah Swt, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertqwa." (QS. Al-Baqarah ayat 183).

Taqwa artinya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangannya dalam seluruh aspek kehidupan. 

 Tak ada keberatan dengan peraturan yang Allah dan keputusan Rasulullah Saw, sesuai firman-Nya, "Demi Tuhanmu, maka tidak beriman sebelum mereka menjadikan Engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas keputusan yang Engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa ayat 65).  

Qatadah berkata, "Orang-orang taqwa adalah mereka yang disifati dengan sifat  sebagaimana dalam ayat berikut, red, yaitu orang yang mengimani perkara gaib, menegakkan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah limpahkan kepada mereka."

Dengan memiliki ketaqwaan yang tinggi, insya Allah akan lulus dalam medan Ramadhan. Al-Qur'an merupakan kitab suci yang tidak boleh diabaikan, tetapi selalu dibaca dengan sepenuh jiwa. Betapa ruginya bagi orang-orang yang tidak memahami Al-Qur'an. Ia membaca tetapi tidak berbekas pada jiwanya. Ia memperingati peristiwa turunnya Al-Qur'an, tetapi tidak mengikuti isinya. Al-Qur'an disakralkan, namun tidak dijadikan aturan dalam kehidupannya. Menjaga fisik Al-Qur'an, tetapi tidak mengetahui kandungannya. Al-Qur'an sebagai penenang hati, tetapi tidak dijadikan sebagai sumber hukum. Mengapa hal tersebut terjadi? Jawabannya kerena kurang memahami tafsir Al-Qur'an, dan hanya sekedar membaca-baca saja. Meskipun tetap berpahala, tetapi alangkah baiknya jika  kita memahami tentang makna yang terkandung di kitab Al-Qur'an. 

Idul Fitri harus menjadi suatu momentum buat kita untuk berubah menjadi manusia baru, seperti baru dilahirkan kembali. Manusia laksana kepompong, selama bulan Ramadhan  berselimut dan menahan diri dari segala kemungkaran. Kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang indah mempesona saat Idul Fitri tiba. Kemenangan yang diperoleh menjadikannya bagaikan  bidadari dan sang pangeran di dalam Syurga-Nya Allah.  Begitulah gambaran manusia yang menahan diri dari hawa nafsu selama menjalani ibadah puasa suci Ramadhan. Kemudian menjadi manusia baru tanpa dosa. Orang berpuasa Ramadhan dan beramal shalih serta mengendalikan hawa nafsunya, tergolong orang-orang yang bertqwa kepada Allah Swt.  

Mari bersama-sama  mengeratkan tali silaturahmi dan ukhuwah keislaman tanpa adanya perbedaan. Memperjuangkan syariat  dan menegakkan Islam secara kaffah yang  sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah Saw. Hidup mulia dengan Islam.

SHARE :
 
Top