Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan
Ujub merupakan salah satu sifat tercela yang sangat berbahaya bagi seorang Muslim. Ujub adalah sikap membanggakan diri, merasa lebih baik, lebih hebat, lebih saleh, atau lebih alim dibandingkan orang lain. Sifat ini sering kali disertai dengan kecenderungan meremehkan kebaikan dan ilmu orang lain. Ujub dapat menghapus pahala amal kebaikan, sebagaimana api yang membakar kayu bakar hingga habis tanpa menyisakan apa pun.Dalam pengajian muslimah mingguan di Dayah Thalibul Huda Bayu, Abi Hasbi Al-Bayuni menyampaikan beberapa cara menghindari dan menghilangkan sifat ujub dari dalam diri, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali.
Pertama, ketika kita berhadapan dengan orang yang usianya lebih muda, hendaknya kita menyadari dosa-dosa mereka tentu lebih sedikit dibandingkan dosa kita yang telah hidup lebih lama. Kesadaran ini akan mencegah kita merasa lebih baik dari mereka. Bahkan seharusnya kita menganggap diri kita lebih banyak kekurangan dan kesalahan. Sikap ini bukan untuk meremehkan mereka, justru untuk terus memberi teladan yang baik agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih saleh, bukan menganggap mereka tidak tahu apa-apa dan dibiarkan tanpa bimbingan.
Kedua, ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, hendaknya kita meyakini bahwa ibadah dan amal kebaikan mereka jauh lebih banyak dibandingkan dengan kita. Orang yang lebih tua telah lebih dahulu melaksanakan shalat, puasa, sedekah, dan berbagai amal kebaikan lainnya. Jika dibandingkan, ibadah kita terasa sangat sedikit dan tidak sebanding dengan mereka. Dengan cara pandang ini, kita akan terhindar dari perasaan memiliki kelebihan di hadapan orang yang lebih tua usianya.
Ketiga, ketika berhadapan dengan orang yang ilmunya lebih sedikit dari kita, hendaknya kita menyadari, keterbatasan ilmu mereka membuat sebagian kekurangan dalam amal dapat dimaklumi, selama mereka terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Ibadah orang awam yang bersungguh-sungguh sering kali lebih mudah diterima oleh Allah Swt.
Bagi orang yang telah berilmu, amal ibadah harus sejalan dengan ilmunya. Jika seseorang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya, maka amalnya terancam tertolak. Bahkan dosanya bisa berlipat ganda, karena selain meninggalkan kewajiban, ia juga melakukannya dalam keadaan mengetahui. Misalnya, enggan bersedekah padahal telah memahami keutamaannya. Berbeda dengan orang yang belum berilmu, yang masih mendapat uzur karena ketidaktahuannya.
Keempat, ketika berhadapan dengan orang kafir, hendaknya kita meyakini bahwa Allah Swt. dapat membuka pintu hidayah bagi mereka kapan saja. Jika mereka mendapatkan hidayah dan memeluk Islam, seluruh dosa-dosanya akan diampuni tanpa sisa. Orang kafir yang masuk Islam diibaratkan seperti bayi yang baru dilahirkan, bersih dari dosa. Apabila ia wafat dalam keadaan beriman, ia akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab. Hal ini tentu menjadi peringatan bagi orang yang telah beriman, namun masih sengaja melakukan dosa besar padahal ia mengetahui hukumnya.
Demikian beberapa cara menghindari sifat ujub dalam diri. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang tidak merasa lebih baik dari orang lain, senantiasa rendah hati, istiqamah dalam amal saleh, dan dijauhkan dari sifat ujub yang merusak pahala.*

0 facebook:
Post a Comment