Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)
Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia
Dalam perjalanan menuntut ilmu, keberadaan seorang guru adalah kompas yang mengarahkan kita agar tidak tersesat di tengah rimba informasi. Bulan Ramadhan, yang identik dengan pengajaran dan pembacaan Al-Qur'an, mengingatkan kita pada sosok-sosok yang telah membimbing kita memahami setiap huruf dan maknanya. Menghargai guru dan ulama bukan sekadar tradisi kuno, melainkan prasyarat mutlak agar ilmu yang kita pelajari tidak hanya berhenti di kepala, tetapi juga meresap ke dalam hati.Penghormatan terhadap pendidik memiliki akar yang kuat dalam tradisi kenabian. Allah SWT berfirman dalam Surah Fatir ayat 28: "Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama." Ayat ini menempatkan pemilik ilmu pada posisi yang mulia karena kedekatan mereka dengan Sang Pencipta melalui pemahaman. Jika Allah memuliakan mereka, maka sudah sepantasnya kita sebagai murid memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya.
Rasulullah SAW bersabda, "Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda, tidak menghormati yang tua, dan tidak mengerti hak ulama kami" (HR. Ahmad). Dalam konteks pendidikan modern, "mengerti hak ulama" atau guru berarti menghargai waktu mereka, mendengarkan dengan saksama saat mereka menjelaskan, serta menjaga tutur kata saat berinteraksi dengan mereka, baik di ruang kelas maupun di dunia maya.
Sering kali, tantangan di era digital adalah hilangnya batas-batas kesantunan. Kemudahan akses informasi membuat sebagian pelajar merasa bahwa guru tidak lagi diperlukan karena semua jawaban ada di genggaman gawai. Padahal, informasi berbeda dengan ilmu. Informasi bisa didapat dari mesin pencari, namun ilmu dan kebijaksanaan memerlukan transmisi dari hati ke hati melalui bimbingan seorang guru. Guru memberikan konteks, etika, dan perspektif yang tidak bisa diberikan oleh algoritma mana pun.
Menghargai guru juga berarti mendoakan mereka. Ramadhan 2026 ini adalah momen yang tepat untuk menyelipkan nama para guru kita dalam doa-doa di waktu mustajab, seperti saat menjelang berbuka atau di penghujung malam. Keberkahan ilmu seorang murid sering kali terpancar dari seberapa ridha guru terhadapnya. Tanpa keridhaan guru, ilmu yang banyak sekalipun akan terasa hambar dan sulit memberikan manfaat yang luas.
Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai ajang untuk menyambung kembali tali silaturahmi dengan para pendidik kita. Ucapkan terima kasih, tunjukkan rasa hormat, dan muliakan mereka sebagaimana para sahabat memuliakan Rasulullah SAW. Dengan menghargai mereka yang telah membukakan pintu-pintu pengetahuan bagi kita, kita sedang membuka pintu keberkahan bagi diri kita sendiri.
Sebab, guru adalah pewaris para nabi (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)., dan menghormati mereka adalah bentuk penghormatan kita kepada ilmu yang mereka bawa dan kepada Tuhan yang menurunkan ilmu tersebut. Allah SWT menegaskan perlunya merujuk pada guru dalam firman-Nya: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui" (QS. An-Nahl: 43).

0 facebook:
Post a Comment