Oleh: Juariah Anzib, S.Ag
Penulis Buku Wakaf di Aceh, Tradisi, Inovasi dan Keberkahan
Dunia hari ini sedang diuji oleh menguatnya arus materialisme. Orientasi hidup banyak orang bertumpu pada capaian duniawi, sementara nilai-nilai moral kian terpinggirkan. Kejujuran terasa semakin langka dan keserakahan justru kerap dianggap sebagai kewajaran. Di kantor, di pasar, di ruang-ruang bisnis bahkan dalam relasi sosial, peluang berlaku curang terbuka lebar. Semua itu terjadi ketika kesadaran akan kehadiran Allah dalam kehidupan mulai memudar.
Perubahan zaman yang begitu cepat turut memengaruhi karakter manusia. Standar halal dan haram sering kali tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Muncullah ungkapan-ungkapan sesat seperti, “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal. Yang jujur akan terbujur, yang lurus akan terbungkus, dan yang ikhlas akan tergilas.”
Ini bukan sekadar kelakar, melainkan cermin kerusakan cara pandang. Padahal jauh-jauh hari Muhammad saw telah mengingatkan, akan datang suatu masa ketika manusia tidak lagi peduli dari mana harta diperoleh, apakah dari yang halal atau yang haram; yang penting mendatangkan keuntungan.
Dalam bukunya Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk, Ahmad Rifa'i Rif'an menulis, kerusakan moral yang semakin mengkhawatirkan membutuhkan metode perbaikan yang tepat. Salah satu terapi paling efektif adalah puasa. Mengapa. Karena puasa melatih kejujuran dari ruang paling sunyi dalam diri manusia.
Puasa ibadah sirriyah, ibadah yang bersifat rahasia. Berbeda dengan shalat yang terlihat gerakannya atau zakat yang tampak distribusinya, puasa tidak diketahui kecuali oleh Allah dan pelakunya. Seseorang bisa saja makan dan minum di tempat tersembunyi tanpa diketahui orang lain. Namun ia tidak melakukannya karena yakin Allah melihatnya. Puasa menjadi terapi kejujuran yang paling mendasar: membangun kesadaran muraqabah, merasa diawasi oleh Allah dalam setiap detik kehidupan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan utama puasa adalah takwa. Takwa bukan hanya ritualitas, melainkan kesadaran moral yang membimbing perilaku. Orang yang bertakwa akan berhati-hati dalam bertindak, menjaga lisannya, dan menjauhi yang haram walau tidak ada manusia yang melihatnya. Puasa melatih jiwa untuk menahan diri, bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari dusta, ghibah, kecurangan, dan segala bentuk maksiat.
Dari Tsauban r.a Rasulullah saw bersabda: "Sungguh aku benar-benar mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung-gunung Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya debu yang beterbangan."
Tsauban berkata: “Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepada kami tentang mereka, agar kami tidak termasuk golongan itu tanpa kami sadari.” Beliau bersabda: "Ketahuilah, mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian; mereka mengambil bagian dari malam (untuk beribadah) sebagaimana kalian mengambilnya. Akan tetapi mereka adalah kaum yang apabila menyendiri dan berhadapan dengan hal-hal yang diharamkan Allah, mereka melanggarnya." (HR Ibnu Majah, No 4245, dinilai hasan oleh sebagian ulama, dihasankan oleh Al-Albani).
Realitas sekarang membenarkan peringatan tersebut. Tidak sedikit orang yang tekun beribadah, namun dalam urusan harta mencampuradukkan halal dan haram. Rasa cukup hilang, syukur memudar, dan kerakusan menguasai. Harta menjadi tujuan utama, sementara kematian dan hari pertanggungjawaban sering dilupakan.
Di sinilah puasa berfungsi sebagai terapi jiwa. Ia menata ulang orientasi hidup, menundukkan nafsu, dan menguatkan iman. Kejujuran yang tumbuh dari kesadaran spiritual akan membentuk pribadi yang amanah. Materialisme yang dikendalikan iman akan berubah menjadi keberkahan. Harta dicari dengan cara halal dan dibelanjakan di jalan yang halal. Dunia menjadi ladang pahala, dan akhirat menjadi tujuan akhir yang membahagiakan.
Momentum Ramadhan seharusnya menjadi ruang pembinaan karakter. Puasa bukan sekadar ibadah tahunan, tetapi sekolah kejujuran. Ia mengajarkan kita menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas, di ruang kerja, dalam transaksi bisnis, dalam percakapan, dan dalam keputusan-keputusan penting kehidupan.
Jika kesadaran ini benar-benar tertanam, maka kejujuran tidak lagi menjadi barang langka. Ia akan hadir dalam setiap tindakan, kapan pun dan di mana pun. Keserakahan dapat ditekan, kecurangan dapat dikikis, dan kehidupan sosial menjadi lebih bermartabat.
Semoga melalui puasa, Allah Swt membersihkan hati kita dari sifat tamak dan membimbing kita menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan bertakwa. Sebab pada akhirnya, kejujuran bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi jalan keselamatan menuju kehidupan yang abadi.*

0 facebook:
Post a Comment