Oleh: Ahmad Faizuddin (S.Pd.I, M.Ed., PhD)

Dosen Senior di Faculty of Education and Liberal Arts, INTI International University, Malaysia

Ibadah puasa adalah ibadah yang paling rahasia. Seseorang bisa saja makan atau minum di tempat sunyi tanpa ada satu pun manusia yang tahu. Namun ia memilih untuk tidak melakukannya karena kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah). Dalam dunia pendidikan, prinsip kesadaran inilah yang kita kenal sebagai integritas atau kejujuran akademik. Kejujuran dalam menuntut ilmu adalah fondasi yang menentukan apakah gelar dan pengetahuan yang kita peroleh kelak akan membawa berkah atau justru menjadi beban moral.

Tantangan integritas di era digital semakin kompleks, mulai dari praktik plagiarisme hingga penggunaan teknologi untuk berbuat curang dalam ujian. Namun, bagi seorang pembelajar yang memahami hakikat Ramadhan, kecurangan adalah pengkhianatan terhadap ilmu itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 188: "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil..." Dalam konteks pendidikan, "jalan yang batil" ini mencakup meraih nilai atau gelar dengan cara-cara yang tidak jujur.

Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai kejujuran: "Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami" (HR. Muslim). Hadits ini berlaku universal, termasuk dalam aktivitas akademik. Seorang pelajar yang menyontek atau seorang peneliti yang memalsukan data mungkin mendapatkan nilai yang tinggi di atas kertas, namun ia telah kehilangan esensi sebagai penuntut ilmu dan kehilangan kepercayaan di mata Allah dan Rasul-Nya.

Mengapa integritas akademik begitu krusial? Karena ilmu pengetahuan dibangun di atas kepercayaan. Jika kejujuran sudah hilang dari institusi pendidikan, maka runtuhlah wibawa peradaban tersebut. Ramadhan melatih kita untuk jujur pada diri sendiri. Jika kita bisa jujur untuk tidak minum seteguk air pun saat dahaga menyerang di siang hari yang terik, seharusnya kita juga bisa jujur untuk tidak menyalin pekerjaan orang lain meskipun kesempatan itu ada.

Menjaga integritas juga berarti menghargai hak kekayaan intelektual orang lain. Mengutip sumber dengan benar dan memberikan apresiasi atas ide orang lain adalah bentuk amanah ilmiah. Di madrasah Ramadhan ini, kita belajar bahwa kebahagiaan saat berbuka puasa terasa begitu nikmat karena kita telah melewati proses yang jujur dan benar. Begitu pula dengan keberhasilan akademik. Ia akan terasa jauh lebih membanggakan jika diraih dengan tetesan keringat dan kerja keras sendiri.

Marilah kita jadikan Ramadhan 2026 ini sebagai momentum untuk mencuci bersih praktik-praktik tidak terpuji dalam dunia pendidikan. Mari kita tanamkan pada generasi muda bahwa menjadi jujur jauh lebih mulia daripada sekadar menjadi pintar. Dengan integritas yang kokoh, ilmu yang kita miliki akan menjadi cahaya yang bermanfaat bagi masyarakat dan menjadi saksi kebaikan kita di akhirat kelak. Rasulullah SAW pernah bersabda: "Kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga" (HR. Bukhari).

SHARE :

0 facebook:

 
Top