Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan


Kehidupan dunia laksana air yang terus mengalir. Ia bergerak tanpa henti, tak mengenal jeda, dan tidak pernah kembali ke titik semula. Setiap detik yang berlalu membawa dinamika, ujian, dan peluang. Siapa yang mampu mengikuti arus dengan bijak akan sampai pada tujuan dengan selamat, sementara yang lengah terseret dalam penyesalan.

Dalam perspektif sederhana, hidup dapat dianalogikan seperti permainan game. Seorang pemain yang cermat, terencana, dan disiplin akan meraih kemenangan dan mencapai level tertinggi. Sebaliknya, pemain yang bertindak tanpa strategi hanya akan berputar dalam kekalahan. Gambaran ini pernah disampaikan Aznur Johan dalam amanat upacara kenaikan bendera di MIN 13 Aceh Besar, yang memberi inspirasi bagi dunia pendidikan.

Kisah dua pemain game menjadi cermin nyata. Pemain pertama menjalani permainan dengan penuh perhitungan. Dalam permainan Free Fire, ia memilih tempat pendaratan yang aman, mengatur waktu untuk mengumpulkan perlengkapan dan fokus hingga akhir permainan. Dalam Mobile Legends, ia menjunjung tinggi kerja sama tim, memahami momentum menyerang, dan menghindari tindakan sia-sia. Hasilnya, ia terus meraih kemenangan, naik peringkat dan berkembang.

Sebaliknya, pemain kedua bermain tanpa arah. Ia turun sembarangan, tidak memiliki strategi, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Dalam permainan tim, ia berjalan sendiri tanpa kontribusi berarti. Akibatnya kekalahan demi kekalahan menjadi hasil yang tak terelakkan.  Ia tidak pernah mengalami peningkatan.

Tanpa disadari, kehidupan sehari-hari memiliki pola yang sama. Setiap manusia sedang “bermain” dalam panggung kehidupan, menjalani berbagai peran dengan visi dan tujuan masing-masing. Aktivitas belajar, beribadah, dan beramal shalih merupakan bagian dari “strategi” menuju keberhasilan hakiki, yakni keselamatan dunia dan akhirat.

Jika meneladani pemain pertama, setiap waktu akan dimanfaatkan secara optimal. Belajar dilakukan dengan kesungguhan untuk meningkatkan kualitas diri. Ibadah dilaksanakan dengan benar sebagai tujuan utama kehidupan. Amal sosial dijalankan dengan ikhlas, mengharap ridha Allah semata. Dengan pola ini, kehidupan akan terus “naik level” menuju derajat yang lebih mulia.

Namun, jika meniru pemain kedua, kehidupan akan dipenuhi kelalaian. Waktu terbuang tanpa makna, kesempatan berlalu sia-sia, dan potensi diri tidak berkembang. Akibatnya seseorang tertinggal jauh dan sulit mencapai kemajuan. Waktu tetap berjalan, meninggalkan jejak yang tak dapat diulang kembali.

Perlu disadari, kekalahan dalam permainan masih dapat diulang. Namun kegagalan dalam kehidupan tidak selalu memiliki kesempatan kedua. Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali dan penyesalan tidak mampu mengubah masa lalu. Karena itu, setiap detik kehidupan memiliki nilai berharga.

Allah Swt mengingatkan dalam Al-Qur’an surah Al-'Ashr ayat 1–3: “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Al-Quran menegaskan pentingnya memanfaatkan waktu dengan iman, amal, dan kesungguhan. Tanpa itu, kerugian menjadi keniscayaan.

Karena itu, gunakanlah waktu sebaik mungkin. Isi kehidupan dengan ilmu, ibadah, dan kebaikan. Jangan biarkan kelalaian merampas masa depan. Sebab sedikit kerugian saja akan cukup menyakitkan, apalagi jika kehidupan dihabiskan dalam kerugian besar yang berujung penyesalan.

Kehidupan bukan sekadar permainan, tetapi perjalanan menuju tujuan abadi. Maka bermainlah dengan kesungguhan, agar kemenangan sejati dapat diraih.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top