Oleh: Hj. Supiati, S. Ag., M. Sos
Sekretaris PD. IPARI Kota Banda Aceh
Setiap hari, lima kali dalam sehari semalam, jutaan umat Islam berdiri menghadap kiblat. Mereka menundukkan kepala, merapatkan saf, membaca ayat-ayat suci, lalu bersujud dengan penuh penghambaan kepada Allah SWT. Namun di tengah ramainya masjid dan banyaknya orang yang menunaikan shalat, mengapa masih kita jumpai perilaku yang merugikan sesama? Mengapa masih ada ketidakpedulian terhadap hak orang lain, pelanggaran terhadap fasilitas umum, bahkan tindakan yang menyulitkan masyarakat?Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Sebab dalam Islam, shalat bukan sekadar gerakan fisik atau rutinitas harian. Shalat adalah pendidikan karakter yang dirancang Allah untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, dan menjaga kemaslahatan bersama.
Ketika shalat hanya dipahami sebagai kewajiban ritual tanpa diiringi pemahaman makna dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, maka lahirlah fenomena paradoks: seseorang rajin shalat, tetapi perilakunya justru menyulitkan orang lain. Di sinilah pentingnya memahami bahwa kualitas shalat tidak hanya terlihat dari lamanya berdiri atau banyaknya rakaat, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan sosial.
Shalat dan Misi Perbaikan Akhlak
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
(QS. Al-Ankabut: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama shalat adalah membentuk perilaku yang baik. Jika seseorang benar-benar memahami dan menghayati shalatnya, maka shalat tersebut akan menjadi benteng yang mencegahnya dari tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Para ulama menjelaskan bahwa shalat yang dilakukan dengan khusyuk akan melahirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia. Kesadaran inilah yang menjadi pengendali moral dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, ukuran keberhasilan shalat tidak berhenti ketika seseorang selesai mengucapkan salam. Keberhasilan shalat justru terlihat setelah ia keluar dari masjid: bagaimana ia memperlakukan tetangganya, bagaimana ia menggunakan fasilitas umum, bagaimana ia menghormati hak orang lain, dan bagaimana ia berkontribusi terhadap kebaikan masyarakat.
Rasulullah Mengajarkan Kepedulian Sosial
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hal-hal yang tampak sederhana sekalipun memiliki nilai ibadah yang besar.
Beliau bersabda:
"Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa seseorang memperoleh ampunan Allah karena menyingkirkan ranting berduri yang mengganggu jalan kaum muslimin.
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan kenyamanan dan keselamatan masyarakat. Bahkan sekadar memindahkan duri dari jalan pun dinilai sebagai amal saleh.
Namun yang menjadi pertanyaan, jika menyingkirkan duri adalah ibadah, bagaimana dengan orang yang justru menambah "duri" dalam kehidupan masyarakat?
Tentu duri yang dimaksud bukan hanya duri secara fisik. Segala sesuatu yang mengganggu, menyulitkan, atau membahayakan orang lain juga dapat dikategorikan sebagai bentuk gangguan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Ketika Kepentingan Pribadi Mengalahkan Kepentingan Umum
Salah satu contoh yang sering ditemukan dalam kehidupan masyarakat adalah pembangunan rumah yang mengabaikan fungsi jalan dan trotoar.
Tidak sedikit pemilik rumah yang meninggikan halaman atau bangunannya jauh di atas permukaan jalan. Akibatnya dibuatlah akses masuk berupa jembatan atau tanjakan yang memakan sebagian trotoar bahkan badan jalan.
Sekilas hal ini terlihat sebagai urusan pribadi. Namun dampaknya dirasakan oleh masyarakat luas.
Trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki menjadi terganggu. Kendaraan yang berpapasan di depan rumah tersebut sering kali harus berhenti atau bergantian karena ruang jalan menyempit. Pada jam sibuk, kondisi ini dapat menyebabkan kemacetan kecil yang berulang setiap hari.
Mungkin sebagian orang menganggapnya sepele. Namun bayangkan jika di dalam kendaraan yang terhambat tersebut terdapat orang yang sedang sakit dan membutuhkan pertolongan segera. Bayangkan jika itu adalah ambulans yang membawa pasien dalam kondisi darurat.
Dalam situasi tertentu, satu menit saja bisa sangat berharga. Bahkan keterlambatan beberapa menit dapat menentukan keselamatan seseorang.
Islam mengajarkan bahwa menghilangkan kesulitan orang lain merupakan amal mulia. Sebaliknya, menciptakan kesulitan yang sebenarnya bisa dihindari adalah perbuatan yang perlu dievaluasi.
Hikmah Shalat Berjamaah yang Sering Terlupakan
Shalat berjamaah memiliki banyak hikmah sosial yang mendalam.
Ketika berjamaah, seorang pejabat berdiri sejajar dengan rakyat biasa. Orang kaya berdiri berdampingan dengan orang miskin. Tidak ada kursi khusus, tidak ada saf istimewa karena jabatan atau kekayaan.
Semua tunduk kepada Allah dalam posisi yang sama: berdiri bersama, rukuk bersama, dan sujud bersama.
Pesan yang ingin diajarkan sangat jelas, yaitu bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
Sayangnya, pelajaran kesetaraan ini kadang tidak terbawa ke luar masjid. Ketika kembali ke kehidupan sehari-hari, sebagian orang justru ingin lebih diutamakan daripada yang lain. Kepentingan pribadi dianggap lebih penting daripada kepentingan masyarakat.
Padahal jika makna shalat berjamaah benar-benar dipahami, seseorang akan lebih berhati-hati agar tidak mengambil hak orang lain, tidak mengganggu fasilitas umum, dan tidak merasa dirinya lebih berhak dibanding masyarakat sekitar.
Shalat yang Menghasilkan Kepedulian
Pemahaman yang benar terhadap shalat akan melahirkan beberapa karakter penting.
Pertama, disiplin. Orang yang menjaga waktu shalat akan menghargai waktu orang lain.
Kedua, tanggung jawab. Orang yang sadar bahwa Allah mengawasinya akan berusaha menjalankan amanah dengan baik.
Ketiga, empati. Orang yang setiap hari berdoa memohon rahmat Allah akan terdorong untuk menjadi rahmat bagi sesama.
Keempat, kepedulian sosial. Ia tidak hanya memikirkan kenyamanan dirinya sendiri, tetapi juga mempertimbangkan dampak perbuatannya terhadap masyarakat.
Inilah esensi dari shalat yang hidup. Shalat tidak hanya terlihat dalam gerakan rukuk dan sujud, tetapi juga dalam cara seseorang menggunakan jalan umum, menjaga kebersihan lingkungan, mematuhi aturan, dan menghormati hak orang lain.
Sebagai umat Islam, kita perlu terus mengingat bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual yang selesai setelah salam. Shalat adalah proses pendidikan yang berlangsung seumur hidup. Tujuannya bukan hanya membentuk hubungan yang baik dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga hubungan yang baik dengan sesama manusia (hablum minannas).
Mari kita jadikan shalat sebagai sumber akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Jika Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menyingkirkan duri dari jalan adalah ibadah, maka jangan sampai kita menjadi orang yang justru menebarkan "duri-duri baru" yang menyulitkan masyarakat.
Mulailah dari hal-hal sederhana: menjaga kebersihan lingkungan, menghormati fungsi trotoar, tidak mengganggu akses jalan, serta mempertimbangkan kepentingan umum dalam setiap keputusan pribadi.
Karena sesungguhnya, shalat yang baik bukan hanya terlihat di dalam masjid, tetapi juga terasa manfaatnya di jalan raya, di lingkungan tempat tinggal, dan dalam seluruh aspek kehidupan. Ketika shalat telah menjadi akhlak, maka keberadaannya akan menghadirkan ketenangan, kemudahan, dan kemaslahatan bagi semua orang. Itulah hakikat shalat yang sesungguhnya: membentuk manusia yang tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga menjadi rahmat bagi lingkungan sekitarnya.

0 facebook:
Post a Comment