Oleh: Dicky Kurniawan, S.HI.
Kepala KUA Jeunieb Kabupaten Bireuen
Setiap manusia menjalani hidup dengan berbagai penantian. Ada yang menunggu kelulusan, menunggu pekerjaan yang lebih baik, menunggu datangnya rezeki, menunggu anak tumbuh dewasa, bahkan menunggu masa pensiun. Sebagian orang menghabiskan hari-harinya dengan mengejar target demi target, seolah hidup adalah perlombaan tanpa garis akhir.Namun, di balik semua penantian itu, ada dua waktu yang sesungguhnya paling pasti menghampiri setiap manusia: waktu shalat dan waktu kematian. Yang pertama datang berulang lima kali dalam sehari sebagai panggilan kasih sayang Allah Swt., sedangkan yang kedua datang sekali tanpa pernah diketahui kapan waktunya. Di antara dua kepastian itu seluruh perjalanan hidup manusia berlangsung.
Kesadaran ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan sekadar rentang waktu yang terus berjalan, melainkan sebuah kesempatan yang setiap detiknya bernilai. Apa yang kita lakukan di antara satu waktu shalat menuju waktu shalat berikutnya akan menjadi bagian dari catatan amal yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Dunia Adalah Jeda
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat persinggahan. Allah Swt. berfirman:
"Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabut: 64)
Ayat ini memberikan perspektif bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa segala kenikmatan dunia akan berakhir, sementara kehidupan akhirat adalah tempat tinggal yang abadi bagi manusia sesuai dengan amal yang telah dikerjakannya.
Karena itu, dunia dapat dipahami sebagai sebuah jeda menuju keabadian. Jeda bukan berarti tidak penting, justru karena singkat maka setiap detiknya menjadi sangat berharga. Seperti seorang musafir yang singgah untuk mempersiapkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan panjang, demikian pula manusia menjalani kehidupan dunia sebagai tempat mempersiapkan diri menuju kehidupan yang sesungguhnya.
Shalat sebagai Penanda Kehidupan
Di dalam jeda itu, Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa arah. Allah menetapkan shalat sebagai penanda waktu kehidupan. Firman-Nya: "Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa' : 103)
Penetapan waktu shalat bukan sekadar aturan ibadah, tetapi juga pendidikan spiritual. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa keterikatan shalat dengan waktu mendidik manusia untuk hidup disiplin, teratur, dan senantiasa mengingat Allah di tengah kesibukan dunia.
Lima kali sehari, azan berkumandang seolah menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh larut dalam urusan dunia. Dari Subuh menuju Zuhur, dari Zuhur menuju Asar, dari Asar menuju Magrib, hingga Isya, setiap jeda waktu adalah kesempatan untuk bekerja, berkarya, berbuat baik, sekaligus memperbarui hubungan dengan Allah. Dengan demikian, shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga kompas yang menjaga arah kehidupan agar tidak kehilangan tujuan.
Kematian: Kepastian yang Dirahasiakan
Jika shalat adalah kepastian yang datang berulang setiap hari, maka kematian adalah kepastian yang datang sekali tanpa pernah diketahui waktunya. Allah Swt. berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 185 : "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu
Tidak ada manusia yang mampu menghindarinya. Jabatan, kekayaan, usia muda, maupun kesehatan tidak dapat menjadi jaminan. Yang membedakan hanyalah kesiapan masing-masing dalam menyambutnya. Rasulullah SAW. bersabda: "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian." (HR. At-Tirmidzi No. 2307)
Hadis ini sering disalahpahami seolah Islam mengajarkan umatnya untuk terus-menerus larut dalam kesedihan. Padahal, menurut Imam An-Nawawi, mengingat kematian justru akan melembutkan hati, mengurangi kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, serta mendorong seseorang memperbanyak amal saleh. Kesadaran akan kematian bukan untuk melemahkan semangat hidup, melainkan untuk meluruskan orientasi hidup.
Mengisi Jeda dengan Amal Terbaik
Pertanyaan terpenting dalam kehidupan bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan bagaimana seseorang mengisi waktu yang Allah berikan. Di antara satu azan dan azan berikutnya, manusia diberi kesempatan untuk menebar manfaat, menjaga amanah, mencari rezeki yang halal, mendidik keluarga, menolong sesama, serta memperbaiki diri. Setiap detik yang berlalu sesungguhnya adalah investasi menuju kehidupan yang kekal.
Rasulullah Saw. mengingatkan: "Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)
Hadis ini menegaskan bahwa hidup adalah kesempatan yang tidak akan terulang. Apa yang dilakukan hari ini akan menentukan keadaan seseorang ketika menghadap Allah kelak. Hasan Al-Bashri, seorang tabi'in yang dikenal dengan kezuhudannya, pernah berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berkurang pula bagian dari dirimu."
Ungkapan ini mengingatkan bahwa bertambahnya usia pada hakikatnya adalah berkurangnya kesempatan. Karena itu, seorang mukmin tidak seharusnya hanya menghitung usianya, tetapi juga menghitung seberapa banyak amal yang telah dipersiapkan.
Menjadikan Setiap Azan sebagai Pengingat
Azan yang berkumandang lima kali sehari sesungguhnya bukan sekadar penanda masuknya waktu shalat. Azan adalah panggilan untuk berhenti sejenak, mengevaluasi diri, dan mengingat kembali tujuan hidup. Setiap azan menjadi isyarat bahwa Allah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, memohon ampunan, dan menambah amal kebajikan. Sebaliknya, setiap hari yang berlalu juga berarti satu langkah lebih dekat kepada kepastian yang tidak pernah diketahui waktunya. Kesadaran ini yang melahirkan keseimbangan dalam hidup: semangat bekerja tanpa melupakan ibadah, mengejar cita-cita tanpa kehilangan orientasi akhirat, serta menikmati nikmat dunia tanpa terikat olehnya.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Al-Fawā'id mengingatkan bahwa menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian. Kematian hanya memutus hubungan manusia dengan dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu dapat memutus peluang memperoleh ridha Allah dan bekal untuk akhirat.
Begitulah hidup berjalan dengan rangkaian jeda yang singkat, jeda antara satu azan dan azan berikutnya, jeda antara hari ini dan esok yang belum tentu datang. Selama jeda itu berjalan, setiap mukmin diberi pilihan untuk mengisinya dengan kelalaian atau dengan amal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dan sebaik-baik jeda adalah yang dihabiskan dalam kesiapan menyambut keabadian.

0 facebook:
Post a Comment