Oleh: Juariah Anzib, S.Ag

Penulis Buku Wakaf di Aceh: Tradisi, Inovasi, dan Keberkahan


Dayah merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang telah lama menjadi pilar dasar dalam membentuk peradaban masyarakat Aceh. Dari dayah lahir para ulama, pendidik, dan pemimpin umat yang tidak hanya kuat dalam penguasaan ilmu-ilmu Islam, tetapi juga memiliki akhlak mulia (akhlaqul karimah). Tradisi keilmuan yang berakar pada pengkajian kitab kuning menjadikan dayah sebagai benteng moral dan keimanan masyarakat.

Dalam beberapa dekade terakhir, minat masyarakat terhadap dayah semakin meningkat. Banyak orang tua menjadikan dayah sebagai pilihan utama pendidikan bagi anak-anak mereka. Hal ini tidak terlepas dari peran alumni dayah yang terbukti mampu menggerakkan umat dan menjadi rujukan dalam kehidupan umat. Namun demikian, di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, dayah kini berada di persimpangan zaman, antara mempertahankan tradisi dan menjawab tuntutan modernitas.

Dalam Perbincangan Sabtu Pagi Radio Baiturrahman (8 Agustus 2026), Pemimpin Redaksi Gema Baiturrahman, Juniazi Yahya, menegaskan bahwa transformasi digital telah mengubah wajah dunia, termasuk dunia pendidikan. Selama ini, dayah kerap dipersepsikan sebagai lembaga yang sulit beradaptasi dengan modernisasi, seolah menutup diri dari perkembangan zaman. Padahal, persepsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Dayah memiliki potensi untuk bertransformasi tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Modernisasi dalam konteks dayah bukanlah upaya mengubah karakter dasar lembaga ini, melainkan memperkuat eksistensinya. Tradisi belajar di rangkang, kedalaman penguasaan kitab kuning, dan pembinaan akhlak tetap menjadi ciri khas yang harus dipertahankan. Namun di sisi lain, dayah juga perlu membuka diri terhadap sistem pendidikan yang lebih luas agar mampu menyetarakan diri dengan pendidikan nasional. Dengan demikian, alumni dayah memiliki peluang yang sama dalam melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Faktanya, saat ini banyak lulusan dayah yang berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi, bahkan hingga ke luar negeri. Tidak sedikit pula yang berkarier sebagai aparatur sipil negara, anggota TNI/Polri, akademisi, dan profesional di berbagai bidang. Fenomena ini menunjukkan bahwa dayah tidak lagi berada di pinggiran, melainkan telah menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter Islami.

Keistimewaan Aceh dengan hadirnya Dinas Pendidikan Dayah menjadi peluang strategis dalam mendorong kemajuan lembaga ini. Sinergi antara Dinas Pendidikan Dayah dan Kementerian Agama sangat diperlukan untuk memperkuat kualitas pendidikan dayah, baik dari aspek kurikulum, manajemen, maupun pengembangan sumber daya manusia. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan sistem pendidikan dayah yang adaptif tanpa kehilangan ruh keislamannya.

Upaya transformasi juga harus menyentuh aspek peningkatan kapasitas tenaga pendidik. Para teungku, ustaz, dan guru dayah perlu mendapatkan pembinaan berkelanjutan agar mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu Islam dengan pengetahuan umum. Penyesuaian kurikulum menjadi langkah penting, bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi untuk melengkapinya. Dayah tidak cukup hanya membangun fisik, melainkan juga harus memperkuat kualitas intelektual dan manajerial.

Dalam perbincangan yang sama, Sayed Muhammad Husen menambahkan bahwa perubahan merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Dayah harus berani melangkah secara bertahap dalam proses transformasi, agar alumninya memiliki daya saing yang setara di tengah masyarakat. Pendidikan Islam harus terus diaktualisasikan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Jika dahulu dayah cenderung berdiri sendiri dan tidak terintegrasi dengan sistem pendidikan umum, kini banyak dayah yang mengembangkan model pendidikan terpadu. Hal ini memungkinkan santri memperoleh ijazah formal sekaligus memperdalam ilmu-ilmu Islam. Bahkan, tidak sedikit alumni dayah yang menjadi dosen dan akademisi tanpa meninggalkan perannya sebagai teungku.

Namun demikian, tantangan masih tetap ada. Salah satu kelemahan yang perlu dibenahi adalah penguasaan sains, teknologi, dan bahasa asing. Di era global, kemampuan ini menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan dari pengembangan umat. Pengalaman negara lain misalnya Iran menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya ditopang oleh kekuatan iman, tetapi juga oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Oleh karena itu, dayah di Aceh tidak boleh tertinggal. Keterbukaan terhadap pengembangan kurikulum, khususnya dalam bidang sains, sosial, dan ekonomi syariah, menjadi langkah strategis. Integrasi antara ilmu-ilmu Islam dan ilmu umum akan melahirkan generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul secara intelektual.

Peran Dinas Pendidikan Dayah sebagai pembina menjadi sangat penting dalam mendorong penguatan manajemen kelembagaan. Pengelolaan dayah yang profesional yang meliputi aspek keuangan, administrasi, dan hubungan masyarakat, akan memperkuat kemandirian lembaga. Dengan manajemen yang baik, dayah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada swadaya tradisional, tetapi mampu berkembang secara berkelanjutan.

Karena itu, dayah harus mampu menempatkan diri secara proporsional di tengah perubahan zaman. Ilmu-ilmu Islam tetap menjadi landasan utama, sementara ilmu pengetahuan umum menjadi pelengkap yang memperluas manfaat bagi umat. Transformasi dan modernisasi bukanlah ancaman, melainkan peluang  memperkuat peran dayah sebagai pusat peradaban Islam di Aceh.

Dayah tidak sedang kehilangan jati diri, tetapi sedang meneguhkan eksistensinya di era baru.*

SHARE :

0 facebook:

 
Top