Oleh: Muhibuddin Hanafiah
Akademisi Kopelma Darussalam
Sekilas tidak ada hubungan sama sekali antara anak dan buah yang jatuh dari pohonnya. Namun hubungan itu jelas terlihat dalam sebuah ungkapan atau peribahasa dalam bahasa Indonesia, yaitu “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Dalam situasi normal memang setiap buah yang jatuh dari pohonnya tidak menggelinding jauh dari pohonnya. Artinya jatuhnya di sekitar pohon, tidak terlalu jauh dari pohonnya. Misalnya pohon itu tumbuh di tanah atau kebun yang datar, bukan di pinggir jurang atau di dekat sungai. Otomatis buah yang jatuh dari pohon itu bergelinding di sekitar pohon dengan beberapa radius meter di dekat pohon. Begitulah barangkali maksud dari peribahasa di atas.
Kalimat ini yang mengandung semacam kebiasaan yang berlaku di alam ini. Kemudian dihubungkan dengan status seorang anak ketika dibandingkan dengan orang tuanya. Semacam hubungan kausalitas antara pohon dan buah, antara orang tua dan anak. Biasanya bagaimanapun perihal orang tua secara dominan mempengaruhi masa depan anak-anak mereka atau bagaimana tampangnya anak begitulah wajah orang tuanya. Kiasan ini lazimnya mempersamakan kesuksesan atau kegagalan anak dengan orang tua mereka.
Demikian juga sebaliknya, mempersamakan kesuksesan atau kegagalan orang tua dengan anaknya. Tentu saja kesuksesan dan kegagalan itu bukan dalam pengertian kesamaan secara persis antara karir atau profesi anak dengan orang tuanya. Kesamaan ini lebih pada aspek biologis dan psikologis semata. Konotasi hubungan dialektif antara anak dan orang tua ini juga ditemukan dalam peribahasa Aceh. “Lagei u meunan minyeuk, lagei ku meunan aneuk” (bagaimana orang tua begitulah anak). Sementara orang Inggris mengatakan “like father like son”, artinya kurang lebih sama dengan ungkapan orang Aceh.
Dalam konteks ini, orang tua adalah cermin atau panutan anak-anak mereka. Kesuksesan seorang anak biasanya karena orang tuanya sukses. Kegagalan seorang anak lazimnya didahului oleh orang tuanya yang gagal. Tentu saja hukum sebab akibat ini tidak berlaku untuk semua kasus, di sana ada pengecualian-pengecualian atau penyimpangan dari hukum yang umum berlaku.
Namun demikian, peribahasa di atas paling tidak berfungsi sebagai sebuah aksioma yang dapat dijadikan tolak ukur universal dalam menata kehidupan umat manusia terutama dalam interaksi orang tua dan anak. Orang tua yang disimbolkan dengan sebatang pohon walau bagaimanapun turut berkontribusi terhadap aktualisasi hidup anak-anak mereka. Jika orang tua berharap nasib anaknya harus lebih baik dari dirinya maka ia harus menjadi pohon yang berkualitas dalam dimensi apapun.
Dan, konotasi dari peribahasa ini, cenderung melihat aspek yang terbatas, yaitu perihal karakter, watak atau kecerdasan anak yang secara generatif diturunkan dari kedua orang tuanya. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengutamakan nilai-nilia agama, moral dan kemanusiaan akan tumbuh menjadi anak yang religius, santun, dan dermawan. Rumah dan orang-orang terdekat di dalamnya adalah panutan dalam prinsip dan filosofi hidupnya kelak.
Sebaliknya, lingkungan keluarga yang hambar tanpa komunikasi dan bahkan mencontohkan perilaku moral yang menyimpang dan pengabaian terhadap ajaran agama cenderung membentuk anak yang pembangkang terhadap norma agama, susila dan kemanusiaan. Anak yang dibesarkan dengan kehangatan kasih sayang akan tumbuh menjadi anak yang peduli kepada penderitaan orang lain. Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta dan siraman doa akan tumbuh menjadi anak yang sarat dengan empati dan simpati kepada siapapun.
Sementara pada aspek potensial lainnya seperti kesuksesan karir, hobbi dan gaya hidup biasanya lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan di luar rumah atau lingkungan pergaulan. Masa depan anak terkadang melebihi kesuksesan dan ekpetasi orang tuanya. Ada anak yang berlatar belakang orang tuanya hanya berstatus buruh tani namun ia berhasil melejit menjadi pengusaha sukses mancanegara.
Demikian juga anak seorang dokter spesialis yang sangat terkenal di kotanya, namun ia hanya seorang seniman, budayawan, artis, atau sastrawan hebat. Jadi soal profesi dan pilihan hidup lainnya tidak selamanya berbanding lurus dengan sang ayah atau ibu. Banyak jalan yang berbeda yang dipilih anak sehingga tidak mengcopy-paste keseluruhan prototype orang tuanya.
Dalam banyak kasus, anak lebih sukses hidupnya melebihi kesuksesan orang tuanya. Dan sekali lagi bahwa profesi hidup yang dipilih dan kemudian dijalani oleh para anak tidak selalu atau bahkan tidak memiliki kesamaan sama sekali dengan profesi ayahnya. Hal ini wajar dan alamiah saja dengan beberapa faktor penyebab seperti pendidikan dan interaksi sosial yang mengitarinya.
Oleh karena itu, agar setiap kita sebagai orang tua harus mempersiapkan benih pohon yang unggul (pohon premium) untuk kita tanam di kebun kita yang subur. Kemudian pohon itu kita rawat dan jaga dari segala gangguan alam dan penyakit. Saban hari kita bersihkan gulmanya, disiram dan diberikan nutrisi yang memadai agar pohon tumbuh secara normal. Agar kelak pohon tersebut hidup dengan akar yang kuat, cabang dan ranting yang kokoh, daunnya yang lebat dan buahnya yang ranum mewangi. Seandainya nanti buahnya jatuh tetapi jatuhnya masih di sekitar pohonnya dan kitapun masih sempat menikmatinya. Semoga!

0 facebook:
Post a Comment