LAMRIONLINE.COM | BANDA ACEH - Tiga dekade bukan perjalanan singkat bagi koperasi syariah. Koperasi Simpan Pinjam dan pembiayaan Syariah Baitul Qiradh (KSPPS BQ) Baiturrahman telah melewati berbagai fase, mulai dari masa awal berdiri, bencana gempa dan tsunami, perubahan badan hukum, hingga menghadapi dinamika persaingan lembaga simpan pinjam syariah. Memasuki usia 31 tahun pada 2 Oktober 2026, koperasi syariah ini terus berupaya meningkatkan peran dalam pemberdayaan ekonomi umat.

KSPPS BQ Baiturrahman bermula dari KSM BQ Baiturrahman yang diresmikan pada 8 Juli 1995 oleh Menristek Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Kegiatan operasionalnya dimulai 2 Oktober 1995 dengan modal awal Rp16 juta. Dari jumlah tersebut, Rp10 juta berasal dari kas Masjid Raya Baiturrahman, sedangkan sisanya berasal dari sejumlah pengusaha.

Seiring perkembangan kelembagaan, pada 7 Agustus 2001 lembaga ini memperoleh badan hukum koperasi dengan nama Koperasi Syariah BQ Baiturrahman. Perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 2004 menyebabkan kerugian sekitar Rp98,5 juta. Sebagian besar nasabah peminjam juga menjadi korban bencana sehingga aktivitas kantor sempat terhenti selama dua bulan.

Namun, lembaga ini kembali beroperasi pada 17 Maret 2005 yang diresmikan oleh Hj Mufida Yusuf Kalla. Penguatan modal dari BAZNAS sebesar Rp605,08 turut mendukung proses pemulihan dan menjadi salah satu momentum dalam kebangkitan BQ Baiturrahman pascatsunami.

BQ Baiturrahman dalam perjalanan berikutnya, terus melakukan penyesuaian kelembagaan. Badan hukumnya berubah menjadi KSPPS BQ Baiturrahman pada 2022, sesuai Permenkop Nomor 11 Tahun 2017, dengan Akta Pengesahan AHU-0004213.AH.01.27.Tahun 2022 tertanggal 22 Februari 2022.

Anggota Terus Bertambah

Ketua Pengurus BQ Baiturrahman, H Basri A Bakar menyampaikan, berdasarkan laporan pertanggungjawaban pengurus Tahun Buku 2025 menunjukkan adanya pertumbuhan jumlah anggota dalam lima tahun terakhir. Pada 2021 tercatat 233 anggota, meningkat menjadi 235 pada 2022, kemudian 446 pada 2023, 760 pada 2024, dan mencapai 904 anggota pada 2025.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya basis keanggotaan koperasi. Peningkatan anggota bagi BQ Baiturrahman bukan hanya persoalan jumlah, tetapi juga memperluas ruang partisipasi masyarakat sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan koperasi.

Pada sisi usaha, BQ Baiturrahman melakukan kegiatan pembiayaan bagi anggota yang membutuhkan modal usaha. Pembiayaan yang disalurkan berada pada kisaran Rp2 juta hingga plafon tertinggi Rp200 juta.

Basri menambahkan, pembiayaan murabahah sebesar sekitar Rp9,09 miliar dan ijarah multijasa sekitar Rp3,61 miliar, dengan total pembiayaan sekitar Rp12,70 miliar.

Sementara itu, dana simpanan anggota yang dihimpun melalui berbagai produk mencapai sekitar Rp6,70 miliar. Produk tersebut meliputi simpanan mudharabah, pendidikan, kurban, walimah, haji, Idulfitri, dan wadiah.

Data lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan simpanan yang dinamis. Nilai simpanan anggota tercatat Rp16,67 miliar pada 2021, naik menjadi Rp19,12 miliar pada 2022, kemudian turun menjadi Rp14,16 miliar pada 2023, meningkat kembali menjadi Rp18,75 miliar pada 2024, dan berada pada sekitar Rp14,84 miliar pada 2025.

SHU Terus Meningkat

Salah satu indikator kinerja koperasi adalah Sisa Hasil Usaha (SHU). Dalam lima tahun terakhir, SHU BQ Baiturrahman menunjukkan tren peningkatan setelah mengalami kerugian pada 2021.

Koperasi membukukan SHU pada 2021 minus sekitar Rp24,22 juta. Angka tersebut kemudian berubah positif menjadi Rp6,62 juta pada 2022, Rp10,98 juta pada 2023, Rp33,92 juta pada 2024, dan mencapai Rp39,19 juta pada 2025.

SHU 2025 meningkat sekitar 15,5 persen dibandingkan 2024. Setelah dikurangi zakat 2,5 persen, Basri menyebutkan SHU yang dibagikan sekitar Rp38,21 juta.

Pembagian SHU tersebut dialokasikan beberapa pos, antara lain cadangan modal, anggota, pengurus dan pengawas, pengelola dan karyawan, serta pendidikan. Komposisi ini memperlihatkan hasil usaha tidak hanya diarahkan kepada pemilik modal, tetapi juga digunakan untuk memperkuat kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.

Penguatan Permodalan

Sementara itu, Sekretaris BQ Baiturrahman mengungkapkan, total modal pada akhir 2025 sekitar Rp3,08 miliar yang berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, hibah, cadangan, dan SHU tahun berjalan.

Komponen terbesar berasal dari hibah yang tercatat sekitar Rp2,37 miliar. Di dalamnya terdapat sejumlah sumber dukungan, antara lain modal Masjid Raya Baiturrahman, Modal Baiqi, ILO, Hibah CARE, GTZ, Mercy, penyertaan BAZNAS, dan penyertaan AMF.

Struktur permodalan tersebut menunjukkan perjalanan BQ Baiturrahman tidak hanya bertumpu pada simpanan anggota, tetapi juga pernah memperoleh dukungan dari berbagai lembaga dalam proses penguatan kelembagaan, terutama setelah bencana tsunami.

Tetap Menjaga Fungsi Sosial

Sebagai lembaga keuangan syariah yang tumbuh dari lingkungan Masjid Raya Baiturrahman, fungsi sosial tetap menjadi bagian dari aktivitas BQ Baiturrahman.

Sayed menambahkan, penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah setiap tahun. Pada 2021 jumlahnya Rp30,227 juta, kemudian Rp23,5 juta pada 2022, Rp21,6 juta pada 2023, Rp19,87 juta pada 2024, dan Rp15,5 juta pada 2025. Dana ZIS dihimpun dan disalurkan kepada anak yatim, fakir miskin, dan kaum dhuafa.

Kontribusi sosial tersebut memperlihatkan keberadaan BQ Baiturrahman tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan usaha. Sebagai koperasi syariah, keberlanjutan lembaga juga berkaitan dengan kemampuan menjaga nilai sosial dan kepedulian terhadap masyarakat.

Menatap Persaingan dan Tantangan Baru

Menurut Basri A Bakar, BQ Baiturrahman menempatkan amanah dan kehati-hatian sebagai landasan dalam menjalankan tugas. Pengurus, pengawas, dan pengelola tentu akan terus meningkatkan pelayanan kepada anggota dan memperkuat penghimpunan dana melalui peningkatan simpanan anggota lama dan perluasan pasar anggota baru.

Tantangan ke depan bisa saja tidak ringan. Persaingan lembaga keuangan semakin ketat, sementara kebutuhan anggota terus berkembang. Karena itu, pertumbuhan jumlah anggota perlu diikuti peningkatan kualitas layanan, penguatan tata kelola, pengembangan produk pembiayaan, serta kemampuan mengelola risiko.

Tentu saja, bagi BQ Baiturrahman, usia 31 tahun bukan hanya catatan sejarah. Tiga dekade merupakan akumulasi pengalaman dalam membangun lembaga keuangan mikro syariah yang lahir dari semangat pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid.

Dari modal awal Rp16 juta pada 1995, melewati tsunami 2004, hingga mencapai 904 anggota pada 2025 dan membukukan SHU sekitar Rp39,19 juta, perjalanan tersebut menunjukkan kemampuan koperasi bertahan dan beradaptasi.

Tantangan di masa depan tentu saja bukan hanya bagaimana koperasi terus tumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut memberi manfaat yang lebih luas kepada anggota dan masyarakat. 

“Dengan tata kelola yang amanah, profesional, dan sesuai prinsip syariah, kita berharap BQ Baiturrahman mampu melanjutkan kiprahnya sebagai bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi umat di Aceh,” pungkas Sayed. (Abrar)

SHARE :

0 facebook:

 
Top