Loading...

Oleh: Abrar SPd 

Aceh tidak lepas dari para penulis sejarah. Berbagai riwayat dan manuskrip tulisan kuno tersimpan di museum-museum di Indonesia dan dunia. Tanpa adanya para penulis ini, maka sejarah Aceh pun tidak akan kita ingat dan tidak pernah kita ketahui. 

Tidak hanya dari penulis. Sejarah panjang perjuangan dan penyebaran Islam di Aceh banyak diceritakan oleh para orang tua (endatu) kita dari mulut ke mulut, maupun melalui sastra lisan dan seni. 

Namun, sejarah Aceh lebih berbekas pada kita melalui tulisan. Dulu, para ulama yang menyebarkan Islam juga meninggalkan beberapa tulisan untuk para generasi. Baik berupa kitab, hikayat dan syair. 

Di zaman modern peranan penulis sejarah pun semakin diperlukan untuk diterbitkan di media-media cetak dan elektronik. Contohnya adalah HM Zainuddin. Penulis buku sejarah dan sastrawan ini punya peranan penting dalam sejarah Aceh di Nusantara. Karyanya yang paling terkenal adalah roman Jeumpa Aceh yang sempat dicetak dalam bahasa Sunda dan laris di pasaran. 

Selain itu, Tarich Aceh, Nusantara Jilid II dan buku Sastra Aceh Sepanjang Masa juga merupakan karya beliau yang belum sempat dicetak (Sumber Nab Bahany As-Budayawan Aceh). Sementara ahli epigraf Aceh, Tengku Taqiyuddin Muhammad, Lc mengatakan tulisan sejarah HM Zainuddin sangat membantu penelitian yang dikerjakannya. 

HM Zainuddin sangat banyak menginformasikan keberadaan situs-situs bersejarah yang tersebar di seluruh Aceh, salah satunya keberadaan makam kakek pendiri Aceh Darussalam Sultan Ali Mughayat Syah yaitu Sultan Munawar Syah di Gampong Hagu Panteraja. Selain itu, tulisan HM Zainuddin juga mengungkap lokasi makam-makam kuno milik tokoh sejarah Aceh yang berada di Ulee Kareung Indrapuri. Setelah diteliti, kata Taqiyuddin, ternyata nisan tersebut merupakan milik Sultan Alauddin Riayat Syah yang mangkat pada 993 H atau 1585 Masehi. 

Sementara di masa lalu kiprah ulama dalam karya-karyanya juga merupakan bagian tak terpisahkan bagi perkembangan tulisan mengenai sejarah Aceh. Beberapa di antaranya Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al Sumatrani, Nuruddin Ar Raniry dan Abdul Rauf As Singkili. 

Mereka menyebarkan agama islam dengan dakwah dan tulisan. Selain itu, masih banyak lagi para penulis di Aceh yang punya peranan penting bagi perkembangan sejarah, terutama sejarah islam. 

Karena melalui tulisanlah sejarah Aceh ini dikenang dan diketahui. Apalagi di era digital seperti sekarang ini. Dimana banyak penulis yang sudah bisa secara langsung mempubish atau memposting tulisannya di media sosial. 

Dari itu, kita para generasi, mari galakkan budaya menulis, selain menambah wawasan, karya tulisan kita juga akan terus ada walaupun kita sudah tak ada.
SHARE :
 
Top