Loading...

Oleh : Juwita SPd

Firman Allah dalam Al-Qur’an yang bunyinya :“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qu’ran) menurut kemauan dan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).( Qs Al-Najm(53)3-4). Hiruk pikuk dunia yang mengatasnamakan segala sudut kepentingan, alangkah mulianya bila dikomunikasikan kualitas pikiran kita dan hati bagi hakikat seorang manusia seutuhnya, yang mana secara kudrah kehidupan dan semua aktifitas dibentuk oleh Tuhan, dengan demikian kita harus menyadari dan mau mempersiapkan diri secara mental dan moral untuk menerima tugas sesuai kapasitas tersendiri menghadapi tugas besar. 

Diriwayatkan bahwa dalam kehidupannya Nabi SAW bebas dari semua kotoran jahiliyah, beliau mencapai kesempurnaan tingkah laku yang baik dan sopan,kesabaran, kejujuran dan integritas, mempengaruhi dengan pengaruh yang memikat hati, pikiran dan jiwa, apapun yang dipikirkan dan yang dilakukan Nabi dari hasil kegelisahan terhadap kondisi yang menyedihkan yang merajalela di negerinya. 

Tingkatan apapun kepemimpinan, Implikasinya adalah suatu keharusan yang sangat tepat apabila keteladanan Nabi kita sama-sama mencoba disusupi kembali dalam kepemimpinannya, mungkin sudah sangat nyata kita dapat lihat bersama, semakin disamarkan keteladanan tersebut diaplikasikan untuk kewajiban menjalankan amanah dan tugas. 

Implementasi kepemimpinan yang didambakan adalah pemimpin keagamaan, yang membangkitkan pikiran, mengamati secara kritis pengalaman-pengalaman lahiriah dan batiniah, dalam fundamental selaras dengan pandangan keagamaan masyarakat yang jauh lebih maju dimasanya. 

Apapun yang ditunjukkan oleh kepemimpinan haruslah menjadi pembaharu praktis, apapun yang dikatakannya harus diubah menjadi realitas praktis, mencerminkan kepribadian luhur, nilai-nilai keagungan adalah darah daging, konsisten dan sistematis supaya ditemukan koherasi dan keharmonisan dalam pandangan-pandangan yang telah dikemukakan sebagai tujuan. 

Al-Qur’an menyatakan : “Akan kuberitakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun. Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berbuat dosa. Menyampaikan hasil pendengaran mereka, dan kebanyakan mereka pendusta (Al-Syu’ara’:26). Al-Qur’an menganjurkan manusia agar merenungi seluruh karir bijaksananya merupakan ungkapan setia atas fitrahnya yang lurus, bebas dari egoisme, kepentingan kelompok, kesombongan, kepura-puraan menampakkan kepribadian penyayang. 

Memang tidak pernah ada dalam sejarah, manusia yang bisa mencapai puncak kejayaan karena kekuasaan seperti yang diraih Nabi Muhammad SAW, namun petunjuk sesuai dalam firman Allah SWT yang bunyinya : “Apakah yang membuat manusia enggan beriman ketika petunjuk sudah datang kepada mereka? Mereka hanya berkata, “adakah Allah mengutus manusia (seperti kita) untuk dijadikan Rasul-Nya ? “katakanlah, “sekiranya dimuka bumi ini berdiam para malaikat, mereka berjalan dengan aman dan tenteram, niscaya Kami mengutus malaikat kepada mereka dari langit sebagai rasul” ( QS Al-Isra’(17): 94-95). 

Pemahaman ayat tersebut diatas jelas bahwa manusia sendiri mampu membimbing umat manusia. Dalam konteks sebuah kehidupan, ini adalah petunjuk praktis karena dunia ini dihuni oleh manusia dan demi perbaikan tatanan rakyatlah pemimpin itu ditakdirkan. 

Maka dengan meneladani kepemimpinan Nabi dan menonjolkan perilaku variasi berupa kualifikasi pemimpin sejati yang saleh dan bijak, integritas yang sempurna, akhlak bersinar tak ternoda, tidak mementingkan diri dan golongan, cinta terhadap rakyat, menghalau pengaruh dan bisikan kepentingan tertentu, rendah hati, menyangkal memiliki kekuatan, karena Allah jua pemilik kekuatan. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman : “Mempunyai hati, tidak mau juga mereka menyadari, mereka mempunyai mata, tidak juga mau melihat, dan mereka mempunyai telinga, tidak juga mau mendengar. Mereka sudah seperti ternak-bahkan lebih sesat lagi!. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(Qs Al-A’raf (7) : 179). 

Bukti-bukti kebenaran tidaklah sulit direalisasikan, bila kekuatan spekulatif berdasarkan keimanan di aplikasikan dalam kepemimpinan yang memiliki filosofi tidak kaku terhadap persoalan, memiliki keutamaan moral, sikap hormat, keterusterangan, pemikiran jujur dan menggunakan hati yang melindungi dan menerima, keterbukaan pikiran baik dalam diri maupun dari luar. 

Seyogyanya sekarang kepemimpinan dicontohkan sebagai sebuah draft dimana ketentuan-ketentuan damai dengan jelas dikemukakan, tidak ada ambisius terselubung, kata-kata bukanlah permainan, tiadalah sibuk dengan golongan tertentu, tonjolkan kepemimpinan yang universal, seperti halnya kepemimpinan dan keteladanan Rasulullah SAW yang rahmatan lil’alamin. 

Amin ya rabbal a’lamin...

Penulis Merupakan Guru di SD N 1 Indrapuri
SHARE :
 
Top