Adv

Adv


Oleh: Nuralmi,S.Ag

Setiap malam di bulan Ramadhan umat Islam berbondong bondong pergi ke mesjid atau surau untuk melaksanakan shalat tarawih. Apalagi di awal awal Ramadhan semua mesjid dan surau penuh sesak dengan para jamaah. Ini merupakan satu kesenangan bagi umat Islam karena tarawih tidak ada di bulan yang lain kecuali di bulan Ramadhan. Banyak hal yang bisa didapatkan saat shalat tarawih, selain pahala yang berlipat ganda juga mendapatkan ilmu dari ceramah Ramadhan yang biasa di laksanakan sebelum tarawih, serta dapat bersilaturrahim dengan kerabat dan handai taulan. 

Suatu hari setelah saya mengisi kajian, hanya iseng saja saya membuka pembicaraan dengan seorang gadis remaja. Saya bertanya, shalat tarawih dimana nak ? Saya shalat di rumah saja, jawabnya. Mengapa tidak shalat di mesjid atau surau ? Saya tanya lagi. Dijawab, di rumah lebih khusyu’, mesjid jauh, di surau dekat rumah saya tidak sanggup karena shalat tarawih rasa erobic, ceramah pun tidak ada. 

 Seketika saya tepana mendengar jawaban yang lucu menurut saya. Saya pikir ini  remaja gaul yang berani menyamakan shalat dengan erobic.  Karena penasaran maka saya tanya lagi, bagaimana shalat kok rasa erobic, memang shalat sambil goyang goyang seperti senam gitu ? Ternyata jawabannya adalah karena shalat dilaksanakan dengan cepat, kebut kebutan, bacaan ayatpun cepat sekali, tidak ada waqaf di setiap ayat dalam surah Al-Fatihah, tetapi semuanya disambung dalam satu nafas. Dalam setiap gerakan shalat tidak ada thuma’ninahnya. Shalat dua puluh tiga rakaat bisa selesai dalam waktu yang tidak sampai satu jam. Lebih cepat selesai dari pada shalat yang dilaksanakan sebelas rakaaat.  

Subhanallah, anak remaja bisa menilai mana ibadah yang didasari imanan wa ihtisaban (penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah), dengan ibadah hanya sekedar lepas tugas,karena banyak juga berpikiran yang penting ada shalat, dari pada tidak shalat. Padahal arti dari tarawih itu sendiri adalah istirahat, dilaksanakan dengan tenang dan tidak terburu buru. 

At-Tarawih adalah salat sunnah yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadan. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari kata “tarwihun” yang diartikan sebagai "waktu sesaat untuk istirahat". Dikatakan tarawih karena orang melaksanakannya beristirahat sebentar setiap selesai salam. Shalat tarawih merupakan qiyamul lail atau shalat malam yang dikhususkan di bulan Ramadhan. Berbeda dengan shalat tahajjud yang bisa dilaksanakan di malam apa saja, tidak hanya di bulan Ramadhan. 

Shalat tarawih merupakan salah satu ibadah untuk menghidupkan Ramadhan. Siang diwajibkan berpuasa, dan disunatkan shalat tarawih pada malamnya. Rasanya tidak sempurna Ramadhan tanpa dilengkapi dengan shalat tarawih. Ibadah ini bila dilaksanakan dengan penuh keimanan dan ihtisaban (penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah) maka akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu. Rasulullah SAW bersabda, 

‎مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang menghidupkan bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah SWT, maka akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu”.(HR. Bukhari dan Muslim). 

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa, apabila dilaksanakan dengan iman dan penuh rasa khusyu’ tawadhu’ hanya mengharap pahala dari Allah. Melakukannya tidak tergesa gesa, menghayati bacaannya, dilengkapi dengan thuma’ninah. Disitulah kenikmatan yang kita peroleh. Andai tidak sanggup shalat dua puluh tiga rakaat, maka shalatlah sebelas rakaat saja. Walaupun jumlahnya sedikit yang penting kulaitas ibadahnya bagus, dari pada kuantitasnya banyak tetapi kualitasnya tidak ada, maka yang didapat hanya lelah saja. Shalat itu adalah kita berinteraksi dengan Allah, sudah tentu kita harus berbicara dengan sopan dan tidak terburu buru, sampai kehilangan makna dari bacaan shalatnya karena cepat sekali, bahkan tidak dimengerti apa yang dibacanya. 

Rasulullah juga pernah bersabda bahwa shalat yang paling bagus adalah yang lama berdirinya. Dan beliau melarang shalat dengan cara mukhtashiran, yaitu shalat yang ringkas dan terburu buru, tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. 

Oleh karena itu, sangat tidak layak shalat tarawih dengan cara kebut kebutan, karena menghilangkan makna tarawih itu sendiri. Bacaan fatihah pun dibaca dengan satu nafas. Akan tetapi sangat nikmat jika fatihah dan surah dibacakan dengan suara merdu dan penuh syahdu. Gerakan shalat tidak terburu buru, tetapi dikerjakan dengan penuh ketenangan. 

Jika shalat dua puluh tiga rakaat dilaksanakan lebih cepat selesai dari yang sebelas rakaat, ini merupakan kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilaksanakan dengan penuh khusyu’ dan penuh ketenangan, sehingga kita dapat merasakan kenikmatannya, bukan kebut kebutan yang membuat badan bertambah lelah. Sehingga menghilangkan nilai dan nikmat tarawih itu sendiri. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah.
SHARE :
 
Top