Loading...


Alhamdulillah wa syukurillah, masih bisa bernafas lega dengan gratis, dan masih bisa melihat mata hari terbit dari timur, Allah masih memberikan kita kesempatan beramal sampai di penghujung Ramadhan. Lebaran sudah di depan mata, semoga kita masih diberi umur panjang sehingga bisa menikmati indahnya lebaran bersama keluarga tercinta. 

Berbagai persiapan dilakukan  menjelang lebaran, khususnya kaum ibu. Mulai dari mempersiapkan menu lebaran, pakaian keluaga baik yang seragam maupun yang tidak, sampai pada bersih bersih. Mulai dari membersihkan rumah dari sarang laba laba, kaca jendela di bersihkan sampai harus kinclong, gorden harus bersih dan wangi, lantai dipel harus bersih berkilau, rumput rumput di halaman harus dibabat sampai rapi, bunga bunga juga harus tertata dengan rapi. Yang jelas seisi rumah harus bersih dan rapi. 

Tidak hanya rumah dan isinya yang dibersihkan, namun tubuh dan wajahnya sendiri juga tidak ketinggalan dari program kebersihan. Jika dua hari lagi menjelang lebaran, semua salon penuh sesak dengan ibu ibu dan remaja putri yang ingin membersihkan dirinya, mulai dari facial wajah, creambat rambut, rambut direbonding dan dismoothing agar lurus, sampai spa seluruh tubuh, agar di hari yang fitri bisa terlihat benar benar cantik dan bersih. Jika tidak dibooking jau jauh hari maka bisa dipastikan tidak ada salon yang bisa menerimanya. 

Setelah semuanya sudah bersih, rumah sudah bersih, tubuh dan wajah juga sudah bersih. Sekarang mari kita renungkan sejenak apakah hati juga sudah bersih. Karena ketika membersihkan rumah, maka yang harus dibersihkan adalah luar dan dalam. Begitu juga diri kita, tidak hanya dibersihkan tubuh luarnya saja, tetapi untuk menyambut lebaran diri kita harus dibersihkan lahir dan batin, jiwa dan raga, agar hati bersih dan suci di hari yang fitri, terpancar dari inner beauty. 

Sebulan kita berpuasa merupakan kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri menuju taqwa sesuai dengan tujuan diwajibkannya ibadah puasa. Setiap mukmin menjadikan Ramadhan ini sebagai sarana perbaikan diri, target utamanya adalah perbaikan hati. Berupaya agar hati selalu tunduk pada syari’at Ilahi. Menjaga hati dalam beramal agar tertanam rasa ikhlas, tawakkal, harap dan takut kepada Allah, khusyuk tawadhu’ dan sebagainya. Menjauhkan diri dari sifat sifat yang dapat menimbulkan penyakit hati, seperti syirik, ria, takabbur, hasad dan dengki, ‘ujub dan thama’, sombong, membanggakan diri, ingin dihormati dan sebagainya. 

Idul fitri artinya kembali suci. Setelah sebulan kita melatih diri, menahan dari makan dan minum, tidak berbicara kotor dan tidak berdebat kusir, tidak berbohong, dan menahan diri dari segala prilaku yang dapat menghilangkan pahala puasa. Memperbanyak ibadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah, maka dari itu akan melahirkan pribadi yang suci. Yang sangat penting adalah hati yang suci. 

Jika memasuki hari yang fitri, namun hati belum mampu disucikan maka akan nampak pada wajahnya tidak ceria alias kelabu. Sangat disayangkan, rumah sudah bersih, pakaian bersih dan rapi, wajah sudah cantik kinclong, menu lebaran sudah tersaji berbagai macam, tamupun sudah datang untuk bersalaman. Hanya gara gara hatinya yang belum bersih, maka hilang semua kecantikan pada dirinya dan keindahan pada rumahnya. Karena hati yang suci terpancar pada wajah yang cantik, manis dan ceria. Sebaliknya, jika hati masih kelabu akan nampak pada wajah yang tidak menarik dan tidak ramah. 

Hati sebagai remod kontrol dalam aktifitas manusia, karena ia sangat menentukan baik buruknya prilaku seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila ia baik maka baik seluruh tubuhnya. Dan apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”.(HR. Bukhari dan Muslim). 

Maka dari itu, saat bersih bersih persiapan lebaran, jangan lupa membersihkan hati. Hati itu laksana kaca, apabila jarang dibersihkan maka debu yang menempel akan semakin tebal dan akan susah untuk dibersihkan, sehingga cahaya sulit masuk ke dalam. Tetapi jika sering dibersihkan maka ia akan selalu bening, dan cahaya Ilahi akan mudah masuk ke dalam dirinya. Sebagaimana sabda Rasulullah, 
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat, niscaya nota itu akan dihapus. Jika kembali lagi berbuat dosa, niscaya noda noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan seluruh hatinya”.(HR. Tirmizi). 

Untuk membersihkan hati agar bisa sebening kaca, maka ambil ibrah dari kaca. Jangan biarkan hati berkarat seperti kaca yang tidak pernah dibersihkan dan sangat sulit untuk dibersihkan kembali. Hati harus diberikan perhatian khusus, ia selalu dibersihkan agar cahaya mudah masuk. Dan harus selalu disirami agar ia menjadi lemban dan  lunak, kalau jarang disirami maka ia akan menjadi hati yang keras bagaikan batu, bahkan lebih keras dari pada batu. Jika kaca selalu dibersihkan dengan menggunakan cling pembersih kaca, maka hati harus dibersihkan setiap hari dengan membaca Al-Quran, beristighfar dan zikir. Hati yang bersih selalu merindukan Al-Quran dan tidak pernah puas membacanya. Hati yang bening senatiasa selalu berzikir dan beristighfar. Zikir bagi hati bagaikan air bagi ikan. Jika ikan dikeluarkan dari air tentu dia akan sekarat dan akhirnya mati. Begitu juga hati, jika jauh dari zikir maka ia akan mati (qalbun mayyit). 

Hati yang bersih adalah hati yang jauh dari rasa hasad, iri dan dengki. Ia selalu mencintai sesama, tidak ada perasaan zhan kepada orang lain. Tidak akan cemburu ketika Allah memberikan nikmat kepada saudaranya. Apalagi menjelang lebaran, barangkali persiapannya akan jauh berbeda dengan rumah kita. Orang lain menyambut lebaran dengan serba baru dan mewah, sementara kita tidak mampu, maka tidak perlu cemburu. Karena tidak semua yang baru itu menyenangkan. Andai suami kita mengantikan semua perabot rumah saat menjelang lebaran dengan perabot baru, mobil juga baru untuk menyenangkan hati istrinya, apakah istrinya juga akan merasa senang jika suaminya juga mebawa pulang istri baru saat lebaran, tentu saja tidak. Oleh karena itu tidak perlu cemburu terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. 

Perlu kita ingat bahwa Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kita, mulus tanpa jerawat, putih bersih dan kinclong karena baru saja keluar dari salon, apalagi sudah disuntik vitamin C. Allah juga tidak melihat kepada harta kita yang banyak. Lebaran dengan rumah sudah dicat yang baru. Karena uang banyak maka semua perabot diganti yang baru. Tetapi Allah melihat kepada hati kita, karena hati memiliki kedudukan dan peranan penting. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW. 

‎إنَّ اللَّهَ لاَيَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta harta kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.”( HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah). 

Allah hanya melihat hati dan amal kita, karena amalan juga sangat ditentukan oleh hati. Di hati itulah bersemanyamnya keimanan kepada Allah dan tempatnya segala keikhlasan dalam beribadah, baik yang berhubungan langsung dengan Allah, maupun hubungannya dengan hamba Allah. Di hati juga tempat berseminya segala perasaan cinta, ikhlas dan sebagainya. 

Ada doa khusus memohon kepada Allah agar diberikan hati yang baik. 

‎يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Ya Allah, yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu”. ( HR. Tirmizi). 

Kita mohon agar Allah memberikan kita qalbun salim. Hati yang bersih ialah hati yang selamat. Yang dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara ketaatan dan kemaksiatan. Hati yang selalu peka ketika ada virus penyakit yang mengganggu diri kita. Jika hati tidak bersih maka ia tidak bisa merasakan racun dosa sudah menyerang dirinya. Jika ini dibiarkan dan tidak segera diobati maka hatinya akan mengalami penyakit kronis yang menyebabkan hatinya menjadi mati. Ini merupakan bahaya besar. Untuk itu, sebelum penyakit hatinya bertambah parah, maka harus dilakukan terapi secara kontinyu dengan perbanyak istighfar kepada Allah. Obat yang paling mujarab untuk penyakit hati adalah zikir kepada Allah, karena zikir dapat menenangkan hati. 

Alhamdulillah kita memasuki idul fitri dengan wajah penuh gembira dan ceria, hati kita sudah dibersihkan dari segala noda dan dosa. Dengan melaksanakan puasa dan menghidupkan Ramadhan dengan ibadah ibadah sunnah, serta ibadah di malam lailatul qadar, semua dikerjakan dengan penuh keimanan dan hanya mengharap pahala dari Allah, niscaya Allah mengampuni dosa dosa kita. Semoga memasuki idul fitri, Allah menerima semua amal ibadah kita, agar kita menjadi hamba yang muttaqin, hamba yang fitri (suci) sebagaimana bayi yang baru lahir dari rahim ibunya
SHARE :
 
Top