Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

Ilustrasi
Muhasabah 5 Safar 1441
Saudaraku, yang namanya obat pasti rasanya tidak enak, atau bahkan pahit; dan juga bisa jadi mahal. Meskipun tidak enak, yang namanya obat akan tetap dikonsumsi oleh banyak orang, apalagi sedang sakit, karena dengannya menjadi di antara wasilah dan jalan bagi Allah mengangkat penyakitnya dan menganugrahi kesembuhan segera. Meskipun mahal, yang namanya obat juga akan tetap diburu di manapun, karena keluarga yang sakit sudah menunggu-nunggu.

Begitulah kira-kira hajad manusia terhadap obat; ia dicari, diupayakan, dan dikonsumsi dengan tujuan sehat kembali atau lebih kuat lagi atau lebih awet muda.

Nah bila obat untuk kesehatan fisik dan kebugaran badan dihajadkan begitu rupa, ideanya begitu juga dengan obat hati agar sehat mentalnya, jernih jiwanya, cemerlang pikirannya dan suci hatinya. Apalagi inti obat hati itu adalah iman yang siapapun boleh menikmati rasa manisnya; obat hati tidak pahit kecuali bagi yang mengingkarinya.

Obat hati bahkan menjadi sangat penting bagi setiap diri, apalagi saat hati sakit. Karena, hati yang sakit bila tidak segera diobati lama kelamaan bukan saja menjadi akut sakitnya, tetapi hatinya bisa mati, niscaya tidak akan bisa menerima hidayah lagi.

Seandainyapun obat hati terasa pahit, atau jalannya pakai dioperasi tentu menyakitkan tetapi tetap harus "dikonsumsi dan dijalani", karena dengannya menjadi di antara instrumen untuk menjemput hidayah Ilahi, sehingga hati sehat kembali.

Di antara penyakit hati yang lazim diingatkan oleh para ulama adalah takabur atau sombong, ujub, riya, sum'ah, iri hati, dengki, kerit sehingga malas besedekah, panjang angan-angan, terlalu mengejar dunia, meninggalkan shalat, lalai untuk berdzikir karena sibuk dengan dunia, dan kurang bersyukur terhadap karunia Allah yang ada. 

Tentu, stadium dari penyakit hati di atas bisa berbeda-beda sejak yang ringan sampai yang berat. Demikian juga akan berpengaruh terhadap jenis obat dan dosisnya; bila dioperasipun bisa sejak yang ringan hingga operasi besar.

Dalam iman Islam, seluruh ibadah yang disyariatkan oleh Allah atas manusia, adalah instrumen atau wasilah untuk membersihjan/mensucikan hati sehingga hati tidak sakit. Untuk menambahi dosisnya, oleh para ulama kemudian ada yang membuat senandung obat hati itu ada lima, yaitu membaca Qur'an beserta maknanya, mendawamkan shalat malam, bergaul dengan orang-orang shaleh, membiasakan puasa (termasuk yang puasa sunnah), dan memperbanyak dzikir.

Ketika mampu dan sukses menjaga kesehatan baik fisik maupun apalagi phikhis, sehingga kondisinya menjadi sehat wa afiat dan ketika sakit mau berobat dan bertaubat, maka sudah selayaknya kita mensyukurinya baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini sepenuhnya bahwa rasa sakit atau mengidap penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit hati, harus segera diobati sesuai dosisnya bila perlu dioperasi dibersihkan agar tak menjangkiti diri. 

Kedua, mensyukuri di lisan dengan senantiasa memujiNya seraya memperbanyak mengucapkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Dengan memujiNya, semoga Allah memudahkan segala urusan kita, termasuk dalam mengobati penyakit fisik maupun penyakit hati.

Ketiga, mensyukuri dengan perilaku konkret yaitu berobat saat sakit fisik agar sehat kembali dan bertaubat saat sakit hati agar menggapai ridha ilahiy.

Sehubungan dengan tema muhasabah hari ini, maka dzikir pengkodisian hati penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan lafal ya Allah ya 'Aalim ya Razzaq ya Wahhab ya Mu'id ya Salam. Ya Allah zat yang maha mengetahui, maha mengaruniai rezeki, maha mengembalikan kesehatan dan maha menyelamatkan, tunjuki kami dengan hidayahMu ya Mujibassailin.
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top