Loading...

Oleh Sri Suyanta Harsa

sumber ilustrasi: thegorbalsia
Muhasabah 27 Jumadil Tsani 1441
Saudaraku, setelah kita mentadaburi beragam realitas makhluk hidup, benda mati dan makhluk ghaib dalam serangkaian muhasabah yang lama, dapat ditegaskan bahwa masing-masing entitas hanya mewakili dan memiliki sifat yang secara otomatis melekat pada dirinya saja. Misalnya binatang, ya hanya akan memiliki sifat kebinatangan saja. Bebatuan secara otomatis hanya akan memiliki sifat bebatuan saja. Tumbuh-tumbuhan hanya akan memiliki sifat tetumbuhan saja. Setan hanya akan secara otomatis memiliki sifat kesetanan ssja, dan malaikat hanya bisa memiliki sifat kemalaikatan saja. Lha, manusia? Lebih dari ini, ia mengakumulasi dan menampungi.

Karena manusia diciptakan oleh Allah dari unsur tanah dari bumi yang rendah dan unsur ruh yang berasal dari Allah yang maha tinggi, maka manusia bisa menampungi seluruh sifat makhluk yang ada di alam semesta, baik sifat makhluk yang ada di bumi maupun makhluk yang ada di langit. Manusia bisa menjadi rendah serendah-rendahnya melebihi binatsng ternak (7:179) tetapi juga bisa menjadi tinggi setinggi-tingginya baagsi malaikat turun ke bumi atau di antara keduanya yang beragam; manusia berpotensi menjadi hina sehina-hinanya, tetapi juga bisa mulia semulia-mulianya atau di antara keduanya;

Unsur tanah karena berat, maka hanya akan memberati atau menarik manusia ke bawah, sehingga tersungkur ke tanah. Terbukti manusia melakukan hal-hal rendahan seperti melanggar aturan, dan berbuat maksiat. Sebaliknya unsur ruh itu dari Rabb yang maha tinggi, maka akan menarik manusia ke maqam yang tinggi dan mulia, sehingga ringan melakukan hal-hal yang baik, seperti terus mengabdi pada Ilahi, ringan berbagi kemanfatan pada sessmadan memakmurkan bumi.

Tipe manusia yang hatinya lebih  condong ke tanah, akan mewujud dalam.anela rupa seperti "manusia batu", "manusia hewan ternak", "manusia binatang buas", manusia serigala, manusia singa, manusia buaya, manusia kera, manusia babi ngepet, manusia ular, manusia berbulu domba, dan manusia iblis atau setan manusia. Adapun tipe manusia yang hatinya bersih cenderung melangit, maka mewujud seperti manusia laksana malaikat turun di bumi.

Inilah mengapa manusia mesti jihad memenangkan tarikan ke langit. Artinya secara ideal manusia mestinya selalu memenangkan tarikan ke langit, nilai-nilai spiritualitas dan akhlakul karimah. Namun karena kehidupan di dunia ini, tidak bisa dielakkan dari kepentingan jasadiyah, maka manusia kemudian menjadi satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang paling unik. Terdapat ajaran jihad, sehingga dinamis. 

Pertama, meskipun pada dasarnya membawa fitrah yang suci dan baik, namun tetap saja manusia berpotensi kotor dan menjadi tidak baik (perangainya). Jadi manusia bisa tetap baik dan bisa menjadi jahat. Kedua, meskipun pada masa primordialnya telah berjanji dan mengakui akan keesaan Allah semata, namun tetap saja manusia berkemungkinan menjadi penganut politheisme atau bahkan mengingkari keberadaan Rabbnya. Jadi manusia bisa tetap Islam, tapi bisa yang lainnya. Ketiga, dalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang berisi pujian terhadap manusia, namun di tempat yang berbeda juga terdapat celaan atasnya. Jadi manusia bisa dipuji tapi juga bisa dicela. Keempat, jagad raya seisinya ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, tetapi tidak sebaliknya. Di sini manusia dicipta untuk mengabdi pada Rabbnya. Kelima, manusia berpeluang memiliki dan merefleksikan sifat-sifat dari makhluk-makhluk yang ada. Ada yang mampu meneladani sifatnya Allah, meskipun tidak akan pernah bisa menyamaiNya. Ia akan tampil menjadi pemaaf, pelindung, pemberi, penyemangat, pengayom dst. Ada manusia yang bersifat seperti malaikat yang menginspirasi dan mengilhani kebajikan. Namun ada juga di antara manusia yang memiliki sifat batu-batuan, atau sifat tetumbuhan, dan yang lain bersifat seperti binatang, bahkan ada yang berperilaku seperti setan.

Ketika jihad internal berhasil memenangkan kebaikan dan menundukkan kemaksiatan, maka semestinya kita mensyukurinya. Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa hanya dengan kasih sayang Allah dan hidayahNya saja kita dapat memenangkan untuk memenuhi tuntutan kemuliaan seraya menghindari tarikan pada kemaksiatan. Kedua, mesnsyukuri di lisan seraya melafalkan alhamdu lillahi rabbil 'alamin, semoga Allah menganugrahkan kekuatan kepada kita sehingga berdaya upaya menjadi lebih manusiawi yang mampu mengabdi. Ketiga, mensyukuri dengan langkah konkret, yakni menjadi manusia yang manusiawi, sebagai khalifah di bumi yang terus mengabdi pada Ilahi dan memakmurkan bumi.

Maka dzikir pengkodisian hati dan penyejuk kalbu guna menjemput hidayahNya adalah membasahi lisan dengan ya Allah ya Rahman ya Rahiim ya Allah zat yang maha prngasih, zat yang maha penyayang, tunjukilah kami jalan untuk meraih ridhaMu ya Rabb.
SHARE :

0 facebook:

Post a Comment

 
Top